Oleh: Ardi Novra, Mairizal, Adriani dan Fatati*
Agenda lanjutan dari Tim SISKA Supporting Program (SSP) pasca-MoU dengan Universitas Jambi adalah mengunjungi kawasan itu sebagai implementasi integrasi sapi sawit (ISS) yaitu implementasi Purnama Kempas. Kawasan kelapa sawit rakyat yang direncanakan sebagai lumbung pangan terdiri dari 4 desa yaitu Purwodadi, Delima, Sungai Keruh dan Dataran Kempas terletak pada wilayah administrasi Kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Tanjung Jabung Barat Provinsi Jambi. Jarak tempuh menuju desa dari Kota Jambi yang cukup lama dan keterbatasan waktu menyebabkan kunjungan lapangan ini hanya menyasar 2 desa yaitu Desa Purwodadi dan Dataran Kempas.
Lokasi pertama yang dikunjungi adalah Kelompok Pelaku Integrasi Sapi Sawit (ISS) Sido Makmur dan Wono Mukti Desa Purwodadi dengan jumlah ternak sapi kelompok masing-masing 82 dan 52 ekor. Antusias masyarakat desa menyambut kunjungan tim SSP sangat meriah terlihat dari kehadiran Kepala Desa dan perangkatnya, ketua dan beberapa anggota kelompok tani ternak, direktur Badan Usaha Milik Desa dan penyuluh pertanian desa. Kunjungan yang diawali dengan melihat areal perkandangan ternak sapi yang terintegrasi dengan unit usaha pengolahan kelompok tani Sido Makmur ini diselingi dengan diskusi dengan fokus pembahasan tentang perkembangan usaha kelompok dan strategi peternak dalam menghadapi program PSR. Menurut Kepala Desa Purwodadi Jayus S.E bahwa para peternak sapi di desa ini mengalami kekuatiran akan pasokan pakan ternak sapi mereka selama proses peremajaan, karena lahan perkebunan yang selama ini menjadi sumber utama hijauan pakan ternak sapi akan mengalami penyusutan drastis. Tindakan antisipatif telah dilakukan antara lain melalui budidaya hijauan pakan unggul seperti rumpur odot dan zanzibar, tetapi areal lahan yang sangat terbatas dikuatirkan tidak akan mampu memenuhi kebutuhan ribuan ekor ternak sapi yang dipeliahara oleh masyarakat. Tawaran PT. WKS untuk memanfaatkan areal hutan tanaman industri (HTI) sebagai lokasi pengembalaan alternatif masih belum diputuskan karena sisamping lokasi yang cukup jauh dari desa juga akan kehilangan limbah padat kandang untuk memenuhi kebutuhan bahan baku kompos.
Sementara itu ketua kelompok tani Sido Makmur “Wagimin” menyatakan bahwa kami juga memanfaatkan limbah solid pabrik kelapa sawit tetapi aksesibiltas untuk mendapatkannya cukup sulit. Pada saat panen pedet bersama Bupati Tanjung Jabung Barat, saat kita diskusi dengan Pak Ardi Novra timbul ide untuk memanfaatkan empelur pohon sawit sebagai sumber pakan alternatif. Kami sudah melakukan uji coba dan kebetulan ada mesin “crusher” penghancur kayu pada kelompok mitra binaan Unja yaitu Poktan Karya Trans Mandiri Desa Dataran Kempas yang kami bisa pinjam. Uji coba pemarutan yang kita lakukan dari satu batang pohon kelapa sawit replanting dengan diameter 50 cm dan panjang 10 meter dapat menghasilkan sekitar 600 kg serbuk empelur. Kita juga sudah uji coba pada ternak sapi dan kambing ternyata tingkat palatabiltasnya cukup tinggi, tetapi sampai sekarang masih belum bisa dioptimalkan karena masih terkendala teknis terutama mesin parutan yang cepat hilang ketajamannya. Menurut Pak Ardi, sampel yang kita kirimkan sudah ada hasil analisis laboratorium dan Tim Riset Unja sedang melakukan pengembangan produknya untuk dapat menjadi pakan ternak sapi siap saji (PAT3S) serta untuk implementasi sedang diupayakan pendanaannya dari berbagai sumber. Alhamdlillah, dengan pendampingan dari Unja, masalah pasokan pakan ternak sapi dapat terpenuhi dan dimanfaatkan secara luas oleh para peternak di kawasan Purnama Kempas ini.
