JAMBERITA.COM - Pada Maret 2026, Provinsi Jambi mengalami inflasi month to month (m-to-m) sebesar 0,14 persen yang dipicu oleh komoditas ikan nila. Sedangkan secara year on year (y-on-y) sebesar 3,55 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 110,77.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi, Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Kerinci sebesar 5,11 persen dengan IHK sebesar 114,35 dan terendah terjadi di Kota Jambi sebesar 2,96 persen dengan IHK sebesar 109,48.
Kepala BPS Provinsi Jambi Aidil Adha mengatakan, pada bulan Maret 2026 harga komoditas ikan nila mengalami kenaikan karena meningkatnya permintaan di bulan ramadan serta kendala pasokan yang tidak sebanding dengan permintaan.
Selain itu, selama ramadan harga sejumlah komoditas lainnya mampu ditekan kenaikannya. Dari sepuluh komoditas terbesar penyumbang inflasi, hanya daging ayam ras yang mengalami kenaikan.
"Biasanya kalau mau lebaran dan pada saat bulan ramadan itu daging biasanya mengalami kenaikan. Tapi ini daging sapi tidak mengalami kenaikan termasuk cabai merah juga mengalami penurunan," ujarnya usai rilis BPS, Rabu (1/4/2026).
Hal ini diakuinya tidak terlepas dari peran Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Jambi yang dinilai dapat menjaga stabilitas harga pangan. "Iya, bisa jadi ini keberhasilan TPID dalam menekan harga, sehingga ada beberapa komoditi yang biasanya mengalami kenaikan jelang ramadan itu tidak mengalami kenaikan," tutur Aidil.
Sementara, secara tahunan inflasi Jambi yang mencapai 3,55 persen lebih banyak dipengaruhi oleh faktor di luar kendali daerah. Kenaikan tarif listrik yang tidak lagi mendapatkan diskon seperti tahun sebelumnya, serta naiknya harga emas perhiasan di pasar global menjadi penyumbang utama inflasi year-on-year.
"Kalau secara year-on-year, kenaikan inflasi lebih disebabkan oleh tarif listrik yang pada Maret 2025 masih mengalami diskon, sementara Maret 2026 ini listrik tidak mengalami diskon dan emas perhiasan. Itu bukan dari sisi pengendalian daerah, melainkan faktor kebijakan pusat dan harga global," ungkapnya.
Terkait situasi geopolitik, menurut Aidil pengaruh konflik Timur Tengah sejauh ini belum berdampak langsung terhadap inflasi di Jambi. Pasalnya yang terjadi saat ini masih di dominasi oleh komoditas lokal.
"Cuma kita tidak tahu nanti kalau seandainya ada kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Bisa jadi bakal inflasi. Dengan adanya kebijakan pemerintah WFH satu hari, sehingga minyak tidak begitu berpengaruh dan tidak banyak memakai minyak, bisa jadi minyaknya nggak naik. Tapi kalau harga minyak naik, itu biasanya kita inflasi, untuk berapanya belum tahu tapi pengaruhnya pasti ada," tandasnya.
Untuk diketahui, inflasi secara y-on-y di Provinsi Jambi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya delapan indeks kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau sebesar 3,79 persen; kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga sebesar 9,03 persen; kelompok Kesehatan sebesar 1,18 persen; kelompok Transportasi sebesar 1,50 persen; kelompok Rekreasi, Olahraga, dan Budaya sebesar 2,89 persen; kelompok Pendidikan sebesar 2,67 persen; kelompok Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran sebesar 3,29 persen; dan kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya sebesar 10,78 persen.
Sedangkan kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks, yaitu: kelompok Pakaian dan Alas Kaki sebesar 3,39 persen; kelompok Perlengkapan, Peralatan, dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga sebesar 1,08 persen; dan kelompok Informasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan sebesar 0,06 persen. (tts)
Respon Rektor UNJA Prof Helmi, Tindaklanjuti Intruksi Pusat Terkait Efesinsi Anggaran
Wajah Harmoni di Jambi: Saat Budaya Tionghoa dan Melayu Melebur dalam Satu Panggung
Keren! Usai PALI & Muara Enim, Rektor UBR Jambi Kini Gandeng Dinkes Sumsel Demi Revolusi Kesehatan
Makin Mewah, Honda PCX160 Meluncur dengan Pilihan Warna Terbaru
Kenali Jenis–Jenis Bahaya di Jalan Bersama Safety Riding Sinsen, Wujudkan #Cari_aman Sejak Dini
H-1 Masuk Sekolah Pasca Libur Lebaran, Hellosapa Jadi Primadona 'Self-Healing' Warga Jambi


Sekda Sudirman Buka Rakerda Pramuka 2026: Fokus Evaluasi Strategi, Kaderisasi Pemimpin Muda



