Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Bapak Sudirman yang terhormat,
Dini hari tadi, saya membaca berita perihal Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Bank 9 Jambi resmi menetapkan Sekretaris Daerah Provinsi Jambi, Sudirman, sebagai Komisaris Utama Bank Jambi yang baru. Saya urungkan mengucapkan selamat kepada bapak atas amanah baru ini di tengah tanggung jawab selaku SEKDA Provinsi Jambi cum Ketua Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) dalam kondisi APBD kempas-kempis, melainkan menaruh harapan bagi perbaikan bank plat merah ini.
Di sepanjang tepian Batanghari, dari hulu yang tenang hingga ke hilir yang menderu, nama "Bank Jambi" selama puluhan tahun telah berdiri sebagai mercusuar harapan--sebuah kehendak berdiri sejajar dengan ekonomi maju daerah lainnya sejak 12 Februari 1959. Bank daerah ini adalah rumah bagi simpanan para pegawai kantor dan guru (mayoritas ASN di lingkup Pemerintah Provinsi Jambi/Kabupaten/Kota), sandaran modal bagi pedagang-pedagang kecil di pasar tradisional, dan lumbung bagi masa depan pembangunan daerah. Namun, kabar duka yang menyiarkan raibnya 143 miliar rupiah dan berdampak pada lebih dari 6.000 rekening nasabah akibat serangan siber belum lama ini (22/2/26), telah menghantam nurani kita seperti badai di tengah musim tenang.
Bagi sebagian orang, uang sebesar itu mungkin hanya deretan nol di atas kertas kerja. Namun bagi kami, rakyat Jambi, angka itu adalah tumpukan peluh, hasil panen yang ditabung sedikit demi sedikit, dan cita-cita yang dititipkan dalam ruang-ruang digital yang kami percayai aman. Saat peretas menembus dinding pertahanan siber Bank Jambi, mereka tidak hanya mencuri uang; mereka sedang mencuri rasa aman sekaligus menjadi ancaman potensial bagi infrastruktur keuangan daerah.
Melalui surat terbuka yang lahir dari kegelisahan ini, izinkan saya menyampaikan beberapa poin esensial, mungkin saja mengandung arti sebagai pengingat bagi Dewan Komisaris beserta Direksi Bank Jambi:
Pertama, teknologi hanyalah alat, namun manusia adalah penjaganya. Kehilangan dana dalam skala sebesar itu menguatkan dugaan adanya celah yang menganga—sebuah pintu yang mungkin lupa dikunci atau dinding keamanan digital yang sengaja dibiarkan rapuh. Publik Jambi mendesak transparansi yang seadil-adilnya. Apakah ini murni serangan luar yang tak terduga, ataukah ada kelemahan dalam sistem pengawasan internal (Good Corporate Governance) yang selama ini kita banggakan? Publik berhak tahu siapa yang berdiri di barisan depan pertahanan saat pencuri digital itu masuk tanpa permisi. Ibarat rumah yang dibangun dengan keringat ribuan orang, maka bank Jambi tak boleh rusak hanya karena satu pintu yang dibiarkan tak terkunci.
Kedua, etika publik, tanggungjawab dan beban moral merupakan piranti utama bagi pemajuan bank daerah ini. Kerugian sebesar 143 miliar bukan hanya masalah teknis perbankan, melainkan masalah etika kepemimpinan. Bagaimana mungkin dana yang begitu besar bisa lenyap tanpa sistem peringatan dini yang efektif? Publik menuntut pertanggungjawaban yang nyata, bukan sekadar apologi. Perlu ada evaluasi menyeluruh terhadap manajemen yang bertanggung jawab atas keamanan siber agar kejadian memilukan ini tidak menjadi preseden buruk di masa depan. Bak kato pepatah, "Uang bisa dicari, namun marwah yang luruh ke tanah adalah piutang sejarah yang tak akan pernah lunas dibayar oleh waktu."
