Ivan Wirata : Karhutla Makin Meluas, Hotspot Tembus 4.412 Titik dan 954 HA Lahan Terbakar



Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:42:15 WIB



JAMBERITA.COM - Situasi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Provinsi Jambi masih membutuhkan kewaspadaan tinggi. Hingga 25 Agustus 2026 pukul 19.00 WIB, jumlah hotspot kumulatif sepanjang 2026 telah mencapai 4.412 titik, sementara estimasi luas lahan terbakar mencapai sekitar 954,41 hektare.

Berdasarkan laporan Posko Satgas Karhutla Provinsi Jambi, pada 25 Agustus pukul 00.00–16.00 WIB terpantau 134 hotspot. Angka tersebut turun dibandingkan 24 Agustus yang mencapai 348 hotspot, namun kondisi lapisan atas permukaan tanah di sebagian besar wilayah Jambi masih berada pada kategori mudah hingga sangat mudah terbakar.

Wakil Ketua DPRD Provinsi Jambi Ir. H. Ivan Wirata, ST, MM, MT menilai penurunan hotspot harian belum dapat menjadi alasan untuk mengurangi kesiapsiagaan.

“Hotspot hari ini memang turun dari 348 menjadi 134 titik, tetapi kumulatifnya sudah 4.412 titik dan luas terbakar mendekati seribu hektare. Artinya kita belum boleh lengah. Pencegahan, patroli dan respons lapangan harus tetap diperkuat,” ujar Ivan.

Dari 134 hotspot pada 25 Agustus, 87 titik atau hampir 65 persen berada di Kabupaten Sarolangun. Selanjutnya Batanghari mencatat 15 titik, Tanjung Jabung Barat 14 titik, Muaro Jambi sembilan titik, Tanjung Jabung Timur empat titik, Tebo tiga titik dan Merangin dua titik.

Secara kumulatif, Sarolangun juga menjadi wilayah dengan hotspot tertinggi sepanjang 2026, yakni 1.061 titik, disusul Tanjung Jabung Barat 863 titik dan Muaro Jambi 731 titik.

Ketiga kabupaten tersebut secara bersama-sama menyumbang sekitar 2.655 hotspot atau lebih dari 60 persen dari total hotspot Provinsi Jambi. “Data sudah menunjukkan dengan sangat jelas di mana konsentrasi risikonya. Sarolangun, Tanjab Barat dan Muaro Jambi harus menjadi koridor prioritas. Sumber daya tidak bisa dibagi rata, tetapi harus mengikuti tingkat risiko,” kata Ivan.

Dari sisi dampak, estimasi luas lahan terbakar telah mencapai sekitar 954,41 hektare. Muaro Jambi menjadi wilayah dengan luas kebakaran terbesar sekitar 302,93 hektare, diikuti Tanjung Jabung Barat 214,40 hektare, Sarolangun 143,61 hektare, Batanghari 95,53 hektare, Tanjung Jabung Timur 88,88 hektare, Tebo 84,76 hektare, Bungo 14 hektare dan Merangin 10,30 hektare.

Ivan mengatakan jumlah hotspot dan luas kebakaran harus digunakan bersama-sama untuk menentukan prioritas operasi. “Jangan hanya melihat berapa hotspot yang muncul. Kita juga harus mengukur berapa hotspot yang berkembang menjadi kebakaran, berapa luas yang terbakar dan berapa cepat petugas melakukan respons.”

Pembaruan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) 25 Agustus pukul 08.00 WIB menunjukkan Muaro Jambi berada pada angka 187 atau kategori Tidak Sehat, sedangkan Kota Jambi berada pada ISPU 142 atau Tidak Sehat, keduanya dengan parameter kritis PM2.5.

Tanjung Jabung Timur berada pada ISPU 100 atau kategori Sedang, sementara Tebo tercatat Baik dengan ISPU 19 untuk parameter NO?. Menurut Ivan, kondisi tersebut menunjukkan penanganan Karhutla telah memasuki dimensi kesehatan masyarakat.

“Ketika udara sudah tidak sehat, Karhutla bukan lagi hanya urusan BPBD dan pemadaman. Dinas Kesehatan, Puskesmas, rumah sakit dan sektor pendidikan harus siap melindungi masyarakat, khususnya anak-anak, lansia, ibu hamil dan kelompok rentan.”

