Kisah Organisasi Pemuda Ujung Barat Jambi Candradimuka IPPOS (Bag 2)

Kericuhan Partai Final Sepak Bola (IPPOS VS APRI)


Kamis, 31 Oktober 2019 - 10:08:18 WIB



 

Ali Surakhman

 

Dewan Banteng dibentuk oleh beberapa orang tokoh militer mantan pimpinan dan anggota Komando Divisi IX Banteng yang telah dibubarkan beserta tokoh sipil yang berasal dari Sumatera Tengah. Dewan Banteng yang diketuai oleh Letnan Kolonel Ahmad Husein bertujuan untuk membangun daerah yang dianggap tertinggal dibanding pembangunan di pulau Jawa.Gagasan itu didorong oleh kenyataan yang mereka lihat bahwa setelah kemerdekaan nasib para prajurit sangat mengenaskan, padahal mereka itu dulunya adalah para pejuang yang bertaruh nyawa ketika merebut dan mempertahankan kemerdekaan pada tahun 1945 - 1950. Begitupun kondisi masyarakat pada umumnya yang jauh dari sejahtera. Kondisi yang ada di daerah mereka pandang jauh berbeda dibanding pembangunan di pulau Jawa, padahal sumber devisa terbanyak berasal dari daerah.

Hal lain yang menimbulkan ketidakpuasan adalah perlakuan pemerintah pusat terhadap Komando Divisi IX Banteng. Divisi IX Banteng adalah suatu divisi dalam Angkatan Perang Republik Indonesia yang dibentuk pada masa Perang Kemerdekaan tahun 1945 - 1950 melawan kolonialis Belanda, dan membawahi teritorial Sumatera Tengah, yang terdiri dari Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau serta Jambi sekarang ini. Divisi IX Banteng mempunyai pasukan yang banyak karena adanya Sekolah Pendidikan Opsir di Bukittinggi, bahkan salah satu pasukannya, yaitu Resimen 6 dianggap sebagai pasukan terbaik di Sumatera.

Penciutan Divisi Banteng dilakukan dengan mengirim pasukan-pasukannya ke berbagai daerah diantaranya ke Jawa Barat, Aceh, Ambon dan lain-lain. Salah satu pasukan Divisi Banteng yaitu Batalyon Pagaruyung mengalami nasib yang lebih menyedihkan dibanding batalyon lainnya. Seusai bertugas di Ambon, lima dari delapan kompinya dipindahkan dan dilebur kedalam Divisi Siliwangi, Jawa Barat sehingga menyebabkan terputusnya hubungan dengan divisi induknya, yaitu Divisi Banteng di Sumatera Tengah. Penciutan itu berlanjut terus sehingga akhirnya menyisakan satu brigade. Brigade yang kecil itu masih menyandang nama Brigade Banteng yang dipimpin Letnan Kolonel Ahmad Husein. Selanjutnya brigade itupun diciutkan lagi sehingga hanya berbentuk resimen, yaitu Resimen Infanteri 4 yang kemudian dilebur kedalam Komando Tentara Teritorium I Bukit Barisan (TT I BB) yang berkedudukan di Medan. Ahmad Husein pun hanya menjadi Komandan Resimen Infanteri 4 TT I/BB.

Perlakuan pemerintah pusat yang memecah-belah batalyon-batalyon dan pembubaran Divisi IX Banteng menimbulkan rasa sakit hati pada perwira-perwira dan anggota pasukan lainnya dari Divisi Banteng yang telah berjuang mati-matian dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Pertemuan para perwira yang pertama di Jakarta pada 21 September 1956 kemudian dilanjutkan dengan pertemuan kedua di Padang pada tanggal 20 s.d. 24 November 1956. Pertemuan tersebut dihadiri tidak kurang dari 612 perwira aktif dan pensiunan yang berasal dari Divisi Banteng yang telah dibubarkan itu. Dalam pertemuan itu mereka membahas tentang situasi sosial, politik dan ekonomi rakyat Sumatera Tengah yang dianggap memprihatinkan. Pertemuan itu akhirnya menghasilkan beberapa keputusan dalam bentuk tuntutan.

Pada tanggal 20 Desember 1956 dibentuklah suatu dewan untuk mewujudkan hasil-hasil pertemuan yang kedua itu. Dewan itu dinamakan Dewan Banteng, yang tetap mengambil nama dari Divisi Banteng yang telah dibubarkan. Dewan Banteng tidak hanya didukung oleh para perwira militer mantan anggota Divisi Banteng, tetapi juga oleh semua partai politik yang ada di Sumatera Tengah kecuali Partai Komunis Indonesia (PKI). Bahkan Dewan itu juga didukung oleh semua elemen masyarakat Sumatera Tengah, seperti ulama, kaum intelektual, pemuda dan kaum adat, sehingga melahirkan semboyan ketika itu yang berbunyi: Timbul Tenggelam Bersama Dewan Banteng. Namun dalam pendiriannya Dewan Banteng tetap mengakui Pemerintahan Republik Indonesia dibawah Presiden Soekarno dan Perdana MenteriDjuanda serta Jenderal A.H. Nasution sebagai.

Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD).

Setelah didirikan Dewan Banteng, Kerinci yang merupakan bagian dari wilayah Sumatera Tengah kedatangan banyak tentara baru yang ditugaskan untuk memperkuat pertahanan wilayah ini. Tentara-tentara tersebut sebagian besar menyenangi olah raga sepak bola. Bertepatan dengan hari ulang tahun ke-11 Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI) tanggal 5 Oktober 1956 diadakan pertandingan beberapa cabang olah raga, salah satunya adalah pertandingan sepak bola yang melibatkan klub APRI. Pertandingan dimulai dari babak penyisihan, semifinal dan sampai pertandingan final yang menampilkan antara kesebelasan APRI melawan kesebelasan IPPOS. Pertandingan diadakan di lapangan baru sepak bola yang sekarang merupakan lapangan Pemda Kabupaten Kerinci di Koto Tinggi, Sungai Penuh. Lapangannya luas sesuai menurut ukuran nasional tetapi masih banyak bebatuan kerikil dan tidak ditumbuhi rumput.

Pertandingan yang berlangsung seru dan cenderung panas ini disaksikan oleh para penonton yang banyak dan supporter masing-masing klub yang ramai sekali dari masyarakat yang tinggal di kota Sungai Penuh dan sekitarnya. Saya turun bermain di babak pertama dengan skor 1 - 0 untuk IPPOS. Setelah istirahat, di babak kedua skor bertambah satu lagi sehingga menjadi 2 – 0. Permainan berlangsung semakin bertambah panas dan menegangkan. Kiper IPPOS saat itu adalah Ahmad Chan (keturunan India), dia terkadang membuat banyak aksi yang menambah pertandingan semakin panas, sehingga membuat salah seorang pemain APRI menjadi semakin tidak dapat mengendalikan emosinya dan akhirnya langsung memukul penjaga gawang IPPOS tersebut, yang berakibat memancing amarah dari pihak IPPOS dan menimbulkan perkelahian di tengah lapangan dan penonton berhamburan ke tempat perkelahian. Akhirnya pihak pengamanan pun turun melerai massa, bahkan dengan menembakkan senjatanya ke atas untuk mengendalikan massa dan menghentikan perkelahian. Namun, emosi massa yang sudah meledak, ibarat erupsi gunung berapi yang tidak terbendungkan, susah untuk dikendalikan.

Buntut dari kericuhan itu banyak atlet sepak bola dan masyarakat yang ditangkap. Salah seorang yang ditangkap adalah Amarzuk, dia dibawa oleh polisi masuk ke dalam dusun Sungai Penuh untuk menunjukkan teman-temannya yang dianggap menjadi dalang perkelahian massal, tetapi saat sampai di Simpang Empat tiba-tiba rombongan polisi dihadang oleh tiga orang anggota IPPOS, yaitu M. Sangkut, Zul Arsi dan M. Yunus, dan langsung menyerang polisi yang membawa tersebut hingga babak belur dan Amarzuk pun lepas dari tangan polisi.

Pada saat itu padi di sawah sedang menguning, orang-orang yang ikut serta di dalam perkelahian massal menghilang dan menyelamatkan diri menyelinap di tengah persawahan dan sembunyi di baheung, pondok-pondok di sawah. Malam harinya, rombongan polisi datang untuk menemui Kepala Dusun Sungai Penuh, yaitu H. Abdul Karim. Mereka menanyakan dan mencari anggota IPPOS yang dicurigai terlibat perkelahian massal. Mendengar kabar itu, berangkatlah saya selaku Ketua Umum IPPOS dan beberapa anggota pengurus IPPOS lainnya, seperti Sodikin Mukhtar selaku sekretaris umum dan Zukani lsmail selaku penasehat IPPOS. Setelah sampai di kantor polisi, yang berlokasi di BPD Provinsi Jambi sekarang, kami langsung dimasukkan ke sebuah kamar tahanan, beberapa jam kemudian dikeluarkan lagi dan dibawa ke sebuah ruangan untuk diinterogasi. Polisi menanyakan tentang organisasi IPPOS yang mereka kait-kaitkan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), mereka menduga bahwa IPPOS adalah organisasi pemuda underbow PKI. Kami membantah semua dugaan itu dan mengatakan bahwa IPPOS adalah organisasi pemuda dan pelajar yang berkiprah dan bergerak di bidang olah raga dan mendidik kaum muda-mudi berakhlak mulia yang akan berguna bagi pembangunan Sungai Penuh dan sebagai bekal untuk menjalani kehidupan kelak di tengah masyarakat. Kami perlihatkan juga anggaran dasar dan anggaran rumah tangga IPPOS semenjak didirikan pada tahun 1954. Akhirnya pukul 02.00 dinihari kami dilepaskan dan langsung menuju rumah Amiruddin Suki dekat Masjid Raya Sungai Penuh, tempat berkumpulnya sebagian pemain lPPOS dan anggota lainnya yang diantaranya masih menderita luka dan lebam setelah perkelahian.

Selanjutnya berkat bekerjasama dengan pihak pemerintah, aparat keamanan dan APRI, IPPOS mengadakan acara semacam islah yang bertujuan untuk memperbaiki hubungan antara pemerintahan dan masyarakat terutama anggota IPPOS, dengan harapan ke depan tidak terjadi lagi insiden yang sama. Inilah babak partai final pertandingan sepak bola yang menegangkan dan mencemaskan yang pernah terjadi di Kota Sungai Penuh tanpa mendapatkan hadiah dan piala.

Bagi kesebelasan IPPOS insiden tersebut merupakan peristiwa yang memalukan yang dipicu oleh pihak lawan, karena IPPOS sangat menjunjung tinggi persahabatan dan sportivitas di atas kalah-menang dalam sebuah pertandingan. IPPOS tidak pernah bermain kasar dan curang, hal itulah yang membuat pemain IPPOS disukai dan ditunggu oleh pecinta sepak bola serta sering diundang untuk bermain sepak bola ke berbagai klub sepak bola di Kabupaten Kerinci bahkan sampai ke Jambi dan Sumatera Barat. Motto IPPOS adalah "Sportivitas, Persahabatan dan Nama Baik IPPOS".

 

Sumber : K. H. Zainuddin Ismail

              Yozerizal Zis staff MENHAN RI



Artikel Rekomendasi