Dewan Pers Ajak Tangkal Hoax dengan Kode Etik Qurani



Jumat, 01 Juni 2018 - 13:40:13 WIB



Narasumber yang mengisi acara
Narasumber yang mengisi acara

JAMBERITA.COM- Untuk menangkal hoaks, Wakil Ketua Dewan Pers, Ahmad Djauhar, menegaskan bahwa di tengah masyarakat terdapat kode etik Qurani yang seharusnya bisa dipedomani. Terutama ini bisa dilakukan masyarakat dalam menyebarluaskan informasi.

“Kalau dalam pemberitaan media massa, wartawan punya kode etik jurnalistik sebagai pedoman dasar, ada juga kode etik Qurani yang harusnya dipedomani dan dipakai masyarakat untuk menyebarkan informasi,” kata Ahmad Djauhar  saat menjadi narasumber dalam kegiatan literasi digital sebagai penangkal radikal terorisme dengan tema Saring Sebelum Sharing yang dilaksanakan BNPT bersama FKPT Jambi.

 Di Alquran, menurut dia, sudah jelas menegaskan terkait hal ini. “"Ada ayat al-Quran yang berbunyi janganlah campur baurkan kebenaran dengan kebathilan,  dan janganlah kamu sembuyikan kebenaran sedangkan kamu mengetahui-Nya,” ujarnya.  

“Selain itu ada juga, hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu,” ucapnya lagi.

“Jadikan ini sebagai kode etik, kode etik Qurani ketika kita akan menyebarkan informasi di media sosial," katanya meneruskan.

Terkait informasi bohong atau hoaks, dalam agama sudah jelas mengharamkan untuk disebarluaskan. “Demikian juga hukum positif kita, yang tegas menyebut menyebarkan hoaks bisa dipidanakan," tambahnya tegas

Djauhar menyatakan bahwa fenomena menjamurnya hoaks teridentifikasi berperan munculnya radikalisme dan terorisme. Ini karena dalam penyebaran paham radikal dan terorisme itu ternyata juga mengikuti kemajuan teknologi informasi.

Menurut dia, sekarang ini standar internasional internet baru bisa diakses oleh anak usia di atas 13 tahun. Berbeda dengan di Indonesa, anak-anak di bawah 13 tahun sudah memegang gadget. “Ini bahaya, karena mereka bisa menjadi target perekrutan pelaku terorisme," ucapnya.

Djauhar mengajak semua masyarakat untuk selalu bijak dan cerdas dalam menggunakan media sosial. Begitu juga, kepada media massa dia juga berharap untuk tetap berhati-hati dalam menyajikan berita.  

"Ada sebuah blog yang didesain sedemikian rupa seolah-olah media pers resmi. Memberitakan hoaks, mesin pembunuh itu bernama Densus 88. Ironisnya ada redaksi media massa pers yang mengutip dan menayangkannya di medianya. Saya tegaskan, redaksi media massa pers harus lebih berhati-hati mencari sumber berita," ujarnya. 

Dalam dialog yang diselenggarakan BNPT Bersama FKPT Provinsi Jambi itu, selain dihadiri oleh Ahmad Djauhar, juga diisi oleh pejabat BNPT, Setyo Pranowo, pengurus AJI Jambi, Siti Masnidar, dan peserta diajak untuk belajar memuat konten kreatif dengan dilatih oleh Lexi Rambadeta. (*)



Artikel Rekomendasi