Oleh: Wandi*
Dewasa ini kita ketahui perkembangan teknologi berkembang begitu cepat. Semua kehidupan sehari-hari erat kaitanya dengan penggunaan teknologi. Ini dikarenakan dengan adanya teknologi kita dipermudah dengan menjalani kehidupan bermasyarakat. Begitu juga dengan perkembangan teknologi informasi, sudah sangat pesat kemajuannya semenjak ditemukannya computer dan saat ini kita dihadapkan dengan revolusi industri 4.0. Revolusi Industri 4.0 ini ditandai dengan kemunculan supercomputer, robot pintar, kendaraan tanpa pengemudi, editing genetic dan perkembangan neuroteknologi yang memungkinkan manusia untuk lebih mengoptimalkan fungsi otak. Hal inilah yang disampaikan oleh Klaus Schwab, Founder dan Executif Chairman of The World Ekonomic Forum dalam bukunya The Fourt Industrial Revolution.
Sumber lain mengatakan, sebenarnya revolusi industri 4.0 sudah dimulai dengan revolusi internet pada tahun 1990an, pemanfaatan Internet of Things pertama kali dilakukan oleh Jerman. Negara ini pulalah yang menglobalkan istilah industry 4.0. Hari ini seluruh dunia baru melihat efek dari “Internet of Things”. Perkembangan penggunaan internet dan teknologi digital sebagai tulang punggung pergerakan dan jaringan konektivitas manusia dan mesin. Hal ini akan berdampak berbagai aktivitas manusia untuk bidang IPTEK serta pendidikan tinggi. Tantangan ini harus direspon secara cepat karena revolusi industri 4.0 perlu dicermati oleh semua pemangku kepentingan dilingkungan pendidikan, agar meningkatkan daya saing bangsa Indonesia ditengah persaingan global.
Dilain sisi pemuda Indonesia tengah dihadapi dilema, mereka dihadapkan dengan revolusi industry 4.0 dengan masalah kurangnya minat baca dan budaya literasi oleh pemuda Indonesia. Berdasarkan hasil survey UNESCO (United National Education Society and Cultural Studies) pada 2012, minat baca penduduk Indonesia jauh dibawah Negara Asia lainnya. Bahkan saat itu Indonesia menempati posisi kedua terendah dari 61 negara yang di survey.
Berdasarkan hasil penelitian lain juga World’s Most Literatur Nations yang dilakukan Central Connecticut State Unversity, New Britain, Amerika Serikat, pada Maret 2016 lalu. Indonesia bahkan dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 Negara dalam minat membaca, jelas itu menggambarkan bahwa Indonesia tertinggal dari Singapura dan Malaysia. Hal ini mengundang keprihatinan baik dari lembaga pendidikan, orang tua, maupun pemerintah. Upaya untuk membangun kesadaran masyarakat agar hobi membaca sudah sering dilakukan dengan banyak cara.
Ironis sebenarnya perkembangan teknologi demikian canggihnya, malah banyak menyumbang efek negatif. Misalnya permainan gadget yang berlebihan, Game Online, dan Peran Orang Tua yang belum bisa menanamkan dan memberikan contoh kepada anak agar membaca sejak dini. Dengan dihadapkannya kita pada revolusi industri 4.0 ini, kita harus mengoptimalkan peran pemuda melalui budaya literasi agar kita siap merespon tantangan revolusi ini dengan bijak.
Kilas Balik Sejarah Revolusi Industri
Jika berbicara tentang revolusi industri, ada baiknya kita kembali flash back kebelakang mengenai sejarah perkembangan revolusi industri. Pertama terjadi pada akhir abad ke 18. Hal ini, ditandai dengan ditemukannya alat tenun mekanis pada tahun 1784. Kala itu, industri diperkenalkan dengan fasilitas produksi mekanis yang menggunakan tenaga air dan uap. Peralatan kerja yang awalnya bergantung pada tenaga manusia dan hewan akhirnya digantikan dengan mesin tersebut. akibatnya, meski jumlah produksi meningkat, banyak orang yang menganggur. Kedua, Revolusi industri 2.0 terjadi diawal abad ke 20. Kala itu, ada pengenalan produksi massal berdasarkan pembagian kerja. Produksi masal ini di mungkinkan dengan adanya listrik dan jalur perakitan. Lini produksi pertama melibatkan rumah potong hewan di Cincinnati, Amerika Serikat, pada 1870. Ketiga, awal tahun 1970 ditenggarai sebagai perdana kemunculan revolusi industri 3.0 yang dimulai dengan penggunaan elektronik dan teknologi informasi guna otomatisasi produksi. Debut revolusi industri generasi ketiga ditandai dengan kemunculan pengontrol logika terprogram pertama, yakni modem 084-969, sistem otomasisasi berbasis computer ini membuat mesin industry tidak lagi dikendalikan manusia, biaya produksi dapat ditekan oleh penerapan hal ini, Keempat, sekarang kita di tengah tantangan revolusi industri 4.0. Apa yang dimaksud dengan revlolusi berikut penjelasannya Revolusi Industri adalah industri yang menggabungkan teknologi otomatisasi dengan teknologi cyber. Ini merupakan tren otomatisasi dan pertukaran data dalam teknologi manufaktur. Pada era ini, industri mulai menyentuh dunia virtual, berbentuk konektivitas manusia, mesin dan data, semua sudah ada dimana-mana.
Minimnya Budaya Literasi Pemuda Indonesia
Seperti penjelasan penulis diatas berdasarkan hasil survey UNESCO (United National Education Society and Cultural Studies) pada 2012, dan World’s Most Literatur Nations yang dilakukan Central Connecticut State Unversity, New Britain, Amerika Serikat, pada Maret 2016 lalu. Indonesia sangat tertinggal dalam budaya baca. Hal ini juga telah dikemukakan oleh Asiosasi Pengguna Jasa Internet Indonesia (APJII). Padahal dengan menggunakan media internet kita dapat memperoleh sumber bacaan yang lebih banyak dan beragam. Bahkan berdasarkan Pengamatan Buletin Belitong, sebagian besar pengguna Internet hanya membaca judul dari tiap-tiap artikel yang ada di media massa yang dapat dibuktikan dengan besarnya kebutuhan bandwith yang digunakan lebih berionrentasi pada informasi grafis.
Dari penjelasan diatas tentu efek teknologi ikut berperan dalam fenomena ini, jika kita lihat daya akses gadget hampir menembus kesemua lini, dari anak kecil sampai orang tua, terutama anak kecil, remaja bahkan pemuda yang di akses adalah game online. Sedikit sekali anak muda yang rajin membaca buku di era revolusi Industri seperti ini. Berikut penyebab rendahnya minat baca di Indonesia, Sejak kecil, anak tidak tanamkan semangat membaca oleh kedua orang tuanya, selanjutnya belum meratanya akses pendidikan di seluruh Indonesia, tentu kualitas pendidikan di Pulan Sumatera berbeda dengan yang ada di Pulau Jawa, terakhir, masih kurangnya produksi buku di Indonesia, dalam survei International Standart Book Number (ISBN) dimana Indonesia hanya memproduksi 64 ribu buku pertahun, berbeda dengan tiongkok yang memproduksi buku hingga 440 ribu buku pertahun.
Berungtunglah sekarang pemerintah melakukan sistem zonasi pada terlepas dari itu, mari kita tunggu kontribusi baiknya untuk pendidikan yang ada di di Indonesia khususnya daerah-daerah terpencil.
Optimalisasi Peran Pemuda
Ditengah tantangan revolusi industri 4.0 sudah saatnya optimalisasi peran pemuda digaungkan, berdasarkan survei antar penduduk (supas) 2015 jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2019 ini diproyeksikan mencapai 266,91 Jiwa, dan mayoritas penduduknya adalah anak muda dengan usia 15-34. ini sebenarnya menjadi sebuah tantangan tersendiri, bagaimana tidak rata-rata anak muda mengahibiskan waktunya hanya untuk sebuah gadget, rela berlama-lama menatap sebuah handphone, bahkan mereka mengahabiskan waktunya demi sebuah game online, minat baca mereka kurang sekali, mereka hanya menggunakan handphonenya untuk buka FB, IG dan nonton berjam-jam di youtube, dan jika kita lihat dari segi analisisnya pemuda Indonesia sangat hobi menjadi konsumen contohnya menjadi konsumen seperti ojek dan belanja online.
Jika seperti ini bagaimana cita-cita pemerintah dalam strategi untuk menghadapi era revolusi 4.0 diantara poinnya adalah, mendorong angkatan kerja di Indonesia dan terus belajar meningkatkan keterampilannya untuk memahami penggunaan tekhnologi internet of things serta mengitegrasikan kemampuan internet dengan lini produksi. Harusnya pemuda dituntut untuk dapat berubah dan menyesuaikan diri dan perlu sistem pendidikan yang baik yang memicu mereka agara tetap aktif, kreatif dan rajin membaca literatu-literatur yang ada.
Tantangan pemuda adalah mereka harus siap, harus beradaptasi dengan perubahan dan teknologi, harus kreatif dan harus mampu menguasai teknologi dengan baik dan benar sekaligus memanfaatkannya, selain itu sistem pendidikan di Indonesia harus menjadikan siswanya kreatif, disamping harus memupuk budaya membaca sejak dini, dan proses pembelajaran harus dirancang untuk membangun pengalaman belajar yang baru bagi pemuda, dengan hasil mereka memperoleh informasi dan mengembangakan fikiran-fikiran tersebut dengan menjadi sebuah ide. Jika tidak di era revolusi industri 4.0 ini pemuda bisa saja hanya menjadi penonton di negeri sendiri.
*Dosen, dan Pendiri Komunitas Menulis Al-Mujaddid di STIES Al-Mujaddid, Kabupaten, Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi, Alumni Pascasarjana UIN Yogyakarta.
Ironi Nasib Petani dan Harapan Pada Pilkada Serentak Provinsi Jambi
Politik Pasca Pemilu, Cinta “Tanah Air” dan Persatuan Indonesia
BPH Migas, Ombudsman hingga DPR RI Sidak BBM Bersubsidi di Jambi : Ini Temuannya


