Mudik Untuk “Mengakhiri” Ramadhan



Rabu, 27 April 2022 - 11:56:46 WIB



Oleh: Amri Ikhsan*

 

 

 

Nabi Muhammad. SAW telah mencontohkan kegiatan ibadah untuk 10 hari terakhir di bulan Ramadhan. hendaknya diperbanyak ibadah karena hari-hari itu justru akan menentukan kualitas dan keutuhan ibadah Ramadan kita. Namun sayang, waktu mustajab ini malah banyak terpikirkan: pulang mudik, baju dan kue lebaran, yang akibatnya bukan masjid tempat i’tiqaf tapi di mall. 

Hanya ada di Indonesia menjelang lebaran: mudik. Bagi sebagian masyarakat ini adalah .momen paling yang ditunggu-tunggu. Kata "mudik" dan "lebaran" menjadi dua kata yang sering muncul pada bulan Ramadhan dan menjelang Hari Raya Idul Fitri.  "Mudik" berasal dari kata "udik" yang berarti kampung. Mudik juga diartikan sebagai aktivitas pulang ke kampung halaman. (Mamad)

Bagi sebagian umat Islam, mudik di menjelang lebaran merupakan penyemangat hidup, dorongan mencari rizki, dll. Setelah satu tahun tidak ketemu, tinggal berjauhan dengan keluarga, tentunya momentum libur hari raya membuat kerinduan pulang kampung berkumpul dengan keluarga menjadi pilihan yang tidak dilewatkan begitu saja. Pulang kampung saat lebaran tidak sama dengan pulang di waktu yang lain, ini pulang kampung ‘membawa’ jiwa dan raga yang penuh emosional, penuh drama. 

Niat awal mudik untuk pulang kampung untuk melepas rindu, dan berkumpul dengan keluarga besar. Pada era kekinian, pemudik memiliki ‘niat lain’ untuk menunjukkan eksistensi dirinya selama di perantauan. Mereka yang balik ke kampung akan membawa sesuatu yang membanggakan diri dan keluarganya (Kompas). Ada juga sebagian memaksakan diri untuk tampil sebaik mungkin, bagaimanapun caranya, demi prestise.

Dirasakan, ada beberapa motif kenapa orang ‘ngotot untuk pulang kampung. Pertama, dorongan keagamaan yang telah menjadi budaya. Islam mengajarkan bahwa mereka yang sudah berpuasa akan diampuni dosa-dosanya. Diyakini, yang diampuni hanya dosa di hadapan Allah, sedang dosa dengan orang tua, kakak beradik, tetangga sekampung, tidak akan diampuni kecuali saling bermaaf-maafan dengan jabat tangan melalui silaturahim antara satu dengan yang lain (Komarudin Hidayat). 

Kedua, ingin bercerita dengan keluarga dan orang sekampung, mudik merupakan panggung bagi pemudik untuk mengungkapkan perasaan kepada orang lain: kedua orang tua, keluarga, sanak saudara, tetangga dan orang ‘sedusun’ dengan bercerita ‘nostalgia’ masa lalu, pengalaman di perantauan, suka duka di negeri orang. 

Ketiga, update status, mudik adalah cara paling ‘alami ‘menggunakan ’smartphone’. Sudah bosan update status tentang pekerjaan atau situasi di perantauan. Waktunya ‘back to nature’, memotret setiap langkah, setiap kegiatan, setiap baju, jilbab yang dipakai, mencari sudut pandang ‘dusun’, mulai dari tempat, makanan, kegiatan dan orang kampung. Semuanya di-upload dengan berbagai gaya ke berbagai platform media sosial. Itulah kebahagian hakiki orang yang pulang kampung.

Keempat, rindu kampung dan masakan kampung (masakan Mak). Dirasakan makanan ‘orang kota’ berbeda dengan makanan orang kampung. Ini adalah ‘obat rindu’ dan kesempatan untuk menikmati suasana kampung sekaligus menikmati masakan kampung. Makanan yang paling enak dan paling yang tidak akan ketemu di Rumah makan apapun adalah masakan ‘mak’ walau masakan itu dibuat secara tradisional.

