Pasar Tradisional dan Covid-19



Minggu, 17 Mei 2020 - 17:03:49 WIB



Thareq Kemal Satri
Thareq Kemal Satri

Oleh: Thareq Kemal Satri*

 

Pasar tradisional dapat dikatakan sebagai lokasi yang memiliki potensi cukup besar dalam penyebaran virus Corona atau Covid-19. Pasalnya, pada pasar tradisional para penjual dan pembeli pasti melakukan pertemuan dan transaksi tanpa adanya batas. Menyikapi hal tersebut, BPOM RI pun mengeluarkan panduan pencegahan Covid-19 di pasar tradisional seperti mengenakan masker, mejaga jarak dagangan, menggunakan penjepit ketika memilih makanan, hingga mencuci tangan. Meski demikian, sejumlah pasar tradisional di Indonesia telah menjadi klaster penyebaran Covid-19. Penyebabnya adalah, upaya pencegahan ini belum dipatuhi. Masih banyak pengunjung pasar yang tidak menggunakan masker. Selain itu sulit menerapkan pembatasan jarak fisik di area pasar karena jumlah pedagang yang banyak di tiap pasar. Makin bertambahnya penderita Covid 19 khususnya dikalangan pedagang di kota Sungai Penuh, menjadi perhatian serius dari pemerintah Kota Sungai Penuh dan tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di daerah itu.

Demi mencegah penyebaran Covid-19, sudah seharusnya pemerintah kota Sungai Penuh menerapkan atau memperketat protokol kesehatan di pasar Sungai Penuh. Carilah solusi bagaimana caranya agar pasar tradisional ini aman dikunjungi di masa pandemi,sehingga tidak harus di tutup. Jika pun harus ditutup, maka perlu dicarikan alternatif agar perekonomian masyarakat tidak mandek dan pemenuhan. dalam menangani permasalahan ini, pemerintah kota Sungai Penuh mengambil tindakan awal untuk bekerja sama dengan pemerintah daerah kabupaten kerinci dalam menangani covid-19 yang penyebarannya dalam lingkup pasar tradisional. Pasalnya, pasar tradisional yang letaknya di kota Sungai Penuh tidak hanya dikunjungi oleh masyarakat lokal saja namun masyarakat non lokal seperti kabupaten Kerinci juga sudah terbiasa berbelanja di pasar tradisional tersebut dikarenakan  jarak tempuh antara kabupaten Kerinci dan kota Sungai Penuh tergolong dekat kurang lebih sekitar 30 menit perjalanan, serta pasar tradisional tersebut terbilang lengkap dalam menyediakan bahan pokok dan kebutuhan sehari-hari lainnya. Sekitar satu bulan yang lalu sempat ada wacana pemerintah kota sungai penuh dan kabupaten kerinci untuk menutup pasar tersebut namun entah mengapa sampai saat ini tidak terealisasikan. Pemerintah kota sungai penuh dan kabupaten kerinci lebih memilih memperketat jalur masuk antar wilayah seperti perbatasan di muaro emat dan di kayu aro. Khususnya untuk memperketat pedagang dari luar masuk ke wilayah kerinci dan sungai penuh.

Tidak hanya pemerintah kota dan kabupaten saja yang berperan dalam menangani covid-19 namun para elit politik juga ikut serta mengambil peran dalam membantu pemerintah untuk memutus rantai covid-19 di kota sungai penuh, seperti membagikan masker di jalan raya dan penyemprotan disinfektan di masjid serta di tempat publik lainnya, dan tidak lupa juga mereka melakukan blusukan di pasar tradisional tersebut. Akan tetapi yang dilakukan para elit politik tersebut malah mendapat stigma negatif dari masyarakat sekitar, soalnya dalam waktu dekat di kota sungai penuh akan di adakannya pemilihan wali kota baru. Masyarakat menilai bahwasanya yang dilakukan para elit politik tersebut hanya sekedar mencari eksistensi saja dan juga kegiatan tersebut justru akan memancing keramaian publik yang efek negatifnya penyebaran covid-19 di kota sungai penuh khusunya di pasar tradisional akan lebih mudah apalagi di tambah dengan kelalaian mereka tentang kurangnya kepedulian akan protokol kesehatan dari pemerintah. Untuk itu diharapkan adanya kesadaran dari para elit politik tersebut untuk menghentikan segala kegiatan yang beresiko memancing keramaian. Jika ingin melanjutkan sebaiknya mereka berkordinasi dengan pemerintah untuk mencari solusi terbaik agar kegiatan tersebut tetap bisa berjalan tanpa memancing keramaian. Dan juga, dibutuhkan kesadaran dari masyarakat untuk bekerja sama dengan pemerintah dalam memutus rantai penyebaran covid-19 dengan tetap berada di rumah dan menghindari keramain, kesadaran dari masyarakat merupakan obat yang paling ampuh dalam mencegah penularan covid-19 ini.

Untuk menjaga agar masyarakat tetap berada di rumah dan tidak berkunjung di pasar tradisional, pemerintah kota sungai penuh dan kabupaten kerinci telah mendistribusikan bantuan sosial berupa sembako serta uang tunai namun sayangnya bantuan tersebut banyak disalahgunakan atau tidak tepat sasaran, masyarakat yang kebanyakan berekonomi menengah ke atas yang mendapat bantuan sosial namun yang berekonomi menengah ke bawah tergolong sedikit yang mendapatkan bantuan tersebut. Sehingga kondisi pasar semakin hari semakin ramai baik pedagang maupun pembeli (pengunjung). Untuk itu diperlukan peninjauan kembali oleh pemerintah daerah tentang persoalan bantuan sosial ini jangan ada yang tumpang tindih lagi agar masyarakat mau tetap berada di rumah. Serta penyebaran covid-19 di area perdagangan bisa secepatnya teratasi dan kembali normal seperti sedia kala.(*)

 

 

Penulis adalah: Mahasiswa Ilmu Pemerintahan UIN STS Jambi*



Artikel Rekomendasi