MEWUJUDKAN ENTREPRENEURSHIP CAMPUS.
Oleh : Dr. Noviardi Ferzi, SE, MM (Dosen STIE Jambi)
Kewirausahaan atau Entrepreneurship di Indonesia saat ini telah berkembang pesat, banyak orang antusias ingin menjadi entrepreneur dan mempelajari bidang entrepreneurship.
Entrepreneur adalah sorang yang kreatif atau inovatif yang membawa ide baru untuk memulai bisnis disebut. Saat dia memperkenalkan ide-ide baru kepada dunia, dia menghadapi banyak rintangan dan risiko untuk meluncurkan ide-ide tersebut.
Peran entrepreneur dalam menentukan kemajuan suatu negara telah dibuktikan oleh beberapa negara maju seperti amerika, jepang, plus tetangga terdekat kita yaitu singapura dan malaysia. Di amerika sampai saat ini sudah lebih dari 12 persen penduduknya menjadi entrepreneur.
Sosiolog David McCleiland, menyatakan sedikitnya dibutuhkan minimal 2 persen wirausaha dari populasi penduduknya, atau dibutuhkan sekitar 4,8 juta wirausaha di Indonesia saat ini.
Perguruan tinggi di Indonesia sudah mulai sadar akan pentingnya kewirausahaan dan menjadikan mata kuliah kewirausahaan sebagai hal terpenting yang harus diberikan kepada mahasiswa, bahkan ada yang memiliki jurusan atau program studi entrepreneurship.
Selain universitas unggulan yang menyediakan program studi kewirausahaan dan perkembangan startup di Indonesia. Pemerintah juga sedang gencar-gencarnya melakukan usaha peningkatan kewirausahaan di perguruan tinggi. Salah satu program pemerintah ini adalah Program Mahasiswa Wirausaha (PMW).
Program kewirausahaan yang digagas pendidikan tinggi (Dikti) yang memberikan alokasi dana (modal) dalam bentuk subsidi untuk mahasiswa yang mempunyai usaha atau rencana usaha. Namun mengingat keterbatasan dana, program dari pemerintah ini “dilombakan” melalui proposal yang harus dikirimkan oleh mahasiswa dan perguruan tinggi yang berminat.
Belajar dari kisah sukses Kampus MIT (Massachusette Institute Technology) di Amerika serikat tahun 1980-1996 ditengah pengangguran terdidik yang semakin meluas dan kondisi ekonomi, sosial politik yang kurang stabil. MIT merubah arah kebijakan perguruan tingginya dari high Learning Institute and Research University menjadi Entrepreneurial University.
Meskipun banyak pro kontra terhadap kebijakan tersebut namun selama kurun waktu diatas (16 tahun) MIT mampu membuktikan lahirnya 4 ribu perusahaan dari tangan alumni-alumninya dengan menyedot 1.1 juta tenaga kerja dan omset sebesar 232 miliar dolar pertahun. Suatu prestasi luar biasa yang merubah kondisi amerika menjadi negara super power. Kebijakan inilah yang selanjutnya ditiru dan diikuti oleh banyak perguruan tinggi sukses di dunia ini.
Entrepreneurship adalah kesempatan bagi para mahasiswa untuk membuat sebuah bisnis yang kreatif dan memberikan dampak signifikan.
Mata kuliah Entrepreneurship juga sangat menantang untuk dilakukan karena pada dasarnya para mahasiswa akan dipacu untuk bisa melakukan manajemen secara efisien, pengelolaan keuangan yang akuntabel serta ketepatan strategi pemasaran.
Di Indonesia, usaha-usaha untuk menanamkan jiwa dan semangat kewirausahaan di perguruan tinggi terus digalakkan dan ditingkatkan, tentunya dengan berbagai metode dan strategi yang membuat mahasiswa tertarik untuk berwirausaha.
