Kepsek Titian Teras Jambi Benarkan Dugaan Pengeroyokan, 5 Siswa Dskors



Selasa, 06 Oktober 2026 - 18:57:51 WIB



Foto : Kepala SMAN Titian Teras Jambi Hendri Yulianto/JMB.
Foto : Kepala SMAN Titian Teras Jambi Hendri Yulianto/JMB.

JAMBERITA.COM - Kepala SMAN Titian Teras Abdurrahman Sayoeti, Hendri Yulianto, akhirnya angkat bicara terkait dugaan pengeroyokan terhadap seorang siswa di lingkungan sekolah milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jambi tersebut.

Hendri membenarkan adanya peristiwa kekerasan yang melibatkan sejumlah siswa. Pihak sekolah juga telah melakukan mediasi dan mengambil tindakan terhadap siswa yang diduga terlibat.

“Proses mediasinya sudah kita buat jalannya dan anak (korban) mengundurkan diri pindah ke sekolah Sungai Penuh. Pelaku kini dilakukan skorsing sampai dengan persoalan ini selesai,” kata Yulianto kepada jamberita.com, Selasa (6/10/2026).

Menurut Yulianto, pihak sekolah sebelumnya telah melakukan upaya mediasi dengan mempertemukan pihak-pihak terkait, termasuk membahas hasil pemeriksaan medis atau visum terhadap telinga korban yang telah diketahui pihak sekolah.

“Mereka sudah mediasi, tapi kita tidak tahu kalau hari ini mencuat ke media,” ujarnya.

Ia mengatakan, keputusan korban untuk meninggalkan SMAN Titian Teras dan pindah sekolah dilakukan atas permintaan korban sendiri. “Pelakunya diskors. Kalau masalah ini belum selesai maka sampai dengan tamat mereka terus diskors,” jelasnya.

Yulianto menegaskan pihak sekolah tidak membenarkan tindakan yang dapat merugikan siswa, terlebih jika terbukti terjadi pengeroyokan.

“Pelanggaran berat itu,” tegasnya.

Menurut Yulianto, terdapat lima siswa yang disebut terlibat dalam peristiwa tersebut. Mereka merupakan kakak kelas korban.

Berdasarkan keterangan yang disampaikan para siswa kepada pihak sekolah, awalnya mereka mengaku hanya ingin memberikan pembinaan kepada adik kelas.

“Menurut pengakuan pelaku kepada saya ketika ditanya, hanya ingin mengajari adik kelasnya,” kata Yulianto.

Namun, pihak sekolah kemudian menemukan adanya perbedaan keterangan setelah para siswa tersebut didudukkan bersama orang tua atau wali.

“Tapi kok begitu, di situ juga kita sesalkan. Awalnya hanya mengaku cuma nampar-nampar dikit. Tapi setelah didudukkan bersama orang tua wali, baru mereka mengaku,” ujarnya.

Yulianto menyebut, berdasarkan hasil klarifikasi tersebut, dua siswa disebut sebagai pihak yang melakukan kekerasan, sementara tiga siswa lainnya berada di dalam kamar asrama dan disebut hanya melihat kejadian.

“Pelaku yang sebenarnya itu dua orang, tapi tiga orangnya lagi kebetulan dalam kamar asrama, hanya melihat,” tegasnya.

Terkait proses hukum, Yulianto membenarkan bahwa korban telah melaporkan kejadian tersebut ke kepolisian.

“Iya, korban melapor ke Polsek. Kita belum ada diminta keterangan dari polisi, tapi kami sudah tahu info kalau dilaporkan ke polisi,” ungkapnya.

Ia mengatakan pihak sekolah menghormati langkah hukum yang ditempuh korban dan tidak akan melakukan intervensi terhadap proses tersebut.

Setelah dugaan pengeroyokan tersebut mencuat, Yulianto mengaku telah mendapat komunikasi dari Dinas Pendidikan Provinsi Jambi untuk memberikan penjelasan mengenai peristiwa tersebut.

“InsyaAllah besok tim Disdik turun ke sekolah,” jelasnya.

Tim dari Dinas Pendidikan Provinsi Jambi melalui bidang SMA nantinya akan melakukan penelusuran lebih lanjut untuk mengetahui secara menyeluruh duduk perkara dugaan pengeroyokan tersebut.

Tidak hanya siswa, evaluasi juga berpotensi menyasar pihak sekolah apabila dalam pemeriksaan ditemukan adanya kelalaian dalam pengawasan terhadap siswa.

Apabila ditemukan kelalaian, sanksi juga tidak menutup kemungkinan diberikan kepada pihak yang memiliki tanggung jawab dalam pengawasan, termasuk kepala sekolah maupun wali asrama.

Penanganan internal sekolah tersebut kini berjalan beriringan dengan proses hukum yang disebut telah ditempuh korban melalui kepolisian.(afm)





Artikel Rekomendasi