Oleh : Musri Nauli
JAMBERITA.COM - Semua berawal dari selembar undangan diaital vang masuk ke ponselku. Di bagian atasnya terpampang foto seorang perempuan mengenakan toga dan topi akademik, dengan senyum khas yang meneduhkan. Nama besar tercetak tebal: Prof. Dr. Hartati, S.H. M.H. Undangan itu mengabarkan sebuah momen sakral: Penqukuhan Guru Besar Universitas Jambi di bidang Hukum Administrasi Negara, yang akan digelar pada 12 Oktober 2026.
Membaca undangan itu, ingatanku serta-merta melayang jauh ke belakang, tepatnya 36 tahun yang lalu. Saat itu, aku dan Hartati--atau yang akrab kupanggi Tati--berada di ruang kuliah yang sama. Dia adalah adik tingkat setahun dariku. Sosoknya kecil, tetapi jejak langkahnya di kampus tidak pernah bisa dianggap kecil.
Sebagai senior, masa kuliahku sebenarnya sering macet. Maklum saja, energiku Iebih banyak tersedot ke kegiatan di luar kelas. Ada Mapala yang menuntut ekspedisi, touring naik motor menembus rute panjang hanya untuk menonton pertandingan roadcross di Lubuklinggau atau di Bukittinggi. Belum lagi kesibukan ikut demonstrasi dan rapat-rapat organisasi yang tak ada habisnya. Akibatnya, jadwal kuliahku berantakan dan aku harus mengambil beberapa mata kuliah di angkatan bawah. Di titik terendah itulah, aku berjumpa kembali dengan Tati di ruang kelas yang berbeda.
Dari interaksi di kelas itulah aku mulai mengenal sosoknya yang sesungguhnya. Ada perempuan kecil yang pintar, tetapi hatinya luar biasa baik. Di tengah kekacauan jadwal kuliahku, dia adalah pengingat yang setia. "Bang, jangan lupa Daftar KRS," katanya ramah suatu hari, mengingatkanku akan kewajïban administrasi yang hampir saja kulupakan. Bukan hanya mengingatkan, dia juga kerap rela berbagi catatan dan tugas ketika aku benar-benar tidak bisa hadir karena tenggelam dalam berbagai kegiatan.
Aku benar-benar terbantu oleh kebaikannya. Bagiku, kepintaran, keramahan, dan kebaikan hatinya bukanlah tiga hal yang terpisah. Itulah ilmunya. Dan aku percaya, karakter itulah yang kemudian menjadi berkah dalam perjalanan kariernya.
Tentu saja, dengan kepintaran yang dimilikinya, Tati melesat cepat menyelesaikan studinya. Dia jauh meninggalkanku yang saat itu masih asyik dengan urusan demonstrasi dan menghadiri berbagai pertemuan. Sementara aku masih berjuang mengejar ketertinggalan, dia sudah melangkah mantap ke dunia profesi.
Setelah aku akhirnya menyelesaikan kuliah, kabar tentang Tati sampai kepadaku secara samar-samar. Namanya sering disebut-sebut terlibat sebagai tenaga ahli dalam berbagai kajian hukum. Dia juga mulai sering tampil sebagai pemateri atau pembicara di berbagai forum ilmiah. Reputasinya sebagai akademisi yang cerdas mulai terbentuk, jauh sebelum gelar protesor disematkan padanya
Pertemuan terakhir kami terjadi di Pengadilan. Waktu itu, kebetulan Tati dihadirkan sebagai ahli dalam sebuah perkara perdata. Melihatnya berdiri di ruang sidang, menjelaskan argumen hukum dengan iernih dan taiam, aku tersenyum dalam hati Dia masih perempuan kecil yang sama, tetapi auranya kini berbeda-penuh wibawa dan kematangan intelektual.
Usai sidang, kami sempat berbincang singkat. Aku menyapanya dan bertanya, "Kapan dikukuhkan meniadi guru besar, Tati?" Dia hanya tersenyum simpul, khas senyumnya yang dulu. "Tidak lama lagi, bang, jawabnya singkat.
Dan benar saja. Ketika aku mendapatkan undangan pengukuhan guru besarnya hari ini, aku pun tersenyum. Ada rasa haru dan bangga sebagai seorang kawan lama. Dalam hati aku bergumam, "Memang pantas. Selain pintar, ramah, Tati juga suka membantu orang.'
Kepada sahabatku, Prof. Dr. Hartati, S.H., M.H., aku mengucapkan selamat atas pengukuhan ini. Gelar Guru Besar di bidang Hukum Administrasi Negara adalah mahkota dari kerja keras puluhan tahun. Semoga ilmumu menjadi berkah, dan tetaplah membumi. Teruslah menyebarkan ilmu kepada para pencari keadilan, sebagaimana engkau dulu pernah menuntun seorang senior yang tersesat dalam jadwal kuliahnya.
Penulis : Advokat, Tinggal di Jambi.
Kalau Pemerintah Mau Didengar Gen Z, Jangan Cuma Pakai Bahasa Birokrasi
Kolom Komentar: Tempat Baru Rakyat Mengadu kepada Pemerintah
Pemerintah Tidak Kekurangan Informasi, tetapi Masih Perlu Memperkuat Komunikasi Publik
Jambi, Negeri yang Belajar Hidup Bersama Asap: Dari Politik Pemadaman ke Kebijakan Pencegahan
Makin Hemat, Honda BeAT Tawarkan Hemat Angsuran hingga Rp2,2 Jutaan dan Diskon Angsuran Rp64 Ribu pe
