
Jayapura, 30/6 (ANTARA) - Hutan sagu sebagai lahan produksi pangan lokal di Papua adalah potensi besar terkait upaya pemerintah dan semua pemangku kepentingan untuk mewujudkan swasembada dan ketahanan pangan berbasis lokalitas.
Karena itu, penyusutan hutan sagu akibat alih fungsi lahan di sejumlah kabupaten/kota harus disikapi dengan menggugah kesadaran semua pihak untuk turut menjaga hutan sebagai penyangga pangan masa depan bagi masyarakat Papua.
Menyusutnya hutan sagu di berbagai wilayah di Papua bukan hanya mengancam ketahanan pangan masyarakat adat, tetapi juga berpotensi menghilangkan identitas budaya orang Papua yang telah diwariskan selama ratusan tahun.
Guru Besar Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Cenderawasih (Uncen) Akhmad Kadir mengatakan sagu memiliki potensi yang jauh lebih luas dibanding sekadar sumber makanan pokok.
Ketika berbicara tentang sagu, maka tidak hanya berbicara Papua Selatan, Papua Barat, atau wilayah administrasi lainnya, sebab sagu adalah