Korean Wave, Layakkah Jadi Panutan



Sabtu, 26 September 2020 - 12:25:18 WIB



Oleh: Yuli Farida*

 

Baru-baru ini Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin menyatakan dalam keterangannya saat memeringati 100 tahun kedatangan orang korea di Indonesia, Berharap K-Pop dapat mendorong munculnya kreativitas anak muda bangsa. Beliau juga berharap anak muda lebih giat mempromosikan budaya bangsa ke dunia Internasional, Kegandrungan banyak orang Indonesia terhadap K-Pop menunjukan selera musik dari Negeri Ginseng tersebut mendapat tempat di dalam negeri. Gelombang Korea atau Korean Wave juga membawa pengaruh budaya Korea di Indonesia, Selain melalui musik pop, juga lewat makanan, drama, film, dan mode. Selain lewat Industri hiburan, kata Ma’ruf, hubungan bilateral antara Indonesia dan Korea juga semakin diperkuat pada sektor ekonomi, sosial, dan budaya. Karena itu, Ma’ruf berharap tren tersebut dapat meningkatkan kerja sama antar kedua negara, khususnya bidang ekonomi. Denfgan adanya peringatan 100 tahun kedatangan warga Korea ke Indonesia, Ma’ruf Amin berharap hubungan baik tersebut dapat terjalin semakin kuat hingga menghasilkan manfaat bagi masyarakat kedua negara. (tirto.id 20/09/2020).

Pernyataan Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin soal K-Pop politikus Partai Gerindra Ahmad Dhani     “ Jadi Pak Wapres kita memang tidak paham benar soal industri musik, Harusnya sebelum kasih statement, diskusi dulu sama saya sebagai orang yang sangat paham industri musik, kata Ahmad Dhani kepada wartawan.” Ahmad Dhani menyebut musisi Indonesia jauh lebih berkualitas ketimbang artis K-Pop dan tentu lebih kreatif. Menurut Dhani, yang dibutuhkan musisi Indonesia saat ini ialah dukungan dari pemerintah. Musisi Indonesia jauh lebih bermutu dari pada Korsel, hanya saja selama ini belum ada presiden yang punya skill soal industri dunia musik. Ahmad Dhani punya saran untuk pemerintah terkait  pengembangan musik. Dia berharap ada menteri yang amat memahami seniman dan indusri dunia, “ Saran, untuk saat ini, cari menteri yang paham soal industri dunia. Seniman seperti pelaku industri paad umumnya. Butuh pemerintahan yang suportif, kata Dhani.( detiknews 20/09/2020).

Kapitalisme Dibalik K-Pop

Negara Korea Selatan merupakan negara asia yang memiliki budaya dan industri yang saat ini sangat populer diminati oleh masyarakat, khususnya di Indonesia. Industri nya yang sangat mempengaruhi masyarakat dunia dengan industri musik mereka yaitu boy band dan girl band, bukan hanya dari dancenya saja tetapi Korea juga dikenal dengan industri perfilman yang super romatik, belum lagi gaya hidup mereka yangvserba waw. Industri musik mereka sangat digandrungi oleh kalangan remaja Indonesia. Terlebih lagi musik tersebut dibawakan oleh girl band dan boy band yang memiliki paras yang cantik dan tampan serta memiliki ritme musik yang bagus dan energik sehingga sesuai dengan remaja saat ini. Hal ini membuat munculnya para fans yang sangat menyukai boy band dan girl bend tersebut. Boy band dan girl band yang terkenal saat ini antara lain BTS ( Bangtan Boy ), EXO,BTOB, Black Pink, Red Velvet dan lainnya. Para fans  tentunya akan rela mengeluarkan uang untuk membeli tiket konser, album, produk yang diiklankan idolanya dan lain sebagainya. Barang-barang tersebut tentunya tidak didapat dengan harga yang murah. Album musik boy band atau girl band di jual dengan kisaran harga Rp. 200- 20 ribu ( satu album), dan jika ingin memiliki full album kisaran harga mencapai Rp. 600 ribu. Sedangkan lighstick yang di jual sesuai dengan boy band atau girl band yang di idolakan kisaran bharga mencapai Rp, 500-600 ribu. Harga tiket koser di jual sekitar 1-2,7 juta sesuai dengan seatplan. Bahkan jika konser di adakan di luar negeri para fans akan pergi ketempat para idol mereka melangsungkan konser, sehingga dibutuhkan uamg lebih untuk menonton konser. Hal ini dapat dikaitkan dengan adanya kapitalisme di balik Musik K-Pop yang djadikan sebagai komoditas untuk mencari keuntungan dengan berbagai barang yang nisa di jual seperti tiket konser, merchandise, album dan lainnya maka para kaum kapitalisme memanfaatkan produk tersebut untuk di jual. Kapitalisme kaum kapital dengan bsarana K-Pop cukup berhasil mendominasi pasar ekonomi hal ini dikarenakan maraknya fans yang membeli merchandise dari nluar negeri untuk membeli produk yang berkaitan dengan idola. Bahkan sampai pergi keluar negeri untuk menonton konser sang idola.

Namun, di negeri Muslim bernama Indonesia ini, alih-alih menyelamatkan akidah dan berusaha meredakan jiwa umat yang tengah meradang, pernyataan Pak Wapres justru membuat luka umat kian menganga. Seolah menegaskan umat ini jadi lebih bermatabat jika mengadopsi dan terlibat menyukseskan K-Wave. Semestinya, di tengah luka sosial akibat pandemi, upaya terbaik adalah menyuburkan suasana keimanan, mendekatkan diri kepada sang khalik berikut menerapkan aturan kehidupan dari-Nya. Tidakkah ini malah menjadi inspirasi yang beggitu kental dengan fatamorgana?. Sejujurnya, Korea Selatan sendiri tengah menuju jurang kehancuran peradapan. Coba kita indera, bagaimana tingginya angka bunuh diri di kalangan artis Korea? Bagaimana tingginya angka oprasi plastik di tengah masyarakat demi tetap bisa menyegarkan mata yang memandangnya, betapa rendahnya angka pernikahan di sana akibat kaum perempuan sudah banyak yang enggan menikah. K-Wave adalah tsaqafah basing yang harus dihantam, bukan malah dibiarkan berkembang di sebuah negeri Muslim, karena membahayakan akidah, menghinakan identitas kaum muslim, serta menjerumuskannya menjadi kaum pembebek semata. Padahal, Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih mulia darinya. Sudah semestinya kaum Muslim sadar, aliran makna hidup ini bersandar daya dan upaya semata kepada Allah yang maha pengatur manusia, kehidupan, dan alam semesta. Sebagai mana firman Allah SWT dalam TQS. Adz-Dzariyat ayat 56,” Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku,” Maka segala aktivitasnya harus terikat dengan hukum Allah SWT. Dan pada dasarnya mengidolakan itu tidaklah salah dan bebas mengidolakan siapa yang menjadi panutan hidup kita tetapi, perlu menjadi catatan “ siapa yang kita idolakan”? karena Rasulullah pernah berkata “ Tidaklah seseorang mencintai suatu kaum melainkan dia akan dikumpulkan bersama mereka pada hari kiamat nanti.” ( Lihat ‘Aunul Ma’bud,11/164, Asy Syamilah). Pertanyaannya adalah, adakah yang nanti di akhirat dan padang mahsyar mau dikumpulkan bersama dengan orang-orang pelaku maksiat atau orang-orang kafir?, Allahu a’lam bishshawab.(*)

 

Penulis adalah: Aktivis Dakwah Kampus*



Artikel Rekomendasi