JAMBERITA.COM- Munculnya nama Hj. Yunninta Asmara, SH dalam Pilkada Batanghari mendapat dukungan terbuka dari masyarakat termasuk sejumlah partai politik. Diantaranya Partai Golkar dan beberapa partai lainnya.
Sosok wakil ketua DPRD Batanghari itu sendiri dikenal sangat populer di masyarakat dan berprestasi dalam karir politiknya, sehingga banyak pihak yang mengatakan Yunninta sulit mendapat lawan yang mampu menyaingi kekuatannya.
Meski begitu, pengamat politik menilai bahwa Yunninta bukan berarti tanpa figur penantang. Aulia Fadli pengamat politik dari lembaga kajian politik regional (LKPR) mengatakan bahwa Yunninta berasal dari klan politik yang kuat, sehingga untuk mencari lawan yang berat harus berasal dari dirinya sendiri.
“Untuk kabupaten Batanghari, Yunninta bisa dikatakan setengah petahana, berasal dari keluarga politisi handal dan telah menguasai Batanghari selama beberapa waktu ini. Maka, lawan yang berat bagi Yunninta justru berasal dari dirinya sendiri, bagaimana ia bisa memanage kekuatan dan kelemahannya selaku istri Bupati saat ini, karena secara personal Yunninta cukup baik, kapasitas dan kapabilitasnya,” ungkap Fadli (25/11) kemarin.
Yunninta dikenal memiliki banyak pemilih militan. Untuk mempertahankan loyalis dan barisan pendukung, menurut Fadli dipengaruhi dari komitmen dan konsistensi gerak perjuangan dan prestasi.
“Seberapa besar dia bisa komitmen dan konsisten dengan gerak perjuangan dan menjaga prestasinya, akan mempengaruhi belok atau tidaknya dukungan masyarakat kepada calon lain,” ungkapnya.
Dikatakan pula, ada dua figur yang cukup memiliki peluang bisa menjadi penantang Yunninta, dan saat ini sudah pernah menyampaikan sikap bulat akan ikut bertarung di Pilkada Batanghari. Mereka adalah M. Hafiz putra dari Batanghari dan Camelia Puji Astuti ketua DPC Demokrat Batanghari. Semuanya punya klan politik di Batanghari. Kalangan lain di luar klan politik Batanghari ada Fadhil Arief dan beberapa nama dari parpol.
“Adapun latar figur yang cukup kuat untuk melawan Yunninta adalah figur yang selama ini berjuang melalui jalur legislatif dan partai, dan bukan jalur eksekutif, hal ini karena kecenderungan pemilih di Batanghari seperti itu, lihat saja hasil pilkada 2010 dan 2015 lalu, yang menangkan yang berlatar belakang anggota DPRD,” ungkapnya.
Sehingga Yunninta dinilai adalah figur yang tetap diuntungkan pada hajatan politik lima tahunan 2020 mendatang. Sebagai wakil ketua DPRD dan sekaligus istri dari Bupati Batanghari Syahirsah saat ini menjabat, Yunninta memiliki banyak keuntungan.
“Pertama, hanya Yunninta yang dicitrakan telah berpengalaman memimpin, apalagi jika masa kepemimpinan suaminya kondisi kan relatif terkendali, ada semacam modal dari kinerja yang mereka lakukan, meski tidak semua mengakui ini, namun kelompok yang puas juga banyak, Kedua, karena bagian dari petahana dianggap telah berpengalaman, maka kemungkinan besar jejak kekuatan birokrasi Pemda akan banyak mendukung ketimbang menolak, serta yang ketiga, karena didukung oleh kekuatan birokrasi, maka Yunninta bisa juga dianggap sebagai representasi dukungan masyarakat, karena pasti petahana juga memiliki basis dukungan secara pribadi dan kekeluargaan sendiri,” tandasnya.(*/sm)
Warga Pemayung ini Sebut Nomor Urut Satu Bagi Paslon Yuninta-Mahdan Simbol Kemenangan
Dukungan Tak Terbendung, Warga Desa Rawa Mekar Teriakkan Yunninta-Mahdan Harga Mati
Yunninta Ingin Pilkada Batanghari Ajang Adu Konsep dan Gagasan
Gelora Jambi Telah Terbentuk Hingga Kabupaten, Mahyudi: Kami Partai Baru yang Diisi Anak Muda
Yunninta: Hormati Guru, Karena Cerdasnya Suatu Bangsa, Ada Di Tangan Mereka


Hesti Perkuat Keperdulian Sosial Via Pojok Berkah TP PKK Provinsi Jambi



