Al Haris yang Saya Kenal



Selasa, 06 Juli 2021 - 17:45:53 WIB



Oleh Antony Z Abidin.

SAYA baru mengenal Al Haris, Gubernur Jambi 2021-2024 terpilih, sekitar 16 tahun yang lalu. Saat Hasan Basri Agus menjabat Bupati Sarolangun. Relatif baru.

Tetapi saya sudah sejak lama mengenal Desa Sekancing tempat kelahirannya. Desa yang berjarak 26 Km dari Kota Bangko, Ibukota Kabupaten Merangin itu dulu cukup sering saya lewati dalam perjalanan ke Muara Siau. Naik sepeda.

Tentu saja digonceng karena pada awal tahun 60an saya belum cukup umur untuk mengendarai sepeda sendiri, tergolong anak-anak.

Waktu itu hanya ada satu mobil rute Bangko-Siau. Landrover 2 gardan ukuran kecil milik Haji Musa. Merek dan jenis mobil buatan Inggris Ini hingga sekarang tergolong mobil mahal.

Namun, pada waktu itu fungsinya: mengangkut getah/karet, orang sakit atau orang tua dan toke getah. Tentu saja saya tidak termasuk katagori itu. Maka, Jika pergi ke Siau selalu naik sepeda.

Itu dulu, sebelum Al Haris lahir tahun 1973. Beruntungnya generasi Gubernur Jambi terpilih ini, ia lahir pada zaman Indonesia mulai membangun.

Awal Repelita pertama, 1969-1974. Saat itu infrastruktur dasar mulai dibangun, termasuk SD Inpres (1973) serta fokus ke bidang pertanian. Generasi yg lahir di era itu relatif cukup gizi dan fasilitas pendidikan.

Ketersediaan pangan dan stabilitas harga menjadi prioritas. Mulai jarang orang di dusun kelaparan dan makan gadung. Dampaknya, Al Haris memperoleh pendidikan SMP di sekitar dusunnya, Sekancing.

Waktu saya kelas 1 SMP di Bangko, belum ada SMP di Sekancing. Saya punya teman-teman asal desa yang sekarang berpenduduk 1191 itu. Dua di antaranya adalah murid wanita. Sesuatu yg jarang terjadi pada waktu itu, apalagi untuk desa berjarak cukup jauh seperti Sekancing.

Di kelas saya pada waktu itu, hanya 2 murid wanita asal luar kota Bangko. Yaitu yg dari Sekancing tersebut. Tamat SMP PGRI (1988) Sekancing, Al Haris baru pergi meninggalkan dusunnya. Melanjutkan ke SMA Swasta di Bangko.

Di Bangko ia harus mandiri. Untuk mencapai cita-citanya, sambil sekolah ia bekerja. Teman-teman yang mengenalnya mengatakan Bupati Merangin 2 periode itu dulu selama menuntut ilmu di Bangko pernah berjualan koran dan martabak.

Si “Tukang Martabak” itupun kemudian menjadi calon Bupati Merangin tahun 2017. Sejak itu ia mulai intens ketemu dan bersilaturahim. Mengunjungi rumah saya di Bangko, Jambi bahkan di Jakarta. Ia pun kemudian menjadi calon Bupati yang didukung Partai Golkar. Saya ikut aktif berkampanye untuk Al Haris. Periode keduanya pun demikian.

Sebelum pencalonan Gubernur Jambi tahun lalu, saya pun diminta mendukung Al Haris. Waktu itu saya katakan, jika diusung partai tempat saya aktif, pasti saya dukung. Namun, karena Al Haris bukan calon Partai Golkar untuk Pilgub Jambi yang lalu, permintaan itu mustahil bisa dipenuhi.

Ternyata calon partai Golkar Cek Endra (CE) kalah tipis: 0,9%. Keesokan hari setelah KPU Jambi mengumumkan hasil Pemungutan Suara Ulang (PSU), Al Haris menemui CE di rumah dinas Bupati Sarolangun itu. Silaturahim berlangsung akrab, penuh rasa kekeluargaan. Mereka berdua memang sama-sama bagian dari keluarga besar Sarolangun. Sungai Batang Tembesi Yang melintasi Sekancing, juga melintasi Mandiangin tempat kelahiran CE.

Kedua Bupati itu bahkan pernah satu kantor, ketika CE menjabat Wakil Bupati Sarolangun, Al Haris menjabat Kepala Biro. Kini, setelah dilantik, tugas berat menunggu Al Haris dan Wagub Abdullah Sani. Pasangan ideal dengan pengalaman yang sudah terus teruji kemampuan birokrasi dan keterampilan berkomunikasi dengan Rakyat.

Al Haris berasal dan dibesarkan di Desa. Memulai karir dari golongan paling bawah PNS, 1 b. Ia adalah Lurah pertama di Jambi yang menjadi Gubernur. Lurah kedua se-Indonesia. Wahidin Halim, Gubernur Banten sekarang, juga mantan kepala desa/Lurah. Adalah Yang pertama. Dengan bermodalkan pengalaman panjang di pemerintahan itu, Al Hsris dapat diandalkan akan membawa Jambi keluar dari krisis. Semoga.





Artikel Rekomendasi