Oleh: Amri Ikhsan*
Manusia adalah makhluk pekerja (Mudima). Bekerja secara total bisa menjadikan manusia hidup lebih sempurna. Bekerja itu kehidupan, dengan sendirinya harus dilakukan. Kesuksesan, keberhasilan, kebahagiaan ‘mustahil’ akan tercapai tanpa bekerja. Bekerja adalah manifestasi dari kehidupan manusia. Namun, bekerja tanpa semangat ‘niat ikhlas’ untuk mencapai tujuan tentu saja akan percuma.
Bekerja yang berkualitas merupakan hasil dengan niat yang benar dengan disertai semangat yang kuat. Niat dan semangat akan ‘mencair’ begitu saja tanpa ada ‘ilmu’ yang mendukung pekerjaan itu. Bekerja harus disandingkan dengan ‘belajar’. Bekerja tanpa belajar sama dengan orang yang mobil tapi tidak bisa ‘nyetir’.
Pasca cuti libur Hari Raya Idul Fitri 1444 Hijriah, ASN wajib masuk kerja pada waktu yang sudah ditetapkan. Pemerintah sudah menyepakati dan menetapkan perubahan hari libur nasional dan cuti bersama tahun 2023. Kesepakatan tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) Menag, Menaker, Menteri PANRB Nomor 327 Tahun 2023, Nomor 1 Tahun 2023, Nomor 1 Tahun 2023 tentang Perubahan Atas Keputusan Bersama Menag, Menaker, Menteri PANRB Nomor 1066 Tahun 2022, Nomor 3 Tahun 2022, Nomor 3 Tahun 2022 tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2023. (Setkab)
Pasca libur ini, tentu ‘orang yang beriman’ yang sudah mendapat ‘gelar’ orang yang bertakwa dipastikan sudah mampu menguasai hawa nafsunya, yaitu orang-orang yang jika diberi cobaan oleh Allah SWT tetap sabar dan tidak emosi, dan keluh kesah. Orang-orang inilah yang oleh Rasulullah Saw. disebut sebagai orang kuat, karena mampu mengendalikan diri dan menguasai hawa nafsunya (UIN Malang). Potensi ‘kuat’ ini harus selalu dijaga untuk keberlangsungan kehidupan berikutnya.
Makna Idul Fitri bagi sebagian kalangan adalah kembali pada yang suci, bersih atau bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas kesuksesan ‘menaklukkan’ musuh besar manusia yaitu, hawa nafsu yang selalu ingin menjerumuskan manusia ke kesesatan. Tapi maknanya mesti ‘diperbesar’ dengan kembali ‘bekerja’ dengan ‘modal’ kemenangan yang didapatkan selama bulan Ramadan.
Islam menempatkan bekerja sebagai ibadah untuk mencari rezeki dari Allah agar tetap eksis dalam kehidupan. Bekerja untuk mendapatkan rezeki yang halalan thayiban termasuk kedalam jihad di jalan Allah yang nilainya sejajar dengan melaksanakan rukun Islam. Mesti dipastikan bekerja adalah ibadah dan menjadi kebutuhan setiap umat manusia. Bekerja yang baik adalah wajib sifatnya dalam Islam. (islampos)
Bekerja bukan saja ‘mau’ tapi harus professional. Dan prakteknya mencontoh sikap dan perilaku Rasulullah yaitu siddiq, fathonah, amanah dan tabligh agar kita diberikan keselamatan dunia dan akhirat. Wujud dari kita bekerja selain mendapat rezeki halal adalah pengakuan dari lingkungan atas prestasi kerja kita, ‘minimal’ tercatat di ‘presensi online. Bekerja menurut pandangan Islam bukan hanya sekedar bekerja asal-asalan, setiap muslim dianjurkan agar selalu memperbaiki pekerjaannya. pencaharianmu”. (HR. Abu Zar dan Al Hakim)
Islam memberikan ‘platform dalam bekerja: ihsan (baik), jiddiyah (integritas), itqon (profesional). Keempat platform ini akan memandu kita untuk selalu istiqomah dalam menjadi yang terbaik dalam bekerja. Platform ini akan memudahkan pemangku kepentingan ‘mencatat’ hasil pekerjaan ini. Pengakuan para stakeholder sangat penting dalam urusan ‘penilaian duniawai’ (baca-penggajian’).
