Strategi Baru UNJA: Mengubah Peran Dosen PA Demi Selamatkan Mental dan Studi Mahasiswa



Selasa, 09 Juni 2026 - 22:27:28 WIB



Foto : Workshop Strategi Pembimbingan Akademik (PA) yang Suportif untuk Meningkatkan Kesejahteraan Psikologis dan Keberhasilan Studi Mahasiswa UNJA Tahun 2026 di Gedung UNIFAC Lantai 1 Kampus UNJA Mendalo, Selasa (09/06/2026).
Foto : Workshop Strategi Pembimbingan Akademik (PA) yang Suportif untuk Meningkatkan Kesejahteraan Psikologis dan Keberhasilan Studi Mahasiswa UNJA Tahun 2026 di Gedung UNIFAC Lantai 1 Kampus UNJA Mendalo, Selasa (09/06/2026).

JAMBERITA.COM - Selama ini banyak yang mengira bahwa tugas Dosen Pembimbing Akademik (PA) hanyalah sekadar menyetujui KRS atau mengecek nilai indeks prestasi (IPK) mahasiswa di akhir semester. Namun, benarkah sistem digital saat ini justru membuat hubungan antara dosen dan mahasiswa menjadi "dingin" dan formalitas belaka?

Fakta mengejutkan ini dikupas tuntas dalam Workshop Strategi Pembimbingan Akademik (PA) yang Suportif yang digelar oleh Unit Penunjang Akademik (UPA) Bimbingan Konseling (BK) Universitas Jambi (UNJA). Acara yang berlangsung di Gedung UNIFAC Lantai 1 Kampus UNJA Mendalo pada Selasa (09/06/2026) ini menjadi tamparan sekaligus inspirasi baru bagi dunia akademik.

Wakil Rektor Bidang Akademik UNJA, Prof. Dr. Hafrida, S.H., M.H., saat membuka acara secara blak-blakan menyoroti fenomena pergeseran peran dosen PA di era digital. Menurutnya, kecanggihan teknologi justru menjebak komunikasi menjadi kaku dan administratif.

“Ada perubahan yang mendasar. Bukan karena ketidakpedulian kita sebagai dosen PA, tetapi komunikasi kita lebih banyak dilakukan by system. Akhirnya, sentuhan emosional antara dosen PA dan mahasiswa bimbingan menjadi sangat berkurang. Komunikasi kita menjadi sangat berbatas,” ungkap Prof. Hafrida jujur.

Beliau mengingatkan bahwa kesuksesan mahasiswa tidak boleh hanya diukur dari angka di atas kertas atau fasilitas materi. Mental yang sehat (psychological well-being) jauh lebih krusial untuk masa depan mereka. Dosen PA masa kini tidak boleh lagi bersikap otoriter, melainkan harus hadir sebagai penyeimbang kehidupan akademis dan psikologis mahasiswa.

Mengapa isu ini mendadak jadi sorotan utama di UNJA? Kepala UPA BK UNJA, M. Ferdiansyah, M.Pd., Kons., mengungkapkan bahwa workshop ini bukan agenda teoritis belaka, melainkan lahir dari hasil screening nyata terhadap kondisi psikologis mahasiswa UNJA serta tumpukan curhatan yang selama ini terpendam.

Berdasarkan pengalaman Ferdiansyah selama 9 tahun menjabat sebagai Ketua Program Studi, akar masalah dari banyak kegagalan studi mahasiswa ternyata bermuara pada satu hal: miskomunikasi ekstrem antara dosen dan mahasiswa.

“Dari hasil screening-nya, kami mengolah angket dan ternyata kegiatan ini sangat penting... Banyak sekali curhatan mahasiswa. Setelah dianalisis, ternyata banyak miskomunikasi antara dosen dan mahasiswa,” jelasnya.

Demi memutus rantai miskomunikasi tersebut, UPA BK UNJA tidak main-main. Mereka menghadirkan pakar tingkat nasional, Guru Besar Universitas Negeri Padang (UNP), Prof. Ifdil, S.HI., S.Pd., M.Pd., Ph.D., Kons., untuk membedah strategi pembimbingan yang suportif.

Dihadiri oleh perwakilan dosen lintas fakultas dengan penuh antusias, workshop ini diharapkan menjadi titik balik. Dosen PA di UNJA kini dibekali dengan kapasitas dan kepekaan emosional yang lebih tinggi.

Langkah proaktif ini membuktikan bahwa Universitas Jambi tidak hanya fokus mencetak lulusan yang cerdas secara intelektual, tetapi juga melahirkan generasi yang tangguh secara mental. Kuliah bukan lagi soal bertahan hidup di tengah tekanan, melainkan ruang aman untuk bertumbuh bersama mentor yang peduli.(afm)

Sumber : www.unja.ac.id





Artikel Rekomendasi