Pasca jamuan makan siang oleh masyarakat Desa Purwodadi, tim SSP dan Unja melanjutkan kunjungan ke Poktan Mekar Jaya di Desa Dataran Kempas. Poktan ini merupakan inisiator dan pelopor usaha kompos yang sejak tahun 2020 sudah diakui sebagai produk unggulan kawasan perdesaan (Prukades) oleh Kemendes PDT dan bahkan melalui industri kompos ini meraih penghargaan sebagai desa proklim utama dari kementerian KLHK. Produk kompos yang dikembangkan dengan bahan baku berbagai limbah yaitu limbah padat kandang sapi, rajangan pelepah sawit, abu boiler dan tandan buah kosong (tankos) limbah PKS menurut Supari, SPd telah mampu melepaskan desa ini dari status sebagai desa tertinggal. Menurut pria yang juga sebagai ketua Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Lentera Kehidupan ini industri kompos yang memiliki omset sekitar Rp. 1,5 milyar perbulan menyerap puluhan tenaga kerja terutama tenaga kerja wanita dengan upah layak yaitu sekitar Rp 2,5 - 3,0 juta perbulan. Produk inisiasi Unja dan pembinaan PT. WKS yang mengintegrasikan pemanfaatan limbah organik atau biomas ini yang awalnya untuk penanganan dampak kebakaran lahan dan hutan 2015 yang menyebabkan anjloknya produksi TBS akibat asap dan kabut tebal. Saat sekarang menjadi andalan dalam mengatasi dampak negatif program PSR yang potensial menyebabkan banyak rumah tangga kehilangan sumber pendapatan utama dari perkebunan kelapa sawit.
Bapak energik ini juga menjelaskan bahwa antisipasi dampak program PSR terhadap usaha ternak sapi kelompok juga sudah dilakukan dengan memanfaatkan lahan HTI sebagai areal pengembalaan. Kami masih terkendala mahalnya biaya pemagaran dan pada dasarnya membutuhkan pagar elektrik untuk blok-blok rotasi pengembalaan untuk memberi kesempatan hijauan yang ada pada areal bekas pengembalaan dapat bertumbuh kembali. Kandang yang sudah terlanjur ada pada kawasan operasional MJ ini kami rencanakan untuk program penggemukan ternak sapi yang tentunya harus intensif dan pakan harus memenuhi kualitas dan kuantitas yang dibutuhkan. Atas pertimbangan tersebuat kami sangat mendukung pengembangan pakan ternak sapi berbasis biomas empelur pohon sawit program PSR, imbuh motivator desa yang saat ini juga sedang melakukan pembinaan dan pendamping kelompok taruna tani (millenial) Lentera Kehidupan.
Lapangan yang cukup panjang dan menarik menurut tim riset SISKA Unja memberikan pembelajaran bahwa untuk model SISKA berkelanjutan perlu adanya perubahan paradigma seluruh pemangku kebijakan dari hanya sekedar orientasi luasan lahan perkebunan kelapa sawit menjadi lebih luas lahan dan potensi biomassa perkebunan dan Diskusi industri pengolahan sawit . Pelaku integrasi sawit siap untuk menjadi demplot percontohan bagi terbentuknya model SISKA berbasis biomassa atau SISKA Bermas/(*)
Pemuda Bagian dari Perubahan, Catatan Selamat Datang Tanwir II Pemuda Muhamadiyah
Korem 042/Gapu Gelar Sholat Idul Adha 1447 H di Lapangan Tenis Indoor Makorem