Harus diakui, bekerja itu bukan ‘hanya’ dating, atau berada di tempat kerja tapi harus berdampak terhadap ‘kinerja’. Ini harus dilandasi: (1) kafa’ah, bekerja berdasarkan ilmu diperoleh melalui pendidikan, pelatihan dan pengalaman; (2) himmatul-‘amal, bermotivasi tinggi, bukan karena presensi tapi karena ingin mengabdi, tidak begitu mempertimbangkan penghargaan (reward) dan hukuman (punishment); (3) Amanah, setiap bekerja dipercaya dan bertanggungjawab. Mampu menyelesaikan tugas tepat waktu dengan hasil yang maksimal (jurnalislam).
Bisa dipastikan bekerja itu adalah fitrah manusia. Kita seharusnya tidak asal bekerja, agar kelihatan ‘hadir’, atau sekedar ‘terlihat’ di tempat kerja atau tercatat di ‘database’ kehadiran. Jangan sampai nilai profesionalisme ‘terkubur’ oleh data fisik kehadiran yang belum tentu menyentuh tupoksi seorang ASN. Oleh karena itu, kesadaran bekerja secara produktif dan berdampak mestinya menjadi perhatian para stakeholder.
Pasca libur, ‘refreshmen’ kebiasaan mesti dilakukan secara total seperti yang disarankan oleh Stephen R. Covey: Pertama, jadilah proaktif (be proactive). Guru harus mempunyai kebiasaan mengambil inisiatif sendiri tanpa menunggu perintah; Kedua, memulai dengan akhir dalam pikiran (begin with the end in mind). Jadilah guru yang mempunyai visi, misi, dan tujuan yang jelas agar guru dalam, menjalankan tugas dan fungsinya tidak salah melangkah
Ketiga, dahulukan yang utama (putting first things first). Guru harus pandai memilih dan memilah untuk melakukan hal-hal yang benar-benar penting dan tidak menyia-nyiakan waktu untuk melakukan aktivitas yang tidak penting; Keempat, berpikir menang-menang (think win/win). Bekerjalah untuk ‘menyenangkan’ diri sendiri dan untuk ‘memuaskan’ para stakeholder. Ini membutuhkan kejujuran (adanya kesesuaian antara perkataan dan perbuatan), integritas, kedewasaan (adanya keseimbangan antara ketegasan dan pertimbangan), dan sikap mental berkelimpahan (sebagai lawan dari sikap mental kelangkaan).
Kelima, berusaha memahami terlebih dahulu, baru kemudian dipahami (seek first understand, then to be understood). Jadilah guru yang bisa memahami orang lain terlebih dahulu baru minta dipahami atau mengerti, mendengar lebih dahulu baru berbicara. Hormati semua perundangan yang berlaku dan janganlah melakukan penolakan sebelum kita mengetahui duduk persoalannya dengan jelas; Keenam, bersinergi (synergize). Jadilah guru yang bisa bekerja sama dengan orang lain. Mau berbagi dan mau menerima pendapat orang lain. Bersinergi berpotensi menghasilkan prestasi bersama lebih berkualitas.
Ketujuh, belajar terus menerus (sharpen the saw). Ilmu, pengetahuan dan teknologi selalu berkembang dan belajar adalah cara untuk menyesuaikan diri dengan perubahan ini. Belajar juga cara menyeimbangkan mental, fisik, spiritual, dan emosional lebih baik; dan kedelapan, menemukan panggilan jiwa (find your voice). Guru harus mampu menemukan suara hati yaitu sesuatu yang unik yang dimiliki seseorang yang muncul ketika menghadapi tantangan sangat besar dan tantangan itulah yang menggerakkan kemampuan (talent) dan energi (passion) untuk mewujudkan capaian yang luar biasa (greatness).
Mari kita lanjutkan ibadah dan amalan yang sudah ‘terbiasa’ dilakukan sepanjang Ramadan untuk 11 bulan berikutnya. Wallahu a'lambish-shawab!
*) Penulis adalah Pendidik di Madrasah
HILANGNYA PERANAN KATO NAN AMPEK DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI DIMINANGKABAU
Perkuat Komoditas Unggulan, Kemenkum Jambi Audiensi dengan Pemkab Merangin Bahas IG Kayu Manis



