OPINI: Wajah Baru Museum Kita



Rabu, 19 Mei 2021 - 12:17:45 WIB



Asyhadi Mufsi Sadzali
Asyhadi Mufsi Sadzali

Wajah Baru Museum Kita

Oleh: Asyhadi Mufsi Sadzali

Wajah dunia tengah berubah, tidak hanya bentang geomorfologis, namun juga pada gerak aktifitas manusia. Perubahan memang bukan kali pertama, sejarah mencatat bahwa bencana alam, perang, dan wabah global kerap menjadi pertanda sekaligus pemicu dimulainya babak baru suatu peradaban, yang kini kita kenal “Kebiasaan Baru”. Para pakar menganalisa, disamping revolusi industri yang beralih dari 3.0 ke 4.0, pandemi covid-19 juga dianggap sebagai pemicu utama perubahan dunia, yang ternyata berdampak pada eksistensi dan arah masa depan museum sebagai media pembelajaran keratif di zaman modern.

Pandemi Covid-19 telah berlangsung selama dua tahun, dan efeknya tidak sekedar meruntuhkan pilar perekonomian, juga membatasi manusia dalam segala gerak termasuk aktifitas berkunjung ke museum. Fenomana ini terjadi tidak hanya di Jambi, namun diseluruh dunia, bahkan beberapa kali museum sempat tutup sementara karena wabah pandemi yang tengah bergejolak. Kini di bulan Mei dunia tengah merayakan hari museum internasional, yang momentumnya diperingatai pada tanggal 18 Mei, dan oleh International Council of Museum tema yang diangkat adalah “The Future of Museum: Recover and Reimagine”, boleh dikatakan sebuah kontemplasi sekaligus pertanyaan penting untuk kita, bagaimana upaya kita untuk memulihkan dan membangun image atau wajah baru museum dimata masyarakat terutama di era “Kebiasaan Baru” saat ini.

  Membicarakan museum itu sejatinya sangat menarik. Ada sebuah anekdot, bahwa kebanyakan orang hanya dua kali berkunjung ke museum semasa hidupnya, yang pertama kunjungan pada saat SD bersama romobongan sekolah, dan yang kedua mengnjungi museum saat membawa cucu. Anekdot ini tentunya lahir dari fenomena yang ada ditengah-tengah masyarakat kita yang belum menjadikan museum sebagai tempat penting untuk mengenal dan belajar tentang budaya dan pengetahuan lokal yang kaya nilai philosofis dan nilai praktis. Tak bisa dipungkuri banyak masyaakat belum familiar dengan museum, dan tidak memahami funsgi museum yang sebanarnya.

Hasil riset terkait respon pengunjung, misal penelitian Asyhadi Mufsi Sadzali (2017) berjudul “Mengingat dan Melupakan; Museum Kapal Samuderaraksa Sebagai Ruang Konservasi Kreatif Budaya Maritim”, mengungkap bahwa walau banyak masyarakat yang belum mengenal museum, namun pada kenyataannya museum bukanlah hal baru bagi bangsa Indoensia, bahkan Rumphius, antropolog sekaligus ahli botani telah mendirikan museum di Ambon pada tahun 1662 M, yang dikenal dengan ‘De Amboneshe Rariteitkamer’, bahkan S.T Ali Sjahbana dalam tulisan nya terbit tahun 1954 menyatakan museum meruapakan alat pendidikan zaman modern yang paling efektif dan menyenangkan, kerana sifatnya yang senantiasa menyesuiakan diri dengan perkembangan dunia modern itu sendiri. Termasuklah saat ini era “Kebiasaan Baru”.

Museum Siginjai sendiri telah diressmikan sejak 6 Juni tahun 1988, artinya telah 33 tahun masyaakat Jambi memiliki museum yang kaya akan koleksi luar biasa hasil peradaban masyarakat Jambi dari masa prasejarah hingga masa kini. Di Indoensia, jumlah museum sebanyak 435 museum, baik yang dikelola oleh lembaga pemerintah maupun swasta. Boleh dikatakan hampir disetiap wilayah provinsi dan bahkan beberapa kabupaten memiliki museum nya masing-masing. Provinsi Jambi sendiri selain museum Siginjai, juga terdapat Museum Perjuangan Rakyat Jambi, dan Museum Gentala Arsyi, bahkan beberapa Kabupaten semisal merangin dan Kerinci jua memiliki museum.

