Hikmah Dibalik Pandemi Covid-19 Di Era New Normal Menurut Perspektif Islam



Minggu, 21 Juni 2020 - 12:03:35 WIB



Suci Ramadhani
Suci Ramadhani

Oleh: Suci Ramadhani*

 

 

Pandemi Covid-19 ini banyak memberikan pengaruh besar bagi kehidupan. Hampir seluruh sektor terdampak dari kebijakan Pemerintah selama 3 Bulan terakhir diberlakukannya Lockdown, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), hingga sekarang penerapan New Normal. Penyebaran virus yang begitu cepat membuat siapapun harus berperilaku waspada dan hidup disiplin di tengah lingkungan bermasyarakat.

Apakah dengan penerapan New normal atau kehidupan baru yang telah diberlakukan di Indonesia saat ini merupakan langkah yang tepat? Mengingat baru-baru ini kasus Covid-19 semakin meningkat hingga mencapai 40.000-an kasus. Dengan data yang tidak sedikit dari tanggal per 1 Juni s.d 16 Juni 2020 kasus ini melonjak naik hingga 10.000 Kasus selama 2 pekan pemberlakuan New Normal. Namun tidak sedikit pula yang dinyatakan sembuh, medekati angka 8.400-an orang.

Dari pandemi Covid-19 ini, tentu ada hikmahnya sebagi bentuk kasih sayang Allah SWT kepada makhluknya. Islam sebagai agama Rahmatan Lil ‘Alamin yang berarti bentuk rahmat atau  kasih sayang Allah SWT bagi seluruh alam semesta. Rahmat dinikmati secara bersama-sama yang datangnya dari Allah SWT. Dalam diri Nabi Muhammad SAW yang membawa ajaran Islam terdapat rahmat bagi seluruh makhluk. Ditengah situasi seperti ini, dengan berlandaskan hukum Islam pada Al-Qur’an dan sunnah-sunnah Nabi Muhammad SAW perlu di perhatikan agar Allah SWT ridhoi segala aktivitas yang akan dijalani.

Meningkatnya Kesadaran Adanya Ke-Esaan Allah SWT

Allah SWT atas segala sifat keesaan-Nya membuat manusia kadang lalai dalam mengingatnya. Segala apa yang ada di langit dan di bumi menjadi bukti bahwa jika yang Allah SWT menhendaki terjadi maka akan terjadilah. Seperti pandemi Covid-19 ini, tidak lain semua ini terjadi karena atas seizin Allah SWT.

Allah SWT Berfirman pada Surah Yunus ayat 107 "Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Yunus [10] : 107)

Begitu pula rasa cinta Allah kepada setiap hambanya, pandemi Covid-19 ini merupakan cobaan yang harus kita syukuri. Bisa jadi ini semua bentuk teguran dari Allah SWT untuk selalu mengingatnya. Mulanya yang jarang sekali sholat berjamaah dirumah, akibat pandemi Covid-19 ini surga ditemukan dirumah-rumah. Maka syukuri dan nikmati pandemi Covid-19 ini, semoga menjadi kebaikan dan menambah ketakwaan kepada Allah SWT.

Tetap Menjalankan Ukhuwah, Meskipun Tidak Terjadi Kontak Fisik.

Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Islam mengajarkan bagaimana hidup saling membutuhkan satu sama lain dengan menjalin ukhuwah ditengah masyarakat. Namun ditengah pandemi Covid-19 ini, bagaimana menjalin ukhuwah dengan penerapan social distancing atau physical distanting? Pasti ada cara lain agar tetap terjalin ukhuwah tapi tidak terpapar virus Covid-19.

Penerapan Ukhuwah tidak terlepas dari teknik berkomunikasi. Sementara itu, penerapan protokol kesehatan di era New Normal harus di terapkan sebagai upaya pencegahan pandemi Covid-19. Menjalin Ukhuwah bertemu langsung dengan orang lain tidak ada salahnya, namun berikan jarak minimal 1 meter dengan keberadaan kita dan jangan lakukan kontak fisik seperti berjabat tangan. Akan lebih aman jika komunikasi di jalin dengan virtual. Seperti menggunakan aplikasi di media sosial yang dapat membantu pesan yang akan kita sampaikan kepada orang lain tersampaikan tanpa harus bertemu dan berkontak fisik demi pencegahan Covid-19  ini.

