JAMBERITA.COM- Omah Literasi Jambi menggelar Kajian Tokoh dan Pemikiran pada Sabtu (17/8/2019). Kajian dengan tema memperkokoh intelektualisme sebagai ideologi pergerakan ini menghadirkan advokat dan juga aktivis lingkungan Musri Nauli.
Menurut Omah Literasi, kegiatan ini disusun dengan mengikuti 14 kali sesi. Dimulai dari Filsafat Barat (Pra Yunani/Pra Socrates, abad kegelapan, zaman resainance, hingga kontemporer), filsafat Timur (tiongkok, India dan Timur Tengah). Diakhiri dengan pemikiran nusantara (Gusdur, Tan Malaka, Filsafat Jawa, Syech Siti Jenar, Ronggowarsito, Kejawen, filsafat Melayu Jambi).
Dalam paparannya, Nauli menyampaikan sejumlah pemikiran filisuf kenamaan di zamannya. Salah satunya Pidato socrates Pengadilan Tinggi Athena, 399 SM.
“Dan sekarang wahai orang-orang yang telah menghukumku, ingin kuramalkan nasib kalian; sebab sebentar lagi aku mati, dan saat-saat menjelang kematian manusia dianugerahi kemampuan meramalkan. Dan kuramalkan kalian, para pembunuhku, bahwa tak lama sesudah kepergianku maka hukuman yang jauh lebih berat daripada yang kalian timpakan kepadaku pasti akan menantimu… jika kalian menyangka bahwa dengan membunuh seseorang kalian dapat menjegal orang itu sehingga tak mengecam hidup kalian yang tercela, kalian salah duga; itu bukan jalan keluar terhormat dan membebaskan; jalan paling mudah dan bermartabat bukanlah dengan memberangus orang lain, namun dengan memperbaiki diri kalian sendiri. Kematian mungkin sama dengan tidur tanpa mimpi –yang jelas baik- atau mungkin pula berpindahnya jiwa ke dunia lain. Dan adakah yang memberatkan manusia jika ia diberi kesempatan untuk berbincang dengan Orpheus, Musaeus, Hesiodus, dab Homerus? Maka, sekiranya hal ini benar, biarlah aku mati berulang kali. Di dunia lain itu mereka tak akan menghukum mati seseorang hanya karena suka bertanya: tentu tidak. Sebab kecuali sudah lebih berbahagia daripada kita saat ini, mereka yang di dunia lain itu abadi, sekiranya apa yang sering dikisahkan itu benar… “.
Menurutnya, pidato Socrates menjelang kematiannya menjadi magnet untuk kebesaran Filsafat yang tumbuh di Yunani. Menjadi permulaan pembicaraan Filsafat yang tumbuh di Eropa. Sebagian kalangan menyebutkan sebagai Filsafat Barat.
Dituliskan oleh Plato, Socrates merupakan filosof besar. Socrates adalah guru Plato dan Aristoteles. Ketiganya kemudian dikenal ahli filsafat besar dari Eropa. Pondasi yang kemudian menginspirasi tumbuhnya berbagai varian filsafat hingga zaman Renaissance.
Mengapa filsafat begitu penting dikehidupan manusia ? Nauli mengatakan bukankah ketika di malam hari ketika bulan purnama, bumi begitu terang. Sehingga kekaguman kepada alam semesta membuat kita mengagumi sang Pencipta ?
Bukankah ketika anak muda sedang jatuh cinta kepada seseorang yang dianggap “yang terbaik” didunia kemudian disenandungkan dengan bait-bait yang menyentuh kalbu.
Lihatlah syair cinta Sheila Majid didalam lagunya “Engkau Laksana Bulan”. “Engkau Laksana Bulan. Tinggi di atas kayangan. Hatiku dah kau tawan Hidupku tak keruan”
Bukankah kecintaan kepada manusia kemudian dituliskan oleh Jalaluddin Rumi. Atau ketika membicarakan “bulan’ yang nun jauh disana kemudian memisahkan antara alam mikrokosmos dan alam Mikrokosmos.
Membicarakan “bulan” atau membicarakan “cinta” juga membicarakan Tuhan. Ketiganya kemudian menjadi “perhatian” ahli filsafat kemudian merumuskannya.
Atau Syair Hamzah Fanzuri dalam konsepsi “wujuddiyah”. Sebagaimana konsepsi “Wujudiyah” didalam syairnya “bahwa barangsiapa mengenal dirinya maka akan dapat mengenal Tuhannya”.
Atau “pertarungan pemikiran” antara Wali Songo dengan Syeh Siti Jenar ?. Sebagai penganut Tarekat Akmaliyah dan Tarekat Syathariyah, ilmu Tasawuf Syech Siti Jenar masih hidup dikalangan masyarakat Jawa. Lihatlah bagaimana konsepsi “manunggaling Kawula Gusti” masih menjadi pembicaraan di alam kosmopologi masyarakat Jawa. Ajaran Manunggaling Kawula Gusti menganggap bahwa Tuhan, wujud yang tidak kasat mata dapat bersatu dengan dirinya.
Atau kegemilangan Nicolaus Copernicus didalam teorinya “Heliosentris” didalam bukunya On the Revolutions of the Heavenly Spheres (1543) yang menjungkalkan teori dari Aristoteles dan Ptolemeus tentang “Matahari mengelilingi bumi” (teori geosentris).
Tahun 1616 Gereja kemudian menolak dan menyatakan sebagai buku yang terlarang dengan berpedoman “Maka berhentilah matahari dan bulan pun tidak bergerak, sebagai alasan dan menegaskan Matahari-bukan bumi yang bergerak.
Walaupun Galileo kemudian dihukum tahanan rumah, Namun berhasil membuktikan teori Copernicus. Teori yang kemudian tidak terbantahkan hingga sekarang.
Galileo memang dihukum tahanan rumah. Syech Siti Jenar dan Hamzah Fansuri kemudian dihukum mati.
Namun kekayaan pemikiran Imam Gazali-Ibnu Rusyd, Hamzah Fanzuri, Syeh Siti Jenar, Nicolaus Copernicus, Galileo melambangkan peradaban bangsa yang maju.
Kita kemudian mengenal cara pandang “alam mikrokosmos-makro” antara Filsafat Barat dan Filsafat Timur. Pemikiran yang masih hidup dipemikiran barat dan Timur.
Sehingga kehidupan sehari-hari tidak dapat dipisahkan Filsafat.
Filsafat diartikan “softhia” atau Sophia”. Sedangkan kata “philoshopos” dapat digunakan oleh Pithagoras (500-580 SM). Dapat diartikan sebagai cinta kebenaran.
Filsafat dapat juga diartikan sebagai falsafah. Ada juga yang menyebutkan sebagai “nilai-nilai luhur’. Di Jambi, nilai-nilai luhur dapat dilihat didalam Seloko.
“Nah. Untuk memahami alur, kerangka berfikir, metodologi, Filsafat sebagai Ilmu, Filsafat, Ilmu dan agama serta cabang-cabang Filsafat, Omah Literasi menyusun rangkaian panjang untuk “menerawang” alam pemikiran para tokoh. Selain ingin melihat pemikiran yang tumbuh dan masih hidup, kegiatan ini juga ingin membongkar “logika” palsu atau kesesatan yang sering mengganggu nalar,” katanya.
Menurut Omah Literasi, kegiatan ini disusun dengan mengikuti 14 x sesi. Dimulai dari Filsafat Barat (Pra Yunani/Pra Socrates, abad kegelapan, zaman resainance, hingga kontemporer), filsafat Timur (tiongkok, India dan Timur Tengah). Diakhiri dengan pemikiran nusantara (Gusdur, Tan Malaka, Filsafat Jawa, Syech Siti Jenar, Ronggowarsito, Kejawen, filsafat Melayu Jambi).
Diskusi diakhiri dengan pemberian Cinderamata dari Pelaksana kepada Pemantik Diskusi.(*/sm)
Kopertais Wilayah XIII Jambi Terus Kawal Akreditasi PTAIS Jambi
Intip 3 Tips Jaga Keamanan Anak di Rumah, Ingat Tutup Stopkontak
Bikin Ketagihan, Cabai Bisa Atasi Peradangan dan 4 Manfaat Ini


Dialog Menkum Supratman di Kanwil Jambi : Kebijakan Pusat Implementasikan di Daerah