Selain jumlah yang banyak, serta pengelolaan langsung dibawah pemerintah menunjukkan fungsi dan peran museum sangat penting. Lalu muncul pertanyaan, “kenapa museum penting?”. Kita coba menengok petuah seloko adat Jambi “Bercermin pada air yang jernih” artinya untuk menapaki masa kini dan menyongsong masa depan yang lebih baik, sebaiknya belajar dari masa lalu, melalui wadah dan media yang mampu memberikan informasi benar, dan fakta nyata yang pernah ada dan diwariskan leluhur kepada kita, yakni benda-benda budaya yang dilestraikan dalam museum, serta dikomunikasikan dengan kreatif dan inovatif.

Lantas bagaimana tangapan masyarakat Jambi dengan museum kita? Merujuk kepda hasil penelitian Skripsi M. Indra Eftritianto (2019), bertajuk “Pemanfaatan Museum Siginjai Provinsi Jambi Sebagai Daya Tarik Wisata”, menunjukkan bahwa aspek kepuasaan pengunjung mencapai 75 persen, sedangkan aspek pelayanan dan keamanan mencapai 67 persen. Poin lain yakni dianggap pengembangan inovasi dan cara mengkomunikasikan koleksi hendaknya lebih inovatif, menarik serta mengandung pengetahuan baru, tidak terpatok sebatas deskripsi bentuk, lokasi dan tahun penemuan objek. Hal ini berdampak pada pada tingkat ekspektasi dan jumlah pengunjung museum. Hal menarik pengunjung yakni adanya ruang audiovisual serta keberadaan koleksi masterpiece berupa arca logam Avalokiteswara, Medali Turki, dan replika Keris Siginjai mampu memikat pengunjung untuk datang ke museum Siginjai.

Koleksi museum dengan jumlah melimpah (bahkan museum Siginjai mencapai 3.379 koleksi) dengan nilai penting dan daya tarik luar biasa telah menjadi modal utama museum di Jambi untuk menjalankan fungsi dan peranya sebagai media edukasi dan pemajuan kebudayaan daerah. Sekalipun dalam kondisi pandemic dan era “Kebiasaan Baru” yang menuntut pengunjung harus menerapkan protocol kesehatan saat mengunjungi museum, target capaian visi misi museum masih dapat diupayakan, tentunya dengan pengembangan kreatifitas, inovasi serta mengadaptasi cara berkomunikasi baru koleksi museum dengan pengunjung. Hal ini juga yang diterapkan di mueum Tropen Belanda, British Museum, dan baru-baru ini Museum Nasional Korea Selatan, yakni penerapan teknologi digital salah satunya teknologi V.R atau Virtual Realty.

V.R pada dasarnya teknologi yang mampu menghadirkan museum besreta koleksi di dalamnya secara virtual dengan sudut pandang mencapai 360 derajat. Artinya kita bisa menyaksikan seluruh isi museum Siginjai secara detail hanya dengan duduk manis dirumah sambil ngemil kue lebaran, yang realitasnya bahkan seoalah-olah kita berada didalam museum. Tidak hanya visual yang ditawarkan juga lengkap dnegan audionya, baik narasi kurator yang menceritakan sisi menarik koleksi, namun juga efek sound yang menambah suasana narasi lebih senasional.

Bak kata pepatah lama “Tiada gading yang tak retak”, pun demikian dengan teknologi, tidak sepunuhnya sempurna, terasa seperti aslinya kita berkunjung langsung ke museum, dimana kita bisa mencium aroma, ada unsur suhu, dan lainnya. Namun wajah baru dunia ditengah pandemi bukan berarti kita harus mengalah dan menghentikan langkah mewujdukan cita-cita museum sebagai media pembelajaran edukatif yang menghibur untuk mewudkan bangsa yang mengenal dan mencintai budayanya. Selamat Hari Museuum, Museum di Hatiku.

Asyhadi Mufsi Sadzali; Arkeolog dan Akademisi Universitas Jambi.

 

 

 





Artikel Rekomendasi