JAMBERITA.COM- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberi penjelasan soal dampak gempa beruntun pada 10 dan 11 Januari lalu. BMKG menyatakan kejadian tersebut tidak mengakibatkan kenaikan permukaan air laut yang signifikan sebagai indikasi tsunami di kawasan tersebut.
Terkait potensi terjadinya kembali tsunami di Selat Sunda, Deputi Bidang Geofisika BMKG Muhamad Sadly mengatakan hal tersebut masih ada. Ia menerangkan sedikitnya terdapat tiga sumber tsunami di Selat Sunda, yakni kompleks Gunung Anak Krakatau (GAK), Zona Graben, dan Zona Megathrust.
Sadly menjelaskan kompleks GAK terdiri dari Gunung Anak Krakatau, Pulau Sertung, Pulau Rakata, dan Pulau Panjang. Gunung serta ketiga pulau tersebut tersusun dari batuan yang retak-retak secara sistemik akibat aktivitas vulkano-tektonik. Akibatnya, kompleks tersebut rentan mengalami runtuhan lereng batuan (longsor) ke dalam laut dan berpotensi kembali membangkitkan tsunami.
Begitu pun Zona Graben, yang berada di sebelah barat-barat daya kompleks GAK. Ini merupakan zona batuan rentan runtuhan lereng batuan (longsor) dan berpotensi memicu gelombang tsunami. Sementara itu, Zona Megathrust termasuk pula sebagai wilayah yang berpotensi membangkitkan patahan naik pemicu tsunami.
"Atas dasar itulah hingga saat ini BMKG tetap memantau perkembangan kegempaan dan fluktuasi muka air laut di Selat Sunda. BMKG juga mengimbau masyarakat untuk mewaspadai zona bahaya dengan radius 500 meter dari bibir pantai yang elevasi ketinggiannya kurang dari 5 meter," ujarnya seperti dikutip dari detik.com.
Sementara itu, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyampaikan pemasangan beberapa alat pantau dilakukan di sejumlah titik di Selat Sunda guna memantau aktivitas kegempaan dan fluktuasi muka air laut. Di antaranya di Pulau Sebesi, Ujung Kulon, dan Labuan. Pulau Sebesi merupakan pulau terdekat dengan kompleks GAK yang saat ini bisa dijangkau untuk pemasangan alat. Pulau ini difungsikan sebagai buoy alam agar dapat memberikan rekonfirmasi lebih dini bahwa gelombang tsunami terjadi.
Dwikorita menambahkan, agar pemantauan aktivitas kegempaan dan fluktuasi muka air laut lebih maksimal, BMKG merekomendasikan untuk membangun BTS (base transceiver station) khusus di sekitar GAK dan Ujung Kulon.
Selain itu, dilakukan penambahan instrumentasi dan fasilitas untuk pemantauan muka air laut. Misalnya Tide Gauge atau Sensor Water Level, Buoy, dan Radar Tsunami atau HF Radar.
"Penambahan peralatan tersebut untuk mempercepat pengiriman data hasil pengamatan aktivitas kegempaan dan fluktuasi muka air laut yang terpantau. Dengan begitu, kita memiliki lebih banyak waktu untuk meminimalisir jumlah korban akibat gempa maupun tsunami di wilayah pesisir Selat Sunda," ujar Dwikorita.
Dwikorita menambahkan, untuk mengantisipasi beredarnya informasi sesat dan bohong mengenai kondisi Selat Sunda, BMKG mengimbau masyarakat melakukan cek dan kroscek informasi melalui kanal-kanal resmi milik BMKG.
"Jangan terpancing isu hoax, pantau terus InfoBMKG untuk update informasi kegempaan dan tsunami serta info prakiraan cuaca serta iklim. Sedangkan informasi mengenai erupsi gunung api dan zona rentan longsor masyarakat bisa memonitor Magma Indonesia," imbuhnya.(Sumber:detik.com)
Kapuspen Kemendagri Ajak Masyarakat Kenali 5 Warna Surat Suara Pemilu 2019
Mendagri Minta Sistem Keamanan Lingkungan di Kelurahan dan Desa Dihidupkan
Mendagri Minta 3 Gubernur Lakukan Kordinasi Dalam Pengelolaan Transportasi Jabodetabek
ACTA Polisikan Grace Natalie dan 3 Kader PSI Terkait Award Kebohongan
Peneliti Senior LIPI Nilai PSI Berikan Award Kebohongan Tak Etis


Gubernur Al Haris Dorong Pengusaha Muda Jambi Tampil di Tingkat Nasional pada Munas HIPMI ke-18


