Kartini Sebagai Branding Kebangkitan Perempuan



Kamis, 21 April 2022 - 21:38:22 WIB



Oleh: Tuti Rosmalina*

 

 

Tanggal 21 April merupakan hari lahir Kartini. Ya prempuan Indonesia yang berdarah Jawa. Tulisannya yang dibukukan menggambarkan terobosan dan ajakan bagi prempuan untuk sejajar dengan laki-laki. Memiliki peran dan fungsi yang sama. Terutama dari pendidikannya.

Sebenarnya sejauh apa sumbangsih Kartini pada kemajuan pola fikir dan perjuangan bangsa Indonesia untuk mencapai kata setara. Jika di bandingkan prempuan tangguh lain.

 Mengutip dari tulisan bapak "ar. Piliang bahwa setidaknya ada berapa prempuan lain misalnya. 

1. Malahayati, satu-satunya jenderal angkatan laut dengan pangkat Laksamana, yang jadi panglima perang melawan penjajah,

2. Cut Nyak Dhien, panglima perang gerilya, menghabiskan usianya, di medan perang melawan penjajah dan di penjara,

3. Rangkayo Rasuna, wartawati yang tak pernah lelah melawan penjajah dengan pena dan hartanya, atau

4. Rahmah El-Yunusiah, pejuang yang mengangkat harkat dan martabat perempuan melalui usaha pendidikan yang didirikannya. Yang hingga sekarang masih eksis dengan perannya.

Apalah yang pernah disumbangkan oleh kartini untuk negeri ini?

Sebuah catatan harian, yang kemudian dijadikan buku.

Lantas, dengan modal rintihan dan harapannya itu, ia menjadi perempuan utama, yang diperingati hari lahirnya setiap tahun?

Kenapa posisi itu tidak diberikan kepada sosok yang disebut terdahulu?. 

Hal ini lah yang disebut dengan kekuatan branding atau bagaimana membentuk sebuah momen bagi prempuan untuk berbeda dari prempuan lainnya. Sehingga perjuangannya bernilai, tidak hanya sekedar berpeluh namun di perhitungkan. 

Sebuah perjuangan emansipasi prempuan, Pembebasan dari ketertindasan. Keterbelakangan pengetahuan. Sehingga Kartini bernilai berbeda dari pejuang perempuan lainnya. Kartini lebih pada sosok diplomatis dan berjuangnya dari fokus yang berbeda yakni mengkhususkan pada kebangkitan prempuan. 

Menilik dari keberadaan dan perjuangan Kartini, seyogyanya kita mulai menyadari. Bahwa perjuangan kesetaraan. Emansipasi, melawan penindasan dan diskriminasi atas tubuh prempuan berdasarkan jenis kelamin. Harus kembali terfokus. Bukan hanya sibuk dengan trend isu. Tapi bagaimana membentuk sebuah branding, sehingga prempuan prempuan indonesia lebih bernilai Dimata publik. 

Kebangkitan prempuan untuk menuju setara sebenarnya sudah d pasilitasi dengan baik. Hanya saja prempuan ini masih sibuk dengan persaingan atas nama jenis kelamin prempuan itu sendiri, tidak saling mendukung, tidak saling membesarkan dan terkadang malas untuk membuat branding bahwa kita berwibawa dan memiliki kesempatan yang sama untuk melawan diskriminasi atas nama tubuh dan jenis kelamin.

Sudah 2022 sebentar lagi hajatan dan perhelatan politik Indonesia akan segera terlaksana. Katanya pemilih prempuan juga lebih banyak dari pemilih laki laki. Hal ini seharusnya mampu dimanfaatkan untuk membentuk sosial branding tadi. Bagaimana prempuan mampu memilih prempuan yang berintegritas , berwawasan, jujur dan berkomitmen untuk membangun dan membesarkan perjuangan prempuan. Bukan hanya sekedar merayu suara prempuan saja. Namun tidak fokus dalam perjuangan kepentingan perempuan di parlemen parlemen. Undang undang yang berpihak pada prempuan harus di buat oleh prempuan yang sadar akan kebutuhan dan kondisi prempuan itu sendiri, disinilah kita membutuhkan prempuan secara ide seperti Kartini. Kita tidak perlu jumlahnya saja. Tapi kita perlu pemikiran dan keberpihakannya.

Di akhir tulisan saya ini, mari bergandeng tangan mengakhiri diskiriminasi atas tubuh prempuan, dan anak prempuan. Terus bergerak memberikan sebuah wacana pemikiran dan pemahaman, kesempatan ada namun bagaimana kita memanfaatkannya. Kita bukan belum bisa setara, namun kita belum mebranding diri kita setara. 

 

 

Penulis adalah: Pekerja sosial perlindungan Anak kementerian sosial RI/sekretaris peduli serumpun Jambi. (*)



Artikel Rekomendasi