Bagi sebagian pemudik, pulang kampung merupakan waktu ‘melupakan sejenak’ kehidupan kota yang “gersang” dan penuh dengan kepura-puraan, dan sementara menikmati kehidupan desa yang penuh kekerabatan dan kesetiakawanan sosial yang tinggi. Alam desa yang masih bersih dari polusi kemunafikan ini, hendaknya bisa dibawa ke perantauan. (Bidikglobal).

Bagi pemudik idealnya memiliki persepsi bahwa mudik itu bisa dilakukan dalam dua bentuk, yaitu mudik jasmani dan mudik ruhani. Mudik jasmani yaitu kembalinya seseorang secara fisik ke kampung halamannya dan setelah urusan selesai maka orang tersebut dapat kembali lagi ke aktivitas kesehariannya di luar kampung halamannya. Mudik jasmani bisa kita lihat setiap menjelang lebaran. Sedangkan mudik ruhani adalah kembalinya ruh seseorang untuk pulang ke Rahmatullah dan tidak akan mungkin kembali ke aktivitas semula. Mudik ruhani inilah yang menjadi mudik haqiqi. Mudik yang harus dipersiapkan bekal yang sebaik-baiknya untuk dibawa pulang. (Krjogja.com)

Kita boleh saja bersemangat untuk pulang kampung secara fisik yang berbekal ‘oleh oleh’ dari kota, tapi tidak boleh melupakan bahwa suatu saat nanti kita akan mudik rohani, yang berbekalkan ‘oleh oleh’ kebaikan, ibadah dan lain lain yang diperbuat selama ini. 

Dalam beberapa kitab diceritakan, setiap menjelang berakhirnya bulan Ramadan, para sahabat Rasulullah SAW selalu menangis tersedu-sedu. Menangisi dosa-dosa yang telah mereka lakukan selama satu tahun. Para sahabat takut jika bekal yang mereka miliki belum memadai untuk melakukan mudik haqiqi, karena menjelang akhir Ramadan mereka selalu melakukan muhassabah (Krjogja.com). 

Para sahabat Rasulullah SAW diakhir ramadhan disibukkan dengan bermuhasabah, instropeksi dan evaluasi diri terhadap apa yang sudah dilakukan, ‘menghitung’ amalan dan ibadah yang telah dilaksanakan, dan memantapkan amalan dan mengulang ibadah yang mungkin belum sempurna dilakukan. Ini dilakukan untuk mengumpulkan bekal yang sebaik baiknya untuk di bawa ketika mudik ruhani itu tiba. 

Kita harus menyakini bahwa kemenangan hakiki puasa Ramadan adalah kemampuan umat Islam dalam memerangi diri sendiri terhadap hawa nafsunya, lisannya, serta perilakunya. Kemampuan ‘berperang’ ini harus terus dilanjutkan dan dibuktikan sampai masanya mengakhiri puasa Ramadhan. 

Hingga akhirnya kita berhasil menyelesaikan puasa Ramadan dan menuju kemenangan di Hari Raya. Idul Fitri harus dijadi simbol rasa syukur atas kemenangan peperangan yang penuh pengorbanan sepanjang bulan Ramadan. Kemenangan ini ‘wajib’ dilanjutkan untuk 11 bulan berikutnya. Strategi dan semangat ibadah, kualitas dan kuantitas amalan selama Ramadhan harus tetap dilanjutkan, agar kemenangan ini menjadi abadi dan menjadi bekal ‘mudik’ yang hakiki.

Jangan sampai ‘kemenangan dramatis’ di bulan Ramadhan ‘hanya’ dirayakan pusat-pusat perbelanjaan. Jangan sampai berakhir puasa Ramadhan serasa ‘keluar penjara’. Berani ‘bergembira’ menyambut kemenangan di hari fitri, berarti menerima ‘tantangan’ bahwa beribadah untuk 11 bulan berikutnya minimal sama kualitas dan kuantitas selama Ramadhan. Pasti bisa, Inshaallah.(*)

 

 

Penulis adalah seorang pendidik di Madrasah*



Artikel Rekomendasi