Ketiga, keresahan belum sepenuhnya sirna di hati para nasabah. Mereka bertanya-tanya: "Apakah data saya aman? Apakah hasil jerih-payah saya akan hilang besok pagi?" Tugas Bapak/Ibu di manajemen Bank Jambi ini bukan lagi sekadar mengelola angka, melainkan mengelola hati dan kepercayaan publik. Publik menuntut langkah pemulihan (recovery) yang cepat—terlebih lagi layanan mobile banking maupun mesin ATM belum pulih 100 persen--, perlindungan data nasabah yang tak tertawar, dan jaminan bahwa setiap rupiah milik rakyat Jambi terlindungi oleh sistem yang tak tertembus.
Keempat, dunia berlari kencang, dan ancaman pun bermutasi sedemikian rupa. Kejadian ini harus menjadi lonceng peringatan bagi Bank Jambi untuk melakukan transformasi digital yang fundamental. Jangan biarkan keamanan siber menjadi urusan sampingan. Jadikan ia napas utama dalam operasional bank. Publik butuh Bank Jambi yang tangguh, yang tidak hanya pandai menjaring laba, tapi juga perkasa menjaga amanah dari para nasabah.
Sejarah mencatat betapa lumpuhnya Bank Syariah Indonesia (BSI) pada Mei 2023 akibat serangan ransomware LockBit 3.0. Kala itu, jutaan nasabah kehilangan akses pada hak mereka selama berhari-hari, memicu kepanikan massal dan krisis kepercayaan nasional. Begitu juga peristiwa serangan phishing massal sempat mengguncang Bank Sentral pada tahun 2025 yang lalu. Pelajaran mahal dari peristiwa tersebut sangat nyata yaitu keamanan siber bukan lagi sekadar urusan teknis IT, melainkan pilar kedaulatan sebuah institusi. Kegagalan mitigasi pada bank-bank besar tersebut seharusnya menjadi cermin bagi Bank Jambi untuk memperkuat bentengnya, bukan justru menjadi pengikut dalam daftar panjang korban kelalaian.
Rakyat Jambi adalah rakyat yang sabar, namun itu bukan berarti membiarkan kelalaian berlalu tanpa evaluasi. Kami ingin melihat Bank Jambi kembali tegak, bukan dengan pembelaan diri, melainkan dengan perbaikan nyata yang bisa dirasakan nasabah. Kembalikan marwah bank ini. Kembalikan rasa tenang para nasabah saat menitipkan masa depan di sana. Jangan biarkan sejarah mencatat bahwa di masa kepemimpinan saat ini, sebuah bank modern harus tunduk dan terhina oleh serangan tanpa wajah, hanya karena terlambat waspada.
Semoga keberanian dan integritas selalu menyertai setiap keputusan Komisaris Utama selaku pimpinan tertinggi Dewan Komisaris yang bertugas mengawasi kebijakan direksi Bank Jambi.
Menutup surat ini, pandangan ekonom Raghuram Rajan yang juga mantan Gubernur Reserve Bank of India ke 23, relevan menjadi renungan bersama, berikut ini: "Dalam dunia perbankan modern, kepercayaan adalah mata uang yang jauh lebih berharga daripada modal. Sekali sebuah bank gagal melindungi data dan aset digital nasabahnya, ia tidak hanya kehilangan uang, tetapi juga kehilangan hak moralnya untuk mengelola harapan masyarakat."
Akhirul kalam. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Oleh: Jumardi Putra, warga biasa yang juga nasabah Bank Jambi.
Membungkam Kritik, Mengubur Transparansi : Tragedi Komunikasi Krisis 'Bank Plat Merah'
Pengamat ini Ingatkan El Nino Godzilla Bisa Picu Karhutla dan Lonjakan Harga Pangan
Pengamat: Kenaikan Harga Plastik Bisa Memicu Gelombang Baru Inflasi
Gubernur Jambi dan Dilema Fiskal: Saat UU HKPD Diabaikan, Rakyat Dikorbankan


Komnas HAM Bakal Temui Gubernur Al Haris Bawa Daftar Dugaan Pelanggaran HAM di Jambi, Ini Jadwalnya



