JAMBERITA.COM - Menjadi ibu di era digital bukan lagi sekadar urusan domestik mengurus anak dan dapur. Hari ini, tantangan terbesar seorang ibu justru datang dari layar gawai yang menyala 24 jam di genggaman tangan.
Mengupas fenomena krusial ini, Dharma Wanita Persatuan Unit Pelaksana Teknik Kementerian Kehutanan Provinsi Jambi menggelar pertemuan rutin dengan menghadirkan narasumber ahli, Ns. Mila Triana Sari, S.Kep., M.Kep., seorang dosen dari Universitas Baiturrahim (UBR) Jambi.
Dalam paparan ilmiahnya yang bertajuk "Ibu Tangguh di Era Digital: Menjaga Kesehatan Mental, dan Membangun, Berdaya dari Rumah", Ns. Mila mendobrak kesadaran para ibu modern untuk melihat realita psikologis yang kerap terabaikan di balik gemerlapnya dunia maya.
Ns. Mila membuka sesi dengan tamparan realita yang sering dialami ibu-ibu masa kini. Media sosial, menurutnya, telah berubah menjadi pabrik ilusi yang memproduksi standar kesempurnaan palsu. "Media sosial seringkali menciptakan ilusi kesempurnaan. Hal ini memicu invisible noise atau suara bising yang tak terlihat di dalam pikiran para ibu. Muncul pertanyaan: Apakah aku sudah cukup baik? Kenapa ibu lain terlihat begitu sempurna di media sosial?" ungkap Ns. Mila lugas.
Beliau mengingatkan dengan tegas bahwa kebiasaan membandingkan diri dengan potongan video 15 detik milik orang lain di media sosial adalah pencuri kebahagiaan terbesar. Beban ini kian berat karena tuntutan ganda; ibu harus mengasuh, mengurus rumah tangga, bekerja, sekaligus menavigasi arus digital yang mengaburkan batas antara dunia luar dan ruang domestik.
Untuk membuka mata para peserta, dosen UBR Jambi ini membeberkan tiga fakta krusial yang tengah menjangkiti ibu-ibu di Indonesia saat ini. Kondisi Riil Ibu di Indonesia dengan Indikator Angka, Ibu mengalami Burnout (Kelelahan Emosional) 1 dari 3 Ibu, Rata-rata waktu layar (Screen Time) Harian 4.7 jam dengan tingkat kebahagiaan Ibu yang Rutin Self-Care 70% Lebih Bahagia.
Ns. Mila menggunakan analogi yang sangat menohok untuk menyentuh kesadaran terdalam seorang ibu. "Ingat, cangkir yang kosong tidak bisa mengisi gelas orang lain," tegasnya.
Ibu yang terus-menerus mengabaikan kesehatan mentalnya sendiri demi menuruti ego "menjadi sempurna" hanya akan jatuh pada jurang burnout, kecemasan akut, dan jarak emosional dengan keluarga. Ketika cangkir itu kering, emosi yang terpendam akan meledak menjadi amarah yang menyisakan rasa bersalah, sementara anak-anak akan menjadi korban yang merasakan ketegangan tersebut.
Sebagai solusi konkret, Ns. Mila merumuskan empat langkah pemulihan sistematis agar ibu-ibu tidak lagi menjadi budak algoritma gadget.
1. Jeda dan Bernapas: Mau berhenti sejenak dan melepaskan beban yang tidak perlu. Hadir utuh di momen saat ini dan berani mengakui bahwa diri sedang lelah. "Menerima kerapuhan adalah awal kekuatan baru," jelasnya.
2. Digital Detox: Ambil kendali atas informasi yang masuk. Atur jam bebas gadget harian, konsumsi konten yang menginspirasi (bukan yang menguras energi), serta gunakan teknologi secara sadar (batasi, jangan hilangkan).
3. Mengisi Kembali Gelas Kebahagiaan: Menyadari bahwa self-care bukanlah tindakan egois, melainkan fondasi dasar untuk merawat keluarga. Hal ini bisa sesederhana menikmati teh hangat tanpa gangguan, memandangi tanaman, atau sekadar 5 menit dalam keheningan.
4. Belajar dan Berdaya: Balikkan fungsi gadget. Ubah yang semula menjadi sumber stres dan rasa minder menjadi alat pemberdayaan diri melalui kursus atau kelas online.
Materi inti yang paling ditekankan oleh Ns. Mila adalah pemahaman bahwa ibu adalah pusat gravitasi emosional seluruh anggota keluarga."Rahasia generasi yang cerdas dan bahagia bukanlah gadget mahal, melainkan Ibu yang Sehat Mentalnya. Ketika Ibu sehat dan berdaya, seluruh keluarga ikut bertumbuh," cetus Ns. Mila memotivasi.
Ia mengajak para ibu menerapkan Mindful Parenting, sebuah konsep di mana kualitas kehadiran jauh lebih mahal harganya dibanding kuantitas waktu. Melakukan kontak mata langsung selama 15 menit dengan kehadiran penuh di dunia nyata jauh lebih berharga daripada menemani anak selama 2 jam namun pikiran melayang ke layar ponsel.
Di akhir sesi, terjadi pergeseran paradigma yang mencerahkan bagi para anggota Dharma Wanita yang hadir. Rumah dan teknologi tidak lagi dipandang sebagai penjara atau ancaman, melainkan sebagai "Markas Besar" untuk melahirkan karya—baik lewat seni, tulisan, maupun kerajinan—yang bernilai manfaat bagi masyarakat luas dengan memanfaatkan digitalisasi secara bijak.
Transformasi kesadaran ini diharapkan mampu mengubah kondisi ibu yang semula lelah, terisolasi, dan hanyut dalam arus media sosial, menjadi sosok ibu yang tenang, berdaya, serta sehat lahir dan batin. Kegiatan ini ditutup dengan sebuah kalimat pemungkas dari Ns. Mila yang membakar semangat:
“Ketangguhan bukan berarti tidak pernah lelah, melainkan tetap melangkah dengan bijaksana meski menghadapi berbagai tantangan," pungkasnya.(afm)
Sempat Buron, Kejati Jambi Terima Limpahan Tersangka Kasus Sabu 58 Kg
Bupati Tanjab Barat Bersama Kapolres Deklarasikan Sabuk Kamtibmas
Dobrak Ilusi Media Sosial, Dosen UBR Jambi Ajak Ibu Modern Waras dan Berdaya dari Rumah
Strategi Baru UNJA: Mengubah Peran Dosen PA Demi Selamatkan Mental dan Studi Mahasiswa
HIMATRO UNJA Gelar Seminar Nasional Energi Terbarukan, Dorong Kemandirian Nasional
Dosen UNJA Nahkodai AP2TPI Wilayah Sumatera Periode 2026-2028
Dorong Legalitas UMK, Kanwil Kemenkum Jambi Sosialisasikan Perseroan Perorangan kepada ASPEDI