Ia meminta pemerintah memastikan kesiapan masker, pelayanan ISPA, informasi kualitas udara serta protokol aktivitas masyarakat apabila kondisi memburuk.

Dalam laporan 25 Agustus, penerbangan helikopter patroli PK-ELS, pesawat PK-ALA serta helikopter water bombing RA-22840 tercatat dibatalkan akibat jarak pandang rendah atau low visibility. Sementara helikopter water bombing N-274TH tercatat tidak terbang karena kondisi unserviceable/maintenance.

Menurut Ivan, situasi tersebut menunjukkan bahwa operasi darat harus menjadi tulang punggung ketika dukungan udara terkendala. “Kalau low visibility membuat helikopter dan pesawat tidak bisa terbang, maka ground power kita harus kuat. Posko, personel, pompa, sumber air, perusahaan, MPA dan seluruh tim lapangan harus benar-benar siap.”

Ivan juga meminta pemerintah memastikan adanya contingency plan apabila armada udara tidak dapat beroperasi dalam waktu tertentu.

Dalam situasi tersebut, jaringan 81 Pos Karhutla yang telah disiapkan di berbagai wilayah Jambi dinilai semakin strategis. Ivan mendorong agar seluruh pos di wilayah prioritas terhubung dalam satu sistem informasi dan komando.

Ketika hotspot terdeteksi, sistem harus dapat segera menentukan koordinat, pos terdekat, sumber air, personel dan peralatan yang tersedia. “Kita harus bergerak menuju satu command center, satu peta, satu data dan satu sistem komando. Hotspot muncul, pos terdekat langsung mengetahui dan bergerak. Jangan menunggu api membesar.”

Ivan juga menilai perkembangan Karhutla saat ini semakin memperkuat pentingnya gagasan akademisi mengenai pencegahan berbasis tata air gambut.

Selain Masyarakat Peduli Api yang bergerak ketika ancaman kebakaran muncul, pendekatan Masyarakat Peduli Air atau MPA-Air dapat dikaji sebagai upaya menjaga kondisi air dan gambut sebelum memasuki kondisi kritis.

Konsep tersebut menempatkan masyarakat sebagai bagian dari sistem pemantauan air, kanal, embung dan kondisi gambut. “Kita perlu mengubah cara berpikir. Pemadaman tetap penting, tetapi pertahanan pertama adalah mencegah kondisi yang membuat api mudah terjadi. Jaga airnya, jaga gambutnya, cegah kekeringannya, baru risiko kebakaran bisa kita tekan.”

Dari sisi penegakan hukum, hingga laporan 25 Agustus terdapat 63 kasus Karhutla, terdiri atas 55 kasus dalam tahap penyelidikan dan delapan kasus penyidikan, dengan delapan orang tersangka. Ivan meminta penegakan hukum terus dilakukan secara konsisten, khususnya terhadap pembakaran yang disengaja dan kejadian berulang.

DPRD juga mendorong agar data hotspot dapat di-overlay dengan batas konsesi, kepemilikan/pengelolaan lahan dan riwayat kejadian sehingga pola kebakaran dapat dianalisis lebih akurat.

Ivan menegaskan DPRD Provinsi Jambi akan terus mengawal kesiapan pemerintah melalui fungsi anggaran dan pengawasan.

Menurutnya, terdapat empat persoalan yang harus menjadi perhatian utama saat ini: hotspot kumulatif telah mencapai 4.412 titik, luas terbakar mendekati 1.000 hektare, kualitas udara di Muaro Jambi dan Kota Jambi tidak sehat, serta dukungan operasi udara sedang menghadapi kendala.

Karena itu, strategi penanganan harus semakin terfokus. “Ketika air power terkendala, ground power harus diperkuat. Optimalkan 81 pos, mobilisasi perusahaan, pastikan sumber air tersedia, perkuat MPA, patroli dan pemadaman darat. Pada saat yang sama kita mulai membangun pencegahan berbasis tata air agar tidak setiap tahun hanya menunggu api.”

Ivan menegaskan ukuran keberhasilan pengendalian Karhutla bukan banyaknya operasi pemadaman, melainkan semakin sedikitnya kebakaran yang berhasil berkembang menjadi besar. “Target kita sederhana: satu hotspot harus segera diverifikasi, satu kejadian harus cepat direspons, dan api harus dipadamkan sebelum meluas. Untuk jangka panjang prinsipnya juga jelas: Jaga Airnya, Cegah Apinya.”





Artikel Rekomendasi