Menumbuhkan semangat entrepreneurship di perguruan tinggi, bisa di implementasikan dengan upaya sebagai berikut :
1. Menyusun Kurikulum.
Dalam merumuskan sistem/metode pembelajaran dan pelatihan kewirausahaan, perguruan tinggi harus dengan sungguh-sungguh mendesign mata kuliah/materi kewirausahaan untuk mahasiswanya, dimulai dari pembuatan silabus, satuan acara pengajaran (SAP), Slide Presentasi, modul teori, modul praktikum/praktek, pembuatan buku panduan dan lainnya.
Rumusan itu tentunya harus dikerjakan oleh sebuah tim yang benar-benar expert dan experience diberbagai bidang keilmuan. Yang kurang diperhatikan oleh perguruan tinggi dalam merumuskan kurikulum ini adalah kurangnya mengikutsertakan akademisi non ekonomi dan pelaku usaha serta motivator entrepreneurship didalam team penyusun, sehingga mata kuliah yang diberikan kurang berkualitas.
Hal ini penting dilakukan mengingat kolaborasi antara akademis, praktisi dan motivator akan menghasilkan konsep dan gagasan kewirausahaan yang tepat dan sesuai untuk mahasiswa dari berbagai disiplin keilmuan.
Menyusun kurikulum entrepreneurship, tidak serta merta menjadikan entrepreneurship sebagai mata kuliah tersendiri, namun bisa saja muatan entrepreneurship ini dimasukan kedalam sebagian mata kuliah.
2. Peningkatan SDM Dosen.
Setidaknya Perguruan tinggi harus mempersiapkan SDM Dosen yang mampu ”5M” sebagai berikut : (1) mampu memberikan paradigma baru tentang pentingnya kewirausahaan. (2) mampu merubah/mengarahkan mindset mahasiswa menjadi seorang yang berjiwa entrepreneurship. (3) mampu menginspirasi dan memotivasi mahasiswa menjadi SDM yang mandiri. (4) mampu memberikan contoh karya nyata kewirausahaan (barang/jasa) dan menyuguhkan succes story. (5) mampu menghasilkan SDM mahasiswa/alumni menjadi seorang intrapreneur atau entrepreneur sukses.
Program peningkatan SDM Dosen ini dapat melalui berbagai cara diantaranya melalui ”5P” sebagai berikut (1). Program Short course entrepreneurship (program pelatihan kewirausahaan untuk dosen), (2) Program seminar/workshop/lokakarya entrepreneurship. (3) program pemagangan dosen di dunia usaha, (4) program sarasehan dengan mitra usaha/dunia usaha (5) program pembinaan/pendampingan dosen baru. Dengan program ”5P” yang penulis gagas ini, diharapkan setiap dosen (bukan hanya dosen entrepreneurship saja) mampu menunaikan ”5M” yang penulis usulkan.
3. Membentuk Entrepreneurship Center (baik institusi kampus ataupun berupa organisasi kemahasiswaan).
Patut dicontoh beberapa perguruan tinggi yang eksis mengelola berbagai kegiatan di bidang kewirausahaan mahasiswa seperti Entrepreneur College di UI, Center for innovation, Entrepreneurship, and Leadership ITB, Binus Entrepreneurship Center(BEC) di Binus dll.
Hal ini penting dilakukan oleh perguruan tinggi dalam rangka tiga tujuan yakni : (1) meningkatkan kualitas SDM dosen dan mahasiswa, (2) membuka peluang magang usaha bagi dosen dan mahasiswa, (3) membuka peluang kerjasama usaha khususnya untuk mahasiswa/alumni. Dengan program kerjasama ini diharapkan mahasiswa terutama dapat menganalisa dan mengamati bentuk usaha nyata sehingga mempunyai gambaran ketika kelak berwirausaha, menciptakan peluang pekerjaan bagi generasi bangsa ini yang pada akhirnya mampu menjadi bangsa mandiri yang tidak banyak tergantung pada negara asing. Salam.
Mahasiswa Kehutanan UNJA Edukasi Pelajar SMPN 24 Jambi Tentang Konservasi Orang Utan
Mahasiswa UNJA Bedah Potensi Ekowisata Kehutanan ke Siswa SMPN 11 Jambi


Sekda Sudirman Buka Rakerda Pramuka 2026: Fokus Evaluasi Strategi, Kaderisasi Pemimpin Muda



