Bikin Merinding! Pesan Recha di Wisuda UBR Jambi : Orang Tua Tak Menuntut Juara



Sabtu, 24 Oktober 2026 - 14:38:24 WIB



Foto : Istimewa.
Foto : Istimewa.

JAMBERITA.COM - Suasana Wisuda ke-V Universitas Baiturrahim (UBR) Jambi di Gedung Abadi Convention Centre (ACC), Kota Jambi, Sabtu (24/10/2026), terasa haru ketika perwakilan mahasiswa, Recha OOcthaviani Safitri dari Program Studi S1 Ilmu Gizi, menyampaikan pesan tentang perjuangan, kepercayaan, dan cinta orang tua.

Di hadapan para wisudawan, dosen, pimpinan universitas, serta keluarga yang hadir, Recha menyampaikan penghormatan kepada orang tua dengan kata-kata yang menyentuh hati. Bukan tentang gelar, prestasi, atau siapa yang menjadi lulusan terbaik, ia justru mengingatkan bahwa di balik keberhasilan seorang anak, ada orang tua yang selama ini berjuang dengan cara mereka sendiri.

Recha mengungkapkan, dirinya tidak dibesarkan oleh orang tua yang selalu menuntutnya menjadi juara. Ia tumbuh bersama orang tua yang mengajarkan bahwa kejujuran, tanggung jawab, dan keteguhan untuk tidak menyerah jauh lebih berharga daripada sekadar menjadi yang terbaik.

“Saya tidak dibesarkan oleh orang tua yang selalu menuntut saya untuk menjadi juara. Saya dibesarkan oleh orang tua yang mengajarkan bahwa menjadi pribadi yang jujur, bertanggung jawab, dan tidak mudah menyerah jauh lebih berharga daripada sekadar menjadi yang terbaik,” ungkap Recha dalam sambutannya.

Kalimat itu menjadi pengingat bahwa bagi sebagian orang tua, keberhasilan anak bukan semata-mata tentang nilai akademik, deretan prestasi, atau gelar yang disandang. Lebih dari itu, mereka ingin anaknya tumbuh menjadi manusia yang baik, mampu bertanggung jawab atas hidupnya, dan tetap kuat menghadapi berbagai keadaan.

“Yang Mereka Khawatirkan Bukan Ketika Saya Gagal Menjadi Juara”

Dalam sambutannya, Recha menceritakan bagaimana orang tuanya memberikan kepercayaan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Mereka tidak selalu menuntutnya menjadi yang paling unggul, tetapi lebih mengkhawatirkan apakah dirinya baik-baik saja dalam menjalani perjalanan hidup.

“Mereka tidak selalu menuntut saya untuk menjadi yang paling unggul, karena yang lebih mereka khawatirkan bukan ketika saya gagal menjadi juara, melainkan ketika saya tidak baik-baik saja dalam menjalani perjalanan ini,” tuturnya.

Pesan itu seolah mewakili perasaan banyak anak yang terkadang terlalu sibuk mengejar masa depan hingga lupa bahwa ada orang tua yang diam-diam mencemaskan perjalanan mereka.

Bagi orang tua, anak yang berhasil memang membanggakan. Namun, anak yang tetap sehat, bahagia, jujur, dan mampu menjalani hidup dengan baik juga merupakan kebahagiaan yang tidak ternilai.

Bagian paling menyentuh dari sambutan Recha muncul ketika ia menyadari bahwa menyelesaikan pendidikan bukan hanya tentang membuktikan kemampuan diri, tetapi juga tentang memahami kepercayaan yang selama ini diberikan orang tua.

Ia mengaku, selama ini mengira beban terberat adalah ketika harus berjuang menyelesaikan pendidikan. Namun, ia justru menemukan beban yang berbeda ketika menyadari bahwa orang tuanya perlahan mulai melepaskan dirinya untuk menjalani kehidupan sendiri.

“Mereka tidak menekan sama sekali. Mereka hanya mempercayakan seluruh hidup saya kepada saya. Di titik itulah saya sadar, kepercayaan mereka jauh lebih berat dari segala tuntutan,” katanya.

Bagi Recha, kepercayaan itu memiliki makna yang dalam. Orang tuanya tidak memaksanya menjadi yang terbaik, tetapi memberikan ruang untuk tumbuh, mengambil keputusan, dan menentukan masa depan.

Di balik kebebasan tersebut, ada harapan besar yang tidak selalu diucapkan. Ada doa yang terus menyertai, ada kekhawatiran yang disimpan, serta ada waktu dan pengorbanan yang telah diberikan agar anaknya mampu berdiri di atas kakinya sendiri.

Recha kemudian menyampaikan sebuah ungkapan yang menggambarkan betapa besar makna keberhasilan bagi orang tua: dalam perjalanan anaknya, ada sisa umur mereka yang dipertaruhkan untuk melihat anaknya berhasil.

Pesan tersebut menjadi refleksi bahwa semakin dewasa seorang anak, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipikulnya. Bukan semata-mata untuk membalas semua pengorbanan orang tua, melainkan untuk menjaga kepercayaan yang telah diberikan dengan menjalani hidup sebaik-baiknya.

Di hadapan rekan-rekan wisudawan, Recha juga mengingatkan bahwa kelulusan bukanlah akhir dari perjalanan kehidupan. Hari wisuda menandai selesainya satu bab pendidikan, tetapi sekaligus menjadi awal untuk menghadapi dunia yang sesungguhnya.

“Teman-teman, bisa kita lihat yang saya banggakan hari ini, kita resmi menyelesaikan satu bab kehidupan. Tetapi hidup tidak berhenti pada hari ini. Besok dunia tidak akan bertanya berapa lama kita kuliah, dunia akan bertanya apa yang akan kita lakukan dengan ilmu yang telah kita miliki,” ujarnya.

Pesan itu menjadi penegasan bahwa gelar akademik bukan sekadar simbol keberhasilan, melainkan amanah untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

Bagi para lulusan S1 Ilmu Gizi dan program studi kesehatan lainnya, ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan di UBR Jambi diharapkan dapat diwujudkan dalam pengabdian nyata, meningkatkan kualitas hidup masyarakat, serta menghadirkan pelayanan yang lebih baik.

Sambutan Recha pun menghadirkan makna lain dari sebuah wisuda. Di tengah toga, ijazah, dan kebanggaan atas pencapaian akademik, ada kisah tentang orang tua yang belajar melepaskan, anak yang belajar bertanggung jawab, dan kepercayaan yang menjadi bekal untuk melangkah ke masa depan.

Sebab, bagi sebagian orang tua, kebahagiaan terbesar bukanlah ketika anaknya menjadi yang paling hebat di antara semua orang, melainkan ketika mereka dapat melihat anaknya tumbuh menjadi pribadi yang baik, mampu berdiri sendiri, dan menjalani hidup dengan bahagia.

Dan bagi seorang anak yang hari ini resmi menyandang gelar sarjana, salah satu bentuk penghormatan terbaik kepada orang tua adalah menjaga kepercayaan itu—dengan ilmu, tanggung jawab, dan kehidupan yang dijalani dengan penuh makna.(afm)





Artikel Rekomendasi