JAMBERITA.COM - Forum Group Discussion (FGD) Ditintelkam Polda Jambi dengan Komisi Informasi Provinsi mendatangkan Wakil Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Thaha Saifuddin (STS) Jambi, Prof As'ad Isma menjadi narasumber, Rabu (25/10/2022).
Prof As'ad Isma pun membahas tentang defisit etika dan super plus hoax jelang pemilu. Kaitannya dengan media, Ia pun menilai peran media menjadi penting dalam kontestasi politik sebagai penentu sekaligus situasi stabilitas di suatu wilayah.
"Defisit etika, dalam konteks salah satu contoh kasus guru besar atau orang terdidik pun bisa ikut terjebak hoax. Karena apapun, ketika sudah niat dan emosi kebenaran pun abai," paparnya, di FGD dengan tema keterbukaan informasi kita stop berita sara dan hoax pada Pemilu 2024.
Dari defisit etika tersebut, kaum terdidik memproduksi berita hoax maka sasarannya adalah 87 persen pemilih muslim, di samping pemilih milienial."87 persen yang beragama islam jadi perebutan, dengan strategi membuat persepsi untuk menyentuh hati dan emosi," tuturnya.
Kendati demikian, peran media juga merupakan penyumbang terbesar jadi penentu terbesar dalam tahapan pemilu, bisa untuk membesarkan nama, kemenangan, menjatuhkan bahkan bisa juga membuat ketokohan seseorang. "Untuk itu peran media, hindari berita provokasi yang dapat membuat integritas bangsa menurun," jelasnya.
Selanjutnya Ahli Pers Provinsi Jambi Heri Novealdi juga mengingatkan para wartawan dalam memproduksi berita pada tahapan pemilu mendatang agar berhati hati serta melengkapi legalitas hukum dengan membeberkan ciri produk jurnalistik yang harus dipenuhi.
"Media harus berhati-hati menyangkut nama baik seseorang, dengan tetap menggunakan metode konfirmasi, karena beberapa penanganan sengketa terhadap berita," bebernya.
Selanjutnya, Srikandi KIP Jambi Siti Masnidar yang kerap disapa dengan sebutan Aning, juga memberikan materi terkait dengan Busting Hoax Pemilu 2024. Ia pun menjelaskan perbedaan penyampaian informasi.
Menurut Aning informasi dikendalikan netizen dengan ancamannya internet menjadi ruang publik baru yang berakibat pada gangguan informasi bagi masyarakat. "Gangguan informasi, mis formasi , Disinformasi dilakukan dengan sengaja, dan mal informasi merupakan komplikasi video lama dengan yang baru disebarkan," jelasnya.
Untuk itu Aning mengatakan kenapa hoax gampang tersebar,? itu dikarenakan bias informasi, kedua ciri orang yang tidak mau berfikir dan ingin update dalam menyebarkan informasi tanpa di kroscek terlebih dahulu.
"Contoh kasus, (Ratna Sarumpaet pada Pilpres lalu) akhirnya apa,? semua minta maaf. Nah kejadian seperti ini bisa terjadi kembali pada pemilu 2024 mendatang, untuk itu kawan kawan media perlu hati hati meskipun sumber nya orang yang kita anggap benar, jadi hati-hati," jelasnya.
Aning pun juga menjelaskan tips dalam menghindari hoax, pertama mencari dan menggali asal usul kebenaran konten, sumber, lokasi, tanggal motivasi, dan identifikasi pengunggah.(afm)
Mahasiswa Kehutanan UNJA Edukasi Pelajar SMPN 24 Jambi Tentang Konservasi Orang Utan
Mahasiswa UNJA Bedah Potensi Ekowisata Kehutanan ke Siswa SMPN 11 Jambi
Kunjungan Spesifik, SAH Disambut Hangat Masyarakat Kerinci Ikuti Kampanye Penurunan Stunting
Direktur Pasca Sarjana UIN STS Jambi Buka Workshop Kepenulisan Artikel Jurnal HIMKAFI
Wujudkan Stabilitas Politik yang Kondusif, Polda Jambi Gandeng KI Gelar FGD


Sekda Sudirman Buka Rakerda Pramuka 2026: Fokus Evaluasi Strategi, Kaderisasi Pemimpin Muda