Berkorban dan Merelakan Sesama Makhluk

Pandemi Covid-19 ini bukan ulasan yang dapat di anggap main-main. Banyak yang menjadi korban, bahkan merelakan keluarga yang menjadi korban terpapar virus Covid-19 ini. Tak sedikit jumlahnya, hingga mencapai hampir 2400-an jiwa di Indonesia meninggal dunia akibat pandemi Covid-19 ini.

Tak mengenal pejabat, masyarakat konglomerat, bahkan yang melarat sekalipun. Jika sudah terpapar virus ini konsekuensinya akan diisolasi selama 14 hari jika berstatus Orang Dalam Pengawasan (ODP) untuk mengisolasi dirinya tidak bertemu dan berinteraksi secara lagsung dengan orang lain walupun bersama keluarga. Namun jika sudah dinyatakan status sebagai Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dengan Positif terpapar virus Covid-19 apalagi sampai meninggal dunia, pastinya bukan perjuangan yang mudah bagi keluarga untuk tidak bertemu bersama pasien. Maka dari itu, berkorban demi keluarga agar tidak terpapar, dan merelakan keluarga demi pencegahan virus Covid-19 ini dapat dikatakan sebagai berjihad di jalan Allah SWT. Allah punya maksud dan rencana lain atas kejadian ini.

Saling Berusaha dan Peduli Untuk Membantu Sesama

Membantu yang lemah adalah sebuah kemuliaan yang dimiliki oleh manusia yang kuat secara lahir maupun batin. Sejatinya manusia dengan segala keterbatasannya dapat mengusahakan apa yang dapat dilakukannya, namun tentu saja semua itu kadang ada yang tidak dapat dilakukan melampaui batasannya. Seperti yang terjadi saat ini, banyak yang kehilangan pekerjaan akibat dampak Covid-19, ada juga yang tidak mendapatkan penghasilan untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Maka dari itu, disinilah dibutuhkan uluran tangan agar membantu sesama sebagai makhluk Allah yang beriman untuk memperhatikan yang miskin.

Karena hampir seluruh sektor terdampak dari pandemi virus ini, kuncinya adalah terus berusaha, berdoa, dan berserah diri kepada Allah SWT atas ketetapannya. Sebagai orang yang berkecukupan banyak yang memberikan bantuan kepada masyarakat yang terdampak, membuat nilai gotong royong di masyarakat tumbuh dan harmonis. Bentuk kepedulian ini mencerminkan dampak besar bahwa hidup di masyarakat akan indah jika saling tolong menolong.

Memperhatikan Kebersihan, Kesehatan dan Hidup Secara Teratur di Masyarakat

Sebelum adanya pandemi Covid-19 ini, mungkin saja yang dulunya jarang sekali memperhatikan kebersihan di masyarakat sekarang lebih hidup teratur dengan hidup bersih sebagai upaya pencegahan virus Covid-19. Rajin Mencuci Tangan menggunakan sabun, membawa Hand Sinitizer setiap berpergian keluar rumah, mengganti pakaian ketika telah pulang kerumah, hingga rutin mandi merupakan hal yang paling di perhatikan saat ini.

Seperti ungkapan “Kebersihan sebagaian dari iman” memang kunci dari upaya pencegahan Covid-19 ini. Allah SWT sangat menyukai orang-orang yang berperilaku hidup bersih dan teratur karena untuk menghadap-Nya tidak diperkenankan bila dalam keadaan tak suci. Upaya hidup bersih, sehat, dan pola hidup yang teratur membuat diri terjaga setidaknya untuk diri sendiri dan tidak membahayakan orang lain.(*)



Penulis adalah: Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi*



Artikel Rekomendasi