Oleh: Amri Ikhsan*
Kurikulum Merdeka yang digadang gadangkan sebagai solusi terhadap ‘learning loss’ akibat pandemi, diprediksi hanya akan menjadi ‘macan kertas’ bila guru sebagai ujung tombak implementasi di ruang kelas gagal membahasakan materi kurikulum kepada peserta didik.
Tidak ada gunanya 1) pembelajaran berbasis projek untuk pengembangan soft skills dan karakter sesuai profil pelajar Pancasila: 2) fokus pada materi esensial: 3) fleksibilitas bagi guru untuk melakukan pembelajaran yang terdiferensiasi sesuai dengan kemampuan siswa dan melakukan penyesuaian dengan konteks dan muatan lokal, bila guru tidak mampu ‘menggerakkan’ siswa untuk belajar. Siswa hanya bisa digerakkan bila guru menggunakan bahasa yang bisa dimengerti oleh siswa, bahasa menyamankan siswa untuk belajar.
Karena bahasalah yang bisa membuat siswa berpikir, bahasalah yang membuat siswa memahami konten kurikulum. Komunikasi dengan bahasalah yang membuat pelajar perhatian terhadap materi ajar. Bisa dikatakan, kalau bahasa yang digunakan guru dikenali pelajar, maka mereka akan berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran, sebaliknya, bila bahasa guru ‘terengar’ aneh, maka pembelajaran sudah pasti tidak efektif.
Dengan bahasa pula guru bisa mengkondusifkan pembelajaran, yang akan menumbuhkan semangat siswa untuk mengerjakan proyek yang diberikan. Ada konsekwensi bila penggunaan bahasa gagal dalam pembelajaran: 1) transaksi pembelajaran tidak akan terjadi; 2) manajemen kelas akan berantakan; 3) siswa akan kehilangan fokus; 4) tentu saja tujuan pembelajaran tidak akan tercapai (Bailey).
Bahasa adalah media paling berpengaruh dalam proses pembelajaran. Bahasa bisa menyampaikan ide, pengetahuan, skill, sikap, perasaan antara guru dan siswa dalam ruang kelas. Guru dan siswa menggunakan bahasa untuk menyatukan persepsi pembelajaran. Mereka menggunakan bahasa untuk menyampaikan pengalaman dan pengetahuan baru, mereka membuat hubungan, mengantisipasi segala kemungkinan, merefleksikan ide dan menentukan pembelajaran berikutnya
Dengan bahasa siswa bisa berperan aktif dalam berbagai komunitas belajar, mereka bisa berbicara, menulis, membaca, mendengar ide ide dari pihak lain. Intinya, berpikir kritis dan kreatif muncul bila guru memanfaatkan bahasa sebagai media untuk merefleksikan. Berspekulasi, mencipta, menganalisis, mensintesis, dsb. Ini bertujuan umtuk mengembangkan kesadaran atas skill dan strategi yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas tugas pembelajaran.
Harus diakui bahwa Kurikulum Merdeka yang berbasis proyek memerlukan perantaraan yaitu dengan bahasa sebagai alat komunikasi. Bahasalah media promosi ‘merdeka belajar, merdeka mengajar’. Bahasa merupakan bagian penting dalam komunikasi pembelajaran, untuk membuat siswa melakukan kegiatan belajar dalam mencapai tujuan yang diinginkan.
Kurikulum Merdeka menitikberatkan pada bagaimana menggerakkan siswa untuk melaksanakan kegiatan belajar, maka bahasalah yang menjadi alat penyampai sehingga pembelajaran mencapai suatu titik tertentu sebagai suatu kompetensi yang sudah ditetapkan sebelumnya.
Penggunaan bahasa dalam Kurikulum Merdeka tidak dapat diabaikan. Bahasa sangat penting untuk memperlancar komunikasi pembelajaran. Dalam interaksi berbahasa terjadi komunikasi. Dalam berinteraksi bisa saja terjadi komunikasi yang komunikatif dan mungkin juga tidak komunikatif. Perlu diketahui bahwa penggunaan bahasa yang komunikatif itu ialah penggunaan bahasa yang dapat dipahami oleh guru dan siswak, sehingga tidak terjadi kesalahpahaman. Banyak masalah yang terjadi bila ketidakpahaman siswa dalam menerima pelajaran disebabkan oleh penggunaan bahasa guru yang kurang efektif.
Disarankan, Kurikulum Merdeka memanfaatkan inner speech (Chomsky dalam Leech, 1972: 21): Tidak semua pesan efektif bisa disampaikan dengan bahasa verbal, pesan bisa juga diutarakan dengan ‘tingkah laku’ karena semua tingkah laku manusia menurut pengalaman tertentu bersifat komunikatif. Misalnya, ada guru yang menyampaikan materi ‘berkali kali’. Guru tersebut sebenarnya sedang memberikan informasi yaitu ‘betapa pentingnya materi itu’. Guru ‘marah’ bila siswa tidak buat proyek’, pesannya, siswa harus memngerjakan proyek yang diberikan guru.
Siswa harus menyadari bahwa informasi itu didapatjan bukan dari perintah guru, tapi memperoleh informasi dari tingkah laku guru walaupun tanpa disadari atau tidak bermaksud berkomunikasi seperti itu. Hal inilah yang disebut kesan. Tingkah laku itu pun dapat pula dinyatakan sebagai sebuah materi pembelajaran profil pelajar pancasila.
Kurikulum Merdeka harus menyempurnakan tindak tutur yang dilakukan oleh guru dan siswa. Kegiatan komunikasi di kelas akan berbeda dengan komunikasi di masyarakat secara alamiah. Di kelas terdapat tatakrama, sopan santun, dan budi pekerti yang merupakan aspek-aspek bahasa yang diekspresikan oleh sebuah komunikasi yang dilingkupi oleh berbagai konteks sebagai wujud dari Profil Pelajar Pancasila (PPP).
PPP bisa terealisasi bila guru berkomunikasi santun dengan siswanya. Kesantunan terletak bukan pada bentuk dan kata-kata, melainkan pada fungsi dan makna sosialnya. Kesantunan itu merupakan citra diri dalam atribut sosial dan di depan umum, kehormatan, harga diri (Brown dan Levinson, 1984). Ini mengindikasikan bahwa dalam proses pembelajaran, kesantunan guru dan siswa adalah simbol kewibawaan yang melandasi proses komunikasi sehingga akan merangsang keantusiasan guru dan siswa untuk belajar. Bisa diklaim bahwa semakin santun guru, semakin termotivasi siswa untuk belajar
Oleh karena itu untuk mempercepat mewujudkan PPP, alangkah baiknya: 1) para guru hendaknya selalu mengurangi keuntungan dirinya sendiri dan memaksimalkan keuntungan kepada siswa dalam berkomunikasi; 2) para guru dalam berkomunikasi diharapkan menghormati para siswa dengan cara mengurangi keuntungan bagi dirinya sendiri dan memaksimalkan keuntungan bagi siswa; 3) guru dalam proses pembelajaran selalu berusaha memberikan penghargaan kepada peserta didik, hindari mengejek, mencaci, atau merendahkan peserta didik.
Kemudian, 4) guru memaksimalkan ketidakhormatan pada diri sendiri, dan meminimalkan rasa hormat pada diri sendiri; (e) maksim kecocokan: guru memaksimalkan kecocokan diantara siswa; (f) maksim kesimpatisan: guru memaksimalkan rasa simpati, dan meminimalkan rasa antipati kepada siswa. Leech (1983)
Kurikulum merdeka, proses pembelajaran mererapkan prinsip kerja sama (Yule 1996: 36-37): 1) materi pembelajaran harus benar: (a) jangan mengajar yang tidak ada dalam kurikulum: (b) jangan mengajar materi yang tidak didukung oleh strategi yang benar!; (2) materi pembelajaran harus sesuai dengan kebutuhan siswa dan materi pembelajaran tidak melebihi kebutuhan siswa; (3) materi pembelajaran relevan dengan kehidupan dan kebutuhan siswa; (4) usahakan agar materi pembelajaran itu mudah dimengerti, dalam arti:(a) hindari ketidakjelasan; (b) hindari ambiguitas (makna mendua); (c) harus singkat, dan (d) harus teratur. (diadaptasi dari Thomas 1995: 63-64).
Kesuksesan Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) sangat tergantung kemampuan komunikasi berbahasa guru, jangan remehkan strategi bahasa guru! Masa depan IKM adalah cara guru berkomunikasi dalam ruang kelas, bukan berapa sering guru mengikuti pelatihan IKM. Wallahu a'lam bish-shawab!
*) Penulis adalah Pendidik di Madrasah
Ekperimen Tari "Naek Burung" Dalam Festival Tari Lah Puah JELIPUNG Tumbun
Kesejahteraan Petani Jambi Menurun Lagi, tetapi Terbaik Se-Sumatera
Korem 042/Gapu Gelar Sholat Idul Adha 1447 H di Lapangan Tenis Indoor Makorem


