Harga Terigu Naik Tak Ragu



Senin, 07 Februari 2022 - 08:37:26 WIB



Oleh : Dr. Noviardi Ferzi*

 

 

Masuk tahun 2022, harga berbagai komoditas pangan di tingkat lokal Jambi terpantau naik sejak akhir tahun lalu, tak terkecuali gandum. Dalam catatan Aptindo, harga tepung terigu telah naik secara bertahap sejak Januari sampai saat ini, buruknya, kenaikan harga tepung terigu berpotensi sampai akhir tahun depan.

Tentunya ini menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat dan industri berbasis tepung terigu. Konsumsi masyarakat yang tinggi terhadap produk terigu memicu kenaikan terhadap harga mie instan, roti, martabak, kerupuk, bakso, sosis, itu semua kan ada tepung terigunya. 

Sejak awal tahun, kenaikan harga gandum dunia mencapai rata-rata 40 persen. Sejalan dengan fenomena itu, harga terigu di Indonesia pun terdampak karena kontribusi gandum mencapai 82 persen dari biaya produksi jenis tepung tersebut.

Anomali harga tepung terigu di Indonesia diproyeksikan berlanjut sampai dengan April 2022, seiring dengan berlarut-larutnya isu kenaikan harga komoditas serealia tersebut di tingkat global akibat gangguan produksi di negara sentra.

Harga komoditas serealia itu terkerek setelah laporan turunnya produksi akibat gangguan cuaca di negara eksportir. Produksi turun akiat gangguan cuaca di belahan bumi utara. Khusus gandum berdampak ke penurunan di Kanada, Amerika Serikat, dan Rusia.

Akibat penurunan produksi ini, negara produsen memutuskan untuk membatasi ekspor. Salah satunya Rusia yang menetapkan pajak ekspor. Di sisi lain, Kanada dan Amerika Serikat diperkirakan mengalami penurunan produksi sampai 30 persen.

Khusus terigu serbaguna dan protein tinggi telah naik 6 persen, sedangkan protein rendah telah naik 15 persen. Harga di pasaran diperkirakan akan mencapai level tertinggi pada April atau Mei 2022 dan bertahan sampai September 2022. Situasi harga akan tergantung pada proyeksi hasil panen gandum pada tahun depan.

Harga Terigu sebuah Tren Global 

Tren harga komoditas pangan yang terjadi saat ini merupakan fenomena yang tidak bisa dihindari Indonesia, dan kita sudah dan akan semakin terdampak.

Masalah kenaikan ini, sebenarnya terdapat dua tesis yang bisa menjelaskan terjadinya kenaikan harga komoditas. 

Pertama, hal ini merupakan siklus berulang dan pernah terjadi sebelumnya atau commodity super cycle. Saat harga bisa memasuki fase normalisasi jika konsumen melakukan penyesuaian, terdapat perbaikan produksi, dan ditemukannya teknologi baru.

Sedangkan tesis kedua, spesifik pada 2020 dan 2021 karena faktor perubahan iklim dan pandemi yang berimbas pada 2022, seperti tenaga kerja yang berkurang dan kelangkaan kapal pengangkut.

Sebagai eksportir minyak sawit, Indonesia bisa menikmati situasi ini, tetapi turut mengalami kesulitan untuk komoditas yang diimpor seluruhnya atau sebagian seperti gandum, daging, dan jagung.

Kondisi harga komoditas yang naik dan gangguan produksi ini setidaknya dirasakan industri produsen tepung. Produk tersebut memerlukan gandum yang 100 persen diimpor Indonesia.

Kondisi produksi tetap lebih rendah dari pada kebutuhan sehingga stok yang tersedia cenderung berkurang. Setiap produsen memiliki stok yang berbeda - beda, namun kenaikan harga gandum tentu akan menyumbang kenaikan harga tambahan terhadap tepung terigu.

Pada tahun 2020 produksi tepung terigu nasional membutuhkan impor gandum sekitar 8 juta ton, dengan kenaikan sekitar 5 persen per tahunnya. Jumlah ini setara dengan 6 juta ton tepung terigu (rendemen 75 persen). Selain itu, produksi pakan ternak juga masih membutuhkan impor gandum sekitar 3 juta ton.

Meski demikian, naiknya permintaan gandum untuk pakan dari konsumen besar seperti China dan produksi yang lebih rendah di Kanada, Rusia dan Autralia bakal membuat pasokan tetap ketat. Artinya, Harga terigu akan naik tak ragu, maka siap - siap di Jambi saya harus membayar lebih mahal untuk semangkok mie ayam.

 

 

* Pengamat



Artikel Rekomendasi