Ajak Makmurkan Mesjid, SAH Bagi Tips Cara Kelola Mesjid Pada Mahasiswa



Jumat, 22 November 2019 - 07:36:14 WIB



JAMBERITA.COM- Hati seorang muslim harus terpaut dengan mesjid, sebagai umat muslim mesjid merupakan tempat terbaik bagi umat Islam untuk beribadah. Umat Islam menjalankan shalat lima waktu, berdoa, berzikir, bersujud menyembah Allah SWT, dan mengerjakan ibadah lainnya di mesjid.

Namun, seiring perkembangan zaman, fungsi mesjid bisa dikatakan lebih luas. Bukan lagi hanya sebagai tempat beribadah, tapi mesjid juga bisa digunakan untuk kepentingan sosial kemasyarakatan.

Pernyataan ini disampaikan salah seorang tokoh masyarakat Jambi Sutan Adil Hendra (SAH) ketika menghadiri pengajian rutin mahasiswa di Jambi (17/11/2019) kemarin.

"Mesjid harus banyak dikunjungi jamaah, maka sistem pengelolaannya harus dijalankan dengan baik. Hal itulah yang akan mampu membawa jamaah dapat beraktivitas dan beribadah di masjid dengan nyaman, aman, dan khusyuk."

Terkait itu SAH yang lama menjadi Ketua Mesjid Ar Raudhah di Telanaipura Jambi itu berbagi tips kepada mahasiswa mengenai pengelolaan mesjid. Menurut Anggota DPR RI ini, sebuah mesjid yang diurusi oleh sebutan takmir mesjid harus dilalui dengan konsep manajemen dan mutu.

"Ada dua hal yang harus diperhatikan dalam pengelolaan mesjid. Pertama manajemen. Kemudian mutu atau tingkatan standar sebuah mesjid itu sendiri," ungkap SAH yang akrab disapa Pak Haji tersebut. 

Menurut SAH pengelolaan mesjid itu dengan adanya organisasi, sistem, pelaksanaan, audit, dan tindak lanjut, hal itulah yang harus dipersiapkan dengan baik bagi pengelola mesjid atau yang biasa disebut sebagai takmir sebagai pengemban amanah kepengurusan mesjid.

Untuk organisasi, SAH mengatakan, sebuah mesjid juga memerlukan struktur yang jelas. Hal inilah yang nantinya akan membawa mesjid bukan hanya sebagai pelayan jamaah, tapi bisa berkembang dalam kegiatan yang lain.

Kemudian sistem, dia menerangkan rangkuman elemen-elemen yang bergabung menjadi satu dengan tujuan mengorganisasi komponen untuk menjadikan mesjid itu berkualitas.

"Dengan cara apa, disusun rapi dalam bentuk dokumen, termasuk itu master plan. Karena manajemen itu tidak bisa pakai perasaan, harus disusun runtut. Misalnya, ada seorang difabel ingin masuk masjid. Kita punya arah sendiri untuk mempermudah mereka dengan petunjuk yang tersistem. Jadi, dengan system itu, semua sudah diarahkan. Setelah itu lakukan, maka itu bagaimana untuk menjalankan sitemnya," jelasnya.

Terkait audit, SAH menyebut juga penting untuk pengelolaan sebuah masjid. Sebab, audit bukan hanya mengenai keuangan, tapi juga aktivitas yang harus dijalankan. 

"Semuanya dilakukan audit. Keuangan pasti. Misal, ada yang bocor, maka perlu kebutuhan memperbaiki. Kalau teraudit, maka sudah jelas, kita pakai uang untuk pembangunan. Selanjutnya yang terakhir tindak lanjut. Tidak cuma disiapkan saja, tapi dikerjakan dalam perbaikannya," paparnya.

Tak hanya itu. Dalam optimalisasi fungsional mesjid, juga diperlukan mutu. Menurut SAH mutu berkaitan dengan kepuasan pelanggan atau disebut jamaah masjid. Yang harus diperhatikan pengurus masjid yakni tingkat standardisasi fasilitas mesjid seperti kamar mandi yang harus bersih dan tidak bau, lalu lampu mesjid, dan karpet masjid yang harus sesuai standar.

"Misalnya saja, kamar mandi ini bagaimana jangan sampai membuat jamaah kesulitan atau terpeleset. Ini harus dipermudah lantainya dengan lapisan yang kasar. Lalu lampu, harus LED meski sedikit mahal tapi ini hemat listrik. Yang kadang sepele yakni karpet. Kalau berdebu, ini tidak akan sesuai standar karena debu banyak bakteri yang menyebabkan penyakit," ungkap SAH.

Karena itu, dalam memberikan pelayanan di sebuah mesjid, maka harus memperdulikan kepuasan jamaanya. Sehingga, ia mengharapkan para takmir mesjid bisa mempelajari ilmu manajemen dengan baik.

"Kepuasan jamaah yang paling bisa diukur di sini. Bagaimana jamaah bisa nyaman, aman, dan senang saat datang ke sebuah mesjid, maka akan menjadikan fungsional mesjid itu berjalan dengan baik," tandasnya.(*/sm)

 





Artikel Rekomendasi