SAH: Kesakralan Hari Jumat Jangan Hilang Dalam Kehidupan Umat Muslim



Jumat, 25 September 2020 - 08:49:33 WIB



JAMBERITA.COM- Ketua DPD Partai Gerindra Provinsi Jambi Sutan Adil Hendra (SAH) mengajak umat muslim tidak melupakan kesakralan hari Jumat sebagai penghulu segala hari, yang penuh berkah.

Menurut Anggota DPR RI tersebut, hari Jum’at adalah hari yang penuh keistimewaan, di mana beberapa hadits Rasulullah SAW menyebutkan di antara keistimewaan dan kemuliaan hari Jum’at ialah diciptakannya Nabi Adam AS oleh Allah SWT, dimasukkannya dalam surga, diturunkannya ke dunia dan diterima taubatnya.

"Hari Jum’at sebagai hari dikabulkannya doa-doa seseorang dan Allah membebaskan penghuni neraka sebanyak 600.000 orang setiap jam pada hari Jum’at. Bahkan hari Jum’at pula, hari kiamat akan terjadi. Sehingga dengan demikian hari Jum’at dikenal sebagai “sayyidul ayyam wa ’idul muslimin”, yaitu penghulu hari dan hari raya umat Islam," ungkap pria yang dikenal sebagai Bapak Beasiswa Jambi tersebut. 

Selain itu, dalam safari Subuhnya itu, SAH mengatakan pada hari Jum’at diwajibkan bagi setiap muslim untuk melaksanakan shalat Jum’at, terutama bagi yang mukallaf, laki-laki, merdeka, tidak sedang musafir, dan tidak dalam keadaan uzur/sakit. Kemudian disunatkan pula bagi kaum muslimin mandi sebelum berangkat ke masjid, bersiwak, memakai pakaian yang baik, berharum-haruman, dan bersegera datang ke masjid.

Kemuliaan dan keistimewaan hari Jum’at dewasa ini sering kali dianggap oleh sebagian umat Islam sebagai hari biasa, tak ubahnya seperti hari-hari yang dilewati dalam rentetan hari dalam seminggu. Disadari atau tidak, makna Jum’at yang mulia itu kini semakin hari semakin bergeser dari makna asalnya, bahkan nyaris terlupakan.

Hal ini dapat dilihat ketika menjelang sampai waktunya pelaksanaan shalat Jum’at, masjid yang seyogianya sudah dihadiri jama’ah, namun ternyata masih terdapat shaf-shaf yang kosong. Ada yang masih dalam perjalanan menuju masjid, ada yang  sengaja melambat-lambatkan datang kemesjid, ada yang sibuk dengan pekerjaan, bahkan ada pula yang sudah datang tetapi belum memasuki masjid.

Tidak hanya itu, juga kita lihat hampir di setiap lingkungan masjid, ada saja para pedagang yang menggelar dagangannya malahan sampai khatib menyampaikan khotbahnya. Padahal jelas-jelas Allah melarang melakukan transaksi jual beli apa saja ketika masuknya shalat Jum’at. Hal ini dijelaskan Allah dalam Al Qur’an surah Jum’ah ayat 9:

Artinya: Hai, orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Menurut SAH ayat ini telah jelas menunjukkan kepada kita, apabila khatib telah naik ke atas mimbar, dan muadzin telah azan, maka kaum muslimin wajib bersegera memenuhi panggilan muadzin itu dan meninggalkan semua pekerjaan untuk masuk ke dalam masjid.

Sehingga SAH mengatakan hendaknya sebagai muslim di Hari Jumat kita meramaikan masjid, melaksanakan shalat-shalat sunat, membaca Al Qur’an, membaca shalawat, istighfar, dan ibadah lainnya sambil menunggu masuknya waktu pelaksanaan shalat Jum’at.(*/sm)

 





Artikel Rekomendasi