Pedagang, Ojek hingga Sopir Angkot di Jambi Komentar Soal Penundaan Fly Over, Ini Katanya



Senin, 11 November 2019 - 16:15:30 WIB



JAMBERITA.COM - Warga masyarakat mulai dari Pedagang, Ojek sampai dengan Sopir angkot di wilayah kota Jambi menanggapi polemik penundaan fly over simpang mayang Kota Jambi oleh DPRD Provinsi Jambi.

Pedagang yang dulunya pernah tinggal di kawasan Arizona Mayang Saiffudin mengatakan, jangan sampai kondisi kemacetan di kawasan itu semakin hari semakin parah baru Pemerintah memikirkan pembangunan ke depan.

"Jadi (fly over) sangat dibutuhkanlah," ujarnya saat diwawancarai, Senin (11/11/2019).

Terkait dengan pertimbangan dewan karena masih banyaknya jalan provinsi yang rusak itu jangan dijadikan alasan.

Menurutnya, kenapa baru sekarang menjadi permasalahan untuk menunda pembangunan fly over.

"Memang jalan banyak yang rusak, tapi kenapa baru sekarang dibenturkan. Seharusnya jalan jalan rusak itu sudah dikebut duluan, ibaratnya jangan membangun fly over ini menjadi alasan untuk memperbaiki jalan yang dulu, pasti dana nya beda kan?" terangnya.

Selanjutnya mengenai pertimbangan dewan dalam satu tahun pembangunan fly over itu tidak akan selesai, itu menurut Saiffudin ada benarnya, karena terlalu buru buru sehingga berdampak pada kualitas bangun ketika selesai dilaksanakan.

"Sebenarnya mereka lebih tahu dan lebih paham mana yang harus dikerjakan lebih dahulu. Jangan dikerjakan satu tahun lah nanti kualitasnya nggak bagus, pemerintah kerja tayang terus ujung-ujungnya buru buru dan kualitasnya kurang bagus," jelasnya.

Salah satu penyedia jasa/ojek yang mangkal di depan STM atas sejak tahun 2001 Ade (58) juga angkat bicara.

Ia mengatakan terkait dengan pertimbangan dewan itu mungkin masih ada yang harus lebih diutamakan. Akan tetapi itu kebijakan dirinya menyatakan kurang deal.

"Dari dulu ini, dari Zaman HBA dulu dak, sampai dengan ke Zumi Zola lah berenti pula, sekarang ditunda, bearti tidak tuntas lah, masa Provinsi yang lain sudah ada jembatan layang, untuk Jambi ni belum, malu lah kita warga Jambi,"ucapnya.

Mengenai kemacetan di kawasan tersebut, menurut kesaksian Ade memang sudah sering mengalami kemacetan bahkan sering kali terjadinya laka lantas.

"Oh total macetnya ni, Jadi (fly over) butuhlah, orang nak nyebrang susah, saya tinggal disini dari tahun 80an," ujarnya.

Kemudian Ramai (50) yang juga tukang ojek sejak dari 2001 mengklaim memang kemacetan dikawasan Simpang Mayang ke Tugu Juang Kota Jambi sudah seharusnya diatasi.

Apalagi jika adanya acara di Mall Jamtos. Jadi menurutnya pembangunan fly over jangan ditunda lagi.

"Untuk jangka di 2020 ini jangan ditunda-tunda lagi, tahun dulu ditunda lagi, jadi tidak ada kemajuan, kita ini kan harus ada kemajuan, jangan kemunduran jadinya, di provinsi lain juga sudah ada fly over, jadi harus ada kemajuan," ujarnya.

Selanjutnya, warga STM atas Sudirman Herman yang berusia 60 tahun juga menyampaikan terkait dengan defisit anggaran, Pemrov dan DPRD Provinsi Jambi itu jangan membohongi dan hanya menyenangkan hari rakyat saja.

"Iya jangan bohongi rakyat lagi, kalau ada bilang ada, kalau tidak ada bilang tidak. Kemarin katanya sudah setuju, artinya ini anggaran sudah ada, sekarang anggaran digunakan untuk lain, nggak ada itu, anggaran nol, jadi jangan nyenangi hati rakyat saja," terangnya.

Sedangkan Sopir Angkot yang selalu menarik penumpang dari Pasar, Mayang sampai dengan Terminal Alam Berajo Kota Jambi Ucok, menyarankan agar DPRD dan Pemprov Jambi memberikan solusi kongkrit untuk mengatasi kemacetan..

"Buatlah solusi, genap ganjil, sehari ganjil sehari genap, coba dalam sebulan, sehari nomor plat genap, sehari ganjil," ungkapnya.

Sisi lain yang membuat terjadi kemacetan itu sebut Ucok, masyarakat penguna jalan kurang taat terhadap peraturan dan parkiran sembarangan bahkan beli kerupuk saja asal berhenti sehingga terjadi macet panjang.

"Coba solusi genap ganjil, genap ganjil, itu namanya solusi, jadi kalau dia kerja naik trans koja, yang mobil nomornya genap ditinggal di rumah," tuturnya.

Pengalamannya yang selalu membawa penumpang dengan menggunakan angkot itu kadang kadang memang tidak bisa disalahkan karena permintaan penumpang, Ucok pun mau tak mau harus menuruti, karena menyadari mereka sebagai pelayan dan jasa.

"Tak bisa disalahkan, kadang kadang penumpang itu mintanya berhenti disini, padahal dak boleh, pas awak berentih disini, ay bang dikitlah kesana, padahal tidak boleh," ungkapnya.

Intinya, Ucok mengaku sebagai masyarakat kurang taat/mematuhi peraturan lalu lintas sehingga kerapnya terjadi kemacetan, terlebih di kawasan Simpang Mayang itu.

"Kalau yang tadi katanya buat fly over, kita kan ini harus memikirkan anggaran pendapatan daerah juga kan, kalau buat fly over, bangun bangunan itu harus dirobohkan dak,? Berapa duitnya permeter, jadi coba dulu solusi tadi yang nomor plat genap ganjil tadi satu bulan," harapnya.

Menurut Ucok, kendaraan pribadi di Kota Jambi ini sudahkah melebihi kapasitas 10 juta unit,? kalapun mungkin ada, bisa jadi fly over itu untuk dibangun tapi jika sebaliknya, untuk apa dan hanya membuang-buang duit saja.

"Untuk apa, (kalau dibangun) orang/pengendara lewat fly over) basing basing saja, ada yang dari atas, ada yang dari bawah, jadi apa buang-buang duit saja," pungkasnya.(afm)



Artikel Rekomendasi