
JAMBERITA.COM - Bandung, 29/10, ANTARA - Di dataran tinggi Karo, Sumatera Utara, masih berdiri sejumlah rumah adat berusia ratusan tahun yang menjadi saksi perjalanan panjang budaya masyarakat setempat. Salah satunya dapat ditemukan di Desa Lingga, sebuah desa budaya yang dikenal sebagai tempat pelestarian rumah adat Karo Siwaluh Jabu.
Beberapa peneliti dan pemerhati budaya menyebut bahwa pada masa lalu jumlah rumah adat Karo di sana jauh lebih banyak dibandingkan saat ini. Seiring berjalannya waktu, sebagian bangunan rusak, ditinggalkan penghuninya, atau menghilang akibat keterbatasan pemeliharaan.
Kini, rumah adat yang masih bertahan dapat dihitung dengan jari.
Keberadaan rumah adat Karo di sejumlah desa lain juga menyusut. Ada juga yang dipindahkan ke lokasi lain untuk tujuan preservasi dan edukasi publik agar warisan arsitektur tersebut tetap dapat dinikmati oleh generasi berikutnya. Fenomena ini menunjukkan bahwa keberadaan Siwaluh Jabu menghadapi tantangan serius di tengah arus modernisasi.
Rumah-rumah adat berusia ratusan tahun yang masih berdiri di Tanah Karo itu bukan hanya mahakarya arsitektur tradisional, tetapi juga menyimpan simbol, kosmologi, dan keteraturan yang menarik untuk dibaca dari sudut pandang yang tidak biasa.
Selama ini, rumah adat Karo sering dibahas sebagai warisan budaya yang mencerminkan gotong royong, sistem kekerabatan, dan identitas masyarakat Karo. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa di balik bentuk bangunannya yang khas tersimpan pola-pola yang dapat dianalisis melalui perspektif etnomatematika, yakni kajian tentang hubungan antara matematika dan budaya.
Kosmologi dalam Sebuah Bangunan
Dalam bahasa Karo, siwaluh jabu berarti delapan keluarga. Nama itu Siwaluh Jabu merujuk pada fungsi rumah sebagai tempat tinggal bersama bagi delapan keluarga yang memiliki hubungan kekerabatan.
Tidak seperti rumah modern yang dirancang untuk satu keluarga inti, Siwaluh Jabu menjadi simbol kehidupan komunal yang menekankan kebersamaan dan kerja sama.
Bangunan ini berdiri di pada panggung kayu dengan atap besar menjulang. Menariknya, konstruksi tradisional tersebut dibangun tanpa menggunakan paku, melainkan memanfaatkan sistem pasak dan ikatan yang dirancang sedemikian rupa sehingga mampu bertahan selama ratusan tahun.
Keunikan Siwaluh Jabu tidak berhenti pada teknik konstruksinya. Bangunan ini juga mencerminkan pandangan hidup masyarakat Karo tentang hubungan antara manusia, alam, dan dunia spiritual.
Bagi masyarakat tradisional Karo, rumah bukan sekadar tempat berteduh. Rumah juga menjadi representasi alam semesta dalam skala yang lebih kecil.
Secara simbolis, bangunan Siwaluh Jabu terbagi menjadi tiga bagian utama. Bagian bawah rumah merepresentasikan dunia bawah yang berkaitan dengan kehidupan profan dan penunjang aktivitas sehari-hari seperti tempat menyimpan kayu bakar, peralatan bertani, dan kandang ternak.
Bagian tengah adalah ruang kehidupan manusia. Sementara atap yang menjulang tinggi melambangkan dunia atas yang berhubungan dengan kekuatan spiritual dan leluhur.
Pembagian ruang semacam ini menunjukkan bahwa arsitektur tradisional Karo dibangun tidak hanya berdasarkan pertimbangan teknis, tetapi juga berdasarkan sistem nilai dan kepercayaan yang diwariskan turun-temurun.
Pesan dan kode matematika
Salah satu daya tarik Siwaluh Jabu adalah ragam hias pada dinding dan bagian-bagian tertentu. Ornamen-ornamennya bukan sekadar dekorasi. Berbagai motif memiliki makna simbolis yang berkaitan dengan perlindungan, keseimbangan, kekuatan, dan hubungan manusia dengan alam semesta.
Motif seperti tapak Raja Sulaiman, sejak lama, dipercaya sebagai simbol perlindungan dan penolak gangguan. Sementara motif pengret-ret yang menyerupai hewan mitologis berkepala dua menggambarkan kekuatan serta kewaspadaan.
Motif lain seperti lumut-lumut lawi, ser-ser sigembel, bindu matagah, dan embun sikawiten juga mengandung pesan-pesan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi melalui bentuk visual.
Kejutan muncul ketika sejumlah peneliti mulai mengamati ornamen rumah adat Karo dari perspektif etnomatematika.
Dalam kajian Erwin Ardianto Halim dan Yunita Setyoningrum bersama rekan-rekannya dari Universitas Kristen Maranatha, berbagai ornamen rumah adat Karo memperlihatkan pola geometris yang cukup kompleks.
Bentuk-bentuk seperti persegi, segitiga, belah ketupat, lingkaran, garis sejajar, dan garis berpotongan dapat ditemukan pada berbagai ornamen yang menghiasi bangunan.
Pola-pola tersebut tidak tersusun secara acak. Sebaliknya, motif-motif itu menunjukkan prinsip keteraturan yang menghasilkan keseimbangan visual. Pengulangan bentuk secara konsisten menciptakan ritme yang membuat ornamen tampak harmonis ketika dilihat secara keseluruhan.
Sebagian motif juga memperlihatkan karakteristik simetri. Jika ditarik garis imajiner pada bagian tengah motif, sisi kiri dan kanan menunjukkan kemiripan bentuk. Dalam perspektif matematika, pola seperti ini dapat dianalisis sebagai bentuk pencerminan atau refleksi.
Komposisi motif yang berulang juga menunjukkan adanya konsep repetisi yang dikenal dalam kajian geometri. Tanpa menyebutkan rumus dan istilah matematika, para pemahat tradisional Karo sesungguhnya telah menghasilkan pola yang mengikuti prinsip-prinsip keteraturan matematis.
Warisan kecerdasan dan kearifan lokal
Temuan-temuan tersebut memperlihatkan bahwa rumah adat Karo Siwaluh Jabu bukan hanya peninggalan arsitektur tradisional. Di dalamnya tersimpan jejak cara berpikir masyarakat yang mampu memadukan fungsi, estetika, simbolisme, dan keteraturan dalam satu karya budaya.
Ironisnya, ketika para peneliti berhasil mengungkap berbagai lapisan makna yang tersembunyi di balik bangunan ini, keberadaan rumah adat justru terancam semakin berkurang. Dari beberapa yang tersisa, ada yang tampak kurang terawat.
Upaya pelestarian Siwaluh Jabu tidak hanya penting untuk menjaga fisik bangunan tua, tetapi juga untuk mempertahankan pengetahuan yang terkandung di dalamnya.
Rumah adat Karo Siwaluh Jabu menunjukkan kepada kita bahwa matematika sangat berelasi dengan budaya. Aktivitas matematis dapat tumbuh dari pengalaman hidup, pengamatan terhadap alam, dan tradisi yang diwariskan selama berabad-abad.
Di balik atap yang menjulang, ukiran yang memesona, dan ornamen yang penuh simbol, tersimpan bukti bahwa leluhur Karo telah mewariskan cara berpikir yang teratur, sistematis, dan penuh makna. Sebuah kode matematis yang mencerminkan kecerdasan dan kearifan lokal leluhur Nusantara.
Warisan pengetahuan itu masih dapat dibaca hingga hari ini, dan layak dijaga agar tidak hilang ditelan zaman.
Iwan Santosa ST MKom, Ketua Pelaksana Resona Saintek 2026 Universitas Kristen Maranatha dalam program Sinergi Kreasi Masyarakat dan Akademisi untuk Sains Teknologi Nusantara (Semesta) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.
Oleh Iwan Santosa *)
Editor : Sapto Heru Purnomojoyo
Dedikasi insan maritim di garis depan mengawal pasokan energi
SAH Apresiasi Bantuan Presiden Prabowo untuk Penanggulangan Karhutla di Jambi
Kasus Lapas Cibinong dan momentum pembenahan integritas pemasyarakatan
DPR-Kemenimipas sepakat bongkar fasilitas 'apartemen' Lapas Cibinong
Peringati Sumpah Pemuda ke-98, Kakanwil Kemenkum Jambi Tekankan Patriotisme dan Empati


