JAMBERITA.COM- Pra Festival Media (Fesmed) Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) menggelar Healt end Nutrition Workshop Jurnalis (HNJW) se Indonesia di lantai II Aston Hotel Kota Jambi, Provinsi Jambi.
Kegiatan berlangsung selama 2 hari, Kamis/Jum'at (14-15/11/2019). Dimana penyelenggara menghadirkan beberapa pemateri, Dinas Kesehatan Provinsi Jambi, Sekjen KPI, Kepala Bappeda Provinsi Jambi dan Direktur SPEAK Indonesia Wiwit Heris Mandari.
SPEAK Indonesia adalah lembaga yang bergerak dibidang strategi komunikasi dan advokasi peningkatan kapasitas institusi dan pemberdayaan masyarakat.
Wiwit memaparkan begitu pentingnya air bersih bagi kesehatan yang diharapakan para pewarta/wi dari berbagai daerah di Indonesia yang mengikuti Workshop tersebut untuk dapat mendobrak inovasi serta keperdulian bersama.
"Air minum dan sanitasi adalah hak dasar manusia dan merupakan kebutuhan dasar, termasuk dampaknya terhadap gizi anak. Air minum dan sanitasi ditangani oleh berbagai pelaku pemerintah dan non-pemerintah," ujarnya.
Selanjutnya Wiwit memberikan gambaran dalam suatu video terkait dengan kondisi air bersih dan sanitasi di Indonesia, menurutnya air minum dan sanitasi adalah suatu komitmen global, mulai dari akses terhadap hunian layak aman dan terjangkau.
"Termasuk pengatasan kawasan kumuh, pengelolaan sampah, akses universal air minum aman dan terjangkau, pningkatan akses sanitasi layak dan menghentikan buang air besar sembarangan, pengurangan air limbah yang tidak diolah," tuturnya.
Menurutnya air sangat berlimpah di Indonesia tetapi hanya sebagian kecil yang cocok untuk konsumsi manusia, bahkan di sebagian besar pengaturan perkotaan di mana hampir 60 persen penduduk Indonesia hidup saat ini, hanya 20 persen memiliki akses ke air pipa/ledeng yang aman.
"Target akses ke air bersih untuk setiap rumah tangga itu 100 persen," katanya.
Wiwit juga mempresentasikan bagaimana perilaku manusia terhadap air, bisakah minum air tanpa sakit,? dan mengapa menggunakan sungai sebagai TPA permanen.? Atau berdoa agar banjir besar akan membersihkan semua sampah dalam satu langkah.
"Bayangkan jika ini satu-satunya sungai yang bisa kita dapatkan airnya untuk konsumsi dan penggunaan sehari-hari," terangnya.
Mengenai perkotaan masih Jadi PR besar, dengan populasi yang padat di negara-negara berkembang, masalah kurangnya akses ke air bersih, sanitasi yang buruk dan praktik kebersihan yang rendah dikombinasikan dengan kemiskinan, pendapatan rendah dan beberapa masalah perilaku memperlakukan Sungai seperti tong sampah.
"Pengaturan perkotaan membuat semua masalah menjadi saling terkait rumit dan secara keseluruhan mereka menurunkan kualitas hidup manusia ke tingkat yang membahayakan seluruh komunitas," tegasnya.
Kemudian dirinya membeberkan potret air minum Indonesia, rata-rata peningkatan akses air minum layak dan perpipaan adalah kurang lebih 1 persen setiap tahunnya dari tahun 2011-2018, jika menggunakan hasil survei kualitas air (SKA) tahun 2015 di Yogyakarta capaian akses air minum aman adalah 8,5 persen.
"Apabila hasil capaian diatas diproxxy-kan untuk air minum aman baru nasional maka estimasi akses air minum amanah nasional baru mencapai 6,8 persen," sebutnya.
Capaian akses air minum layak tahun 2018 adalah 8 7,75 persen sedangkan capaian kepemilikan akses perpipaan tahun 2018 adalah 20, 14 persen terhadap total penduduk. Sedangkan capaian akses sanitasi layak tahun 2018 adalah 74,58 persen termasuk akses aman 7,42 persen.
"Peningkatan akses dan sanitasi layak rata-rata sebesar 1,4 persen pertahun penurunan tingkat praktek buang air besar sembarangan di tempat terbuka rata-rata sebesar 1,2 persen pertahun," tambahnya.
Akses sanitasi layak adalah fasilitas sanitasi yang memenuhi syarat kesehatan, antara lain kloset menggunakan leher angsa, tempat pembuangan akhir tinja, menggunakan tangki septik atau sistem pengelolaan air limbah (SPAL) sistem terpusat, katanya akses aman merupakan bagian dari sanitasi layak yaitu fasilitas sanitasi yang dimiliki oleh 1 rumah tangga sendiri yang terhubung pada SPAL atau menggunakan tengki septik dengan jenis kloset leher angsa yang disedot minimal 1 kali dalam jangka waktu 3 sampai 5 tahun dan dibangun ke IPLT.
Potret sanitasi Indonesia, provinsi yang tidak memiliki akses jamban sehat berhubungan dengan kuat dengan stunting angka korelasi nya 0, 66 terdapat korelasi signifikan antara dinamika peningkatan akses sanitasi dan IPM dengan angka 0,95.
"Sanitasi buruk di Indonesia menimbulkan kerugian ekonomi sebesar 67 Triliun," tuturnya.
Kemudian dampak sanitasi terhadap ekonomi berdasarkan sumber economic impact of sanitation in Indonesia, economic of sanitation initiatif (ESI) Word Bank 2008. Biaya kerugian ekonomi yang timbul di dari sanitasi yang buruk di Indonesia mencapai US$ 6,3 miliar US atau 56 triliun per tahun.
"Biaya per kapita untuk sanitasi dan hygiene yang buruk di perkotaan lebih tinggi dibandingkan di pedesaan yang mencapai IDR 225 USD25,40," bebernya lagi.
Dampak bagi kesehatan, air bersih adalah air sehat yang dipergunakan untuk kegiatan manusia dan harus bebas dari kuman kuman penyebab penyakit, bebas dari bahan-bahan kimia yang dapat mencemari air tersebut, air bersih dan sanitasi yang buruk dapat meningkatkan penyakit infeksi yang dapat membuat energi, untuk pertumbuhan teralihkan kepada perlawanan tubuh terhadap infeksi.
"Gizi sulit diserap oleh tubuh dan terhambatnya pertumbuhan, potensi stunting berkurang jika ada intervensi yang terfokus pada perubahan perilaku," ungkapnya.
Dalam hal sanitasi dan kebersihan cara utamanya antara lain dengan tidak buang air besar sembarangan, serta mencuci tangan dengan sabun dan air bersih. Intervensi sanitasi dengan jangkauan 99 persen dapat berdampak pada berkurangnya diare sebesar 30 persen.
"Hal ini dapat menurunkan prevalensi stunting sebesar 2,4 persen, kaitannya dengan stunting faktor sanitasi dan kebersihan lingkungan sangat berpengaruh pada kesehatan ibu hamil dan tumbuh kembang anak," paparnya.
Jika sanitasi rendah maka dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, salah satunya pada saluran cerna seperti diare, saluran pada gangguan cerna membuat zat gizi makanan sulit diserap tubuh dan energi yang dibutuhkan anak untuk pertumbuhan menjadi teralihkan untuk menghadapi penyakit umumnya.
"Selera makan anak yang terganggu kesehatannya menjadi berkurang, sehingga asupan makanan rendah pada anak usia 2 tahun pertama saat pertumbuhannya, sel otak sedang berkembang pesat akan menjadi terhambat, pertumbuhan fisik dan mentalnya pun terganggu akibatnya potensi tumbuh kembang anak menjadi tidak maksimal," jelasnya.
Rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan termasuk di dalamnya adalah akses sanitasi dan air bersih mendekatkan anak pada resiko ancaman penyakit infeksi." Untuk itu perlu membiasakan cuci tangan pakai sabun dan air mengalir serta tidak buang air besar sembarangan," tandasnya.(afm)
Lindungi Masyarakat dari Investasi Bodong, OJK Jambi Siap Terima Pengaduan
Keprihatinan SAH Terhadap Angka Kematian Balita Indonesia yang Tinggi
Sudah Kantongi Izin, Smart Fast Global Education Cabang Jambi Siap Bangun SDM Jambi
Fakultas Teknik UI Bantu Bencana Kekeringan dengan Program Air Bersih di Lebak Banten
SAH: Pengangguran Terdidik Menjadi Masalah Ketenagakerjaan Indonesia


Menambal Asa di Jalur Penyangga : Komitmen PUTR Jambi Benahi Infrastruktur Jalan Padang Lamo



