Dari Luka Gaza ke Bangku Kuliah UNJA, Dubes Palestina Titipkan Pesan untuk Generasi Muda



Sabtu, 17 Oktober 2026 - 23:25:47 WIB



Foto : Kuliah Umum Universitas Jambi.
Foto : Kuliah Umum Universitas Jambi.

JAMBERITA.COM - Perjuangan Palestina bukan sekadar cerita tentang konflik, diplomasi, dan perebutan kemerdekaan. Di baliknya, ada kisah keluarga yang kehilangan rasa aman, anak-anak yang tumbuh dalam bayang-bayang perang, serta harapan untuk hidup bebas dan bermartabat.

Pengalaman itulah yang dibagikan Duta Besar Palestina untuk Indonesia, H.E. Abdulfattah A.K. Al-Sattari, saat hadir dalam kuliah umum bertajuk “Palestine, Global Diplomacy, and the Quest for Lasting Peace” di Auditorium Lantai 7 Gedung Singadekane Universitas Jambi (UNJA), Telanaipura, Kota Jambi, Jumat (16/10/2026).

Di hadapan mahasiswa dan civitas akademika UNJA, Al-Sattari tidak hanya berbicara tentang perjuangan diplomatik Palestina. Ia juga membawa kisah personal tentang masa kecilnya yang diwarnai konflik, ketika keluarganya harus meninggalkan rumah demi mencari tempat yang lebih aman saat Gaza diserang.

Pengalaman itu menjadi pengingat bahwa konflik bukan semata-mata persoalan politik dan keamanan. Ada kehidupan manusia yang dipertaruhkan, keluarga yang kehilangan ketenangan, serta anak-anak, perempuan, dan warga sipil yang harus menghadapi kenyataan pahit akibat perang.

Pesan tersebut memberi perspektif berbeda bagi mahasiswa UNJA. Palestina tidak hanya hadir sebagai isu yang dibicarakan di panggung internasional, tetapi juga sebagai persoalan kemanusiaan yang menyangkut hak setiap orang untuk hidup aman, merdeka, dan bermartabat.

Di tengah kisah perjuangan tersebut, Al-Sattari mengajak mahasiswa melihat diri mereka sebagai bagian penting dari masa depan bangsa.

Ia mengingatkan bahwa para pemimpin yang kini menentukan arah suatu negara dulunya juga pernah duduk di bangku kuliah, belajar, membentuk karakter, dan mempersiapkan diri menghadapi tanggung jawab yang lebih besar.

“Siapa yang akan memimpin Indonesia ke depan? Saya yakin salah satu di antara kalian semuanya,” ungkap Al-Sattari di hadapan peserta kuliah umum.

Pernyataan itu menjadi pesan bahwa masa depan tidak hanya ditentukan oleh mereka yang saat ini memegang kekuasaan. Generasi muda juga memiliki kesempatan untuk mengambil peran melalui pendidikan, pemikiran kritis, kepedulian sosial, dan keberanian memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan.

Bagi Al-Sattari, pendidikan bukan sekadar jalan untuk memperoleh gelar akademik. Pendidikan merupakan proses membentuk manusia yang memahami sejarah, mengenali identitasnya, serta menyadari tanggung jawab terhadap masyarakat dan bangsa.

Dalam kesempatan tersebut, Al-Sattari juga membagikan pesan sederhana yang ia ingat dari ibunya mengenai kedudukan perempuan dan laki-laki dalam membangun masyarakat. “Laki-laki adalah separuh dari masyarakat dan perempuan juga separuh yang lainnya dari masyarakat,” tuturnya.

Pesan itu menegaskan bahwa masa depan masyarakat tidak dapat dibangun hanya dengan mengandalkan satu kelompok. Perempuan dan laki-laki sama-sama memiliki peran penting dalam membentuk keluarga, mendidik generasi berikutnya, dan menentukan arah kehidupan sosial.

Di tengah konflik yang turut berdampak besar terhadap perempuan dan anak-anak Palestina, pandangan tersebut juga menjadi pengingat bahwa martabat manusia harus tetap dihormati dalam keadaan apa pun.

Al-Sattari menekankan pentingnya nilai-nilai yang ditanamkan keluarga dan lingkungan pendidikan dalam membentuk cara pandang generasi muda terhadap kehidupan, perjuangan, serta tanggung jawab sosial.

Kuliah umum ini diselenggarakan Universitas Jambi melalui Jurusan Ilmu Sosial dan Ilmu Politik bekerja sama dengan Kedutaan Besar Palestina di Indonesia.

Wakil Rektor Bidang Kerja Sama, Hubungan Masyarakat, dan Sistem Informasi UNJA, Prof. Dr. Revis Asra, S.Si., M.Si., menyampaikan apresiasi atas kunjungan Duta Besar Palestina. Ia menegaskan bahwa hubungan Indonesia dan Palestina dibangun di atas persahabatan, nilai kemanusiaan, keadilan, dan hak setiap bangsa untuk meraih kemerdekaan.

“Sebagai institusi akademik, Universitas Jambi bukan hanya tempat untuk mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga tempat untuk menumbuhkan hati nurani, empati, serta komitmen terhadap keadilan dan martabat manusia,” ujarnya.

Menurut Revis, dukungan terhadap Palestina tidak semata-mata dipandang sebagai bentuk bantuan, melainkan juga sebagai tanggung jawab moral. Melalui dialog langsung dengan perwakilan Palestina, mahasiswa dan dosen diharapkan memperoleh pemahaman yang lebih luas mengenai konflik, diplomasi internasional, dan kondisi masyarakat yang terdampak.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Rektor Bidang Akademik UNJA, Prof. Dr. Hafrida, S.H., M.H., para pimpinan lembaga dan fakultas, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, serta delegasi Kedutaan Besar Palestina di Indonesia.

Bagi mahasiswa yang hadir, pertemuan ini menjadi kesempatan untuk melihat persoalan Palestina dari sudut pandang yang lebih dekat dengan pengalaman manusia. Di balik istilah diplomasi, konflik, dan kemerdekaan, terdapat perjuangan panjang untuk mempertahankan kehidupan dan harapan.

Melalui kuliah umum ini, UNJA berharap mahasiswa tidak hanya memperluas wawasan tentang hubungan internasional, tetapi juga menumbuhkan kepekaan terhadap persoalan kemanusiaan global.

Sebab, di tengah perbedaan bangsa dan batas negara, kepedulian terhadap sesama tetap menjadi nilai yang menyatukan manusia. Dan dari ruang-ruang kuliah seperti inilah, generasi muda diharapkan belajar bahwa perdamaian bukan sekadar cita-cita para diplomat, melainkan tanggung jawab bersama yang harus diperjuangkan.(afm)

Selengkapnya >>> www.unja.ac.id





Artikel Rekomendasi