JAMBERITA.COM, JAKARTA, Indonesia sebagai negara majemuk yang berbhineka dan baeragam seni budaya dan potensi serta konflik sosialnya. Dari konflik personal sampai konflik sosial yang berbasis sara atau primordial ada. Berlapis lapis bertingkat tingkat labeling hingga kebencian sesama anak bangsa bisa dilakukan.
DR. Chryshandan Dwilaksana M.Si Mengatakan, Pelakunya pun beragam dari bandar dalang dan aktor intelektual, ikon sara hingga pelaksana lapangan dan massa yang tidak tahu apa apa ada. Di situ diaduk dalam berbagai issue dari issue pandemi politik kebijakan hingga pelengseran presiden dihembus hembuskan.
"Dan ajaibnya para dalang tenang saja melenggang lain waktu othak athik gathuk cari issue untuk mengulangi. Dalang memang di sana menang di sini menang dia pula yang bayaran"
"Yang remuk tetap wayangnya. Wayang sampai ajur tetap jadi korban yang diadu domba dan dibodoh bodohi dengan janji dari yang nyata sampai yang surga. Wayang refleksi rakyatnya. Terserah dalang mau apa saja"
"Kartunis pramono pernah menggambar kartun yang diutamakan dan dimenangkan rahwana bukan rama. Ada juga yang menggambar kisah cakil dan arjuna dalam cerita bambangan yg menang cakil. Begitu dalangnya menoleh wajahnya seperti cakil, kata DR. Chryshandan Dwilaksana M.Si, Minggu (11/10/2020)
"Konteks kehidupan sosial banyak refleksi dalam kata gambar dan perilaku dalam berbagai media atau secara langsung. Saya meminjam kata sakti S sudjojono "jiwa nampak" bahwa dari cipta karsa dan karya akan ada refleksi jiwanya. Konflik diakibatkan adanya perebutan sumber daya atau pendistribusian sumber daya. Atau harga diri.," ucapnya.
"Primordial dijadikan tunggangan dan alat mencari legitimasi dan solidaritas. Karena di situ acapkali tidak rasional dan menonjolkan spiritual dan emosional. Kekuatan massa dan legitimasi berbasis primordial akan memudahkan membakar aksi massa untuk anarkis"
"Tulisan Dr Setyo Wibowo yang menjabarkan pemikian platon menggambarkan bahwa :" rakyat itu seperti binatang buas yang besar kuat ( big and beast) dan mencari kesenangan ( makan minum sex dsb) menghindari masalah ( penyakit, sakit dsb),"
"Tatkala kebutuhannya tidak dipenuhi bisa mengamuk ke sana kemari apa saja bisa dihajarnya. Sebaliknya kaum sofis paham betul kapan mengalah, kapan menyenang nyenangkan, kapan mengancam kapan memanfaatkan binatang buas dan besar tadi","
"Apa yang dianalogikan tadi sejalan manusia sebagai mahkluk sosial yang hidup dalam kawanan atau kelompok dari keluarga komunitas masyarakat bangsa dan negara. Secara sosial memang ada kesepakatan dan ada yang memimpin,"
"Ada cara memanage dan menata keteraturan sosial. Ada rekayasa sosial, ada stratifikasi sosial bahkan patologi sosial,"imbuhnya.
"Dari kehidupan sosial tersebut manusia akan berupaya bertahan hidup dan tumbuh berkembang. Tatkala proses hidup dalam kebersamaan ada issue yang dapat dijadikan untuk menekan dan mendominasi sumber daya maka akan dilakukan walaupun harus ada power dan authority hingga power sharing. Jalan ke tiga untuk win win solution menjadi pilihan dan kesepakatan,"
"Kesepakatan yang tidak disepakati akan menjadi issue konflik. Atau keadilan yang dianggap kebagian secara maksimal tidak terpenuhi inipun akan menjadi konflik. Lagi lagi kaum yang mapan dan nyaman yang telah bercokol mendomunasi dan mengangkangi berbagai sumber daya akan merasa bagai raksasa dan naga,"
"Siapa saja yang mengusik dimatikan hidup dan kehidupannya. Belum lagi cara memanage dalam institusi atau birokrasi yang patrimonial atau otoriter maka cara cara tekan menekan basah kering akan subur. Di situ pelayanan publik menjadi ajang tekan menekan adu kuat. Memang lagi lagi rakyat yang dikorbankan,"terangnya.
"Kehidupan sosial dalam konteks kehidupan sosial ada capital ada agen dan struktural ada stratifikasi sosial ada kesepakatan sebagai jalan ke tiga. Para pakar dan pemikir tentang humaniora dan sosial bahkan kajian kebudayaan sudah menuliskan dalam teori teorinya,"
"Namun sejatinya bagi para penyelenggara negara dalam menggerakkan birokrasi dan menjalankan amanat konstitusi untuk : menjaga keutuhan bangsa dan negara, mensejahterakan rakyatnya, mencerdaskan kehidupan bangsa bahkan ikut menjaga perdamaian dunia dijadikan standar keberhasilannya atau penilaiannya,"tegasnya.
"Sistem algoritma dan index yang ada belum mampu menunjukkan prediksi antisipasi dan solusinya,"
Lanjut DR. Chryshandan Dwilaksana M.Si menuturkan, dalam kehidupan sosial hukum rimba akan terus berlaku (" asu gedhe menang kerahe, anjing besar akan selalu menang berkelahi " ), tatkala sistem premanisme masih berlaku. Konteks premanisme atau mafia birokrasi ini sering menjadi biang. Baik biang sebagai sumber hingga biangane ( umpatan kejengkelen).
"Kaum bisnis ( yang berbisnis pada taman APBN maupun PNBP ) bagai pemburu di kebun binatang atau pemancing di kolam ikan. Tanpa senjatapun akan dapat buruannya dg kongkalikong dengan para pawangnya. Macan seminggu tidak diberi makan akan lemes tinggal menguliti," ungkapnya.
"Demikian pemancing di kolam ikan tanpa pancingan pun dapat banyak ikan tinggal nguras saja. Analogi pemburu dan pemancing tadi menunjukkan betapa berbisnis memerlukan power and authority. Mereka awalnya meminta tolong dengan para pawang atau penguasa atau pejabat birokrasi. Umpan yang diberikan ternyata candu. Mau tidak mau tatkala kecanduan maka akan menuruti apa saja yang diinginkan mereka.,"
"Analogi ekstrimnya pawang merangkak dan dituntun anjing yang berdiri tegak ( seperti patung dalmatian yang ada di hotel grand candi karya seniman dr china). Demikian halnya kisah birokrasi yang sarat dengan patologi sosial,"
"Pertanyaanya itu organize crime or crime in organizarion? Banyak hal yang tercatat maupun tidak tercatat. Banyak riset namun seolah tidak menjadi resep manjur,"
"Ibarat dokter tidak lagi laku karena pengobatan alternatif yang cepat singkat murah lebh menjadi pilihan. Birokrasi bukan pembelajar bahkan plesetannya yang dikerjakan bukan tugas pokok tetap pokoknya tugas. Salah menjadi kebanggaan dan benar dianggap duri dalam daging core value sudah pada pola dan gaya hedonisme konsumtif.
"Laboratorium sosial menjadi bagian penting untuk menjadi bagian literasi sosial merubah mind set bahkan culture set. Laboratorium sosial dapat dengan cara apa saja sekarang ini dimudahkan adanya media sosial. Belun lagi era post truth yang sarat hoax juga menjadi pembelajaran.,"
"Dalam berbagai program dan aktivitas dosi dalam birokrasi maupun masyarakat dapat dijadikan laboratprium sosial dengan cara kerja : inputing data, analisa, dan produk, serta pemahaman atas beyond atau apa yang ada di balik gejala fakta. Berpikir secara konseptual dan teoritikal menjadi bagian menganalisa dari berbagai kehidupan sosial,"
Bisa secara menemukan pola atau algoritmanya juga yang sprsifik teknis maupun psikologisnya. Konteks laboratorium sosial adalah mampu :
1. Memetakan atau mengklaster atau mengkategorisasikan
2. Membuat model model sesuai konteks atau fokus yang akan dibuat dan diteliti.
3. Berpikir holistik atau sistemik memahami dan menghubung hubungkan antar gejala atau fakta maupun fenomena satu dengan lainnya
4. Berupaya memahami atau mengungkap makna di balik fenomena ( beyond)
5. Berpikir secara konseptual dan teoritikal. Mengkonstruksi maupun mendekonstruksi menghubung hubungkan atau bongkar pasang berdasar : " hakekat hubungan antara konsep konsep yang merupakan prinsip prinsip yang mendasar dan berlaku umum".
6. Melihat membuat modelnya dalam berbagai pendekatan sesuai konyeks dan kebutuhannya.(*)
Kodim Demak Terima Kunjungan Tim Wasev Ops Disiplin Protkes Kodam IV/Diponegoro
Minta Kewenangan Penyidikan, Pakar Hukum Sebut Jaksa Terkesan Serakah
Mendagri Minta Pjs. Gubernur Kawal Pilkada yang Aman dari Covid-19


Sekda Sudirman Buka Rakerda Pramuka 2026: Fokus Evaluasi Strategi, Kaderisasi Pemimpin Muda



