JAMBERITA.COM - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Provinsi Jambi pada tahun 2019 bisa dikategorikan sebagai yang terparah. Lantaran hampir selama tiga bulan lebih masyarakat Jambi harus menghirup asap akibat adanya karhutla.
Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Kehutanan A. Bestari saat di konfirmasi mengenai hal ini menyampaikan bahwa saat ini sudah akan dimulai langkah-langkah pencegahan. Diantaranya dengan melakukan deteksi dini dan terus mengupdate titik hotspot melalui satelit noah. Sehingga apabila terjadi kebakaran akan bisa cepat untuk dipadamkan.
Bestari juga menjelaskan bahwa nantinya akan dibentuk tim untuk melakukan patroli. Tim ini akan ditempatkan di wilayah -wilayah yang rawan terjadi karhutla seperti daerah Tanjung Jabung Timur, Tanjung Jabung Barat dan Muaro Jambi.
"Rencananya kedepan akan diadakan patroli gabungan untuk melakukan itu",ujarnya.
Bestari juga menambahkan bahwa untuk alat sendiri sudah ada. Dan di tahun sebelumnya sudah ada penambahan. Hanya saja Besatari menyayangkan bahwa para pemilik izin lahan masih minimnya alat. Karena Bestari menganggap para pemilik izin lahan juga mempunyai tanggung jawab yang besar jika terjadi karhutla. "Ada 388 izin yang dikeluarkan. Anggaplah ada sekitar 250 ribu hektra harusnya mereka bertanggung jawab ni", ujarnya. (sap)
Siswa SMPN 11 'Melek' Hutan! Mahasiswa UNJA Bongkar Rahasia Cuan dari Pohon Tanpa Harus Menebang?
Mahasiswa Kehutanan UNJA Kenalkan 'Hutan Ajaib di Tepi Laut' ke Siswa SMPN 17 Kota Jambi
Respon Rektor UNJA Prof Helmi, Tindaklanjuti Intruksi Pusat Terkait Efesinsi Anggaran
Puluhan Anak Berkebutuhan Khusus Ambil Bagian di UNFIED Sport Competiton
Lewat "MIKiR", Tanoto Foundation Latih Guru di Tebo Wujudkan Keterampilan Abad 21


Sekda Sudirman Buka Rakerda Pramuka 2026: Fokus Evaluasi Strategi, Kaderisasi Pemimpin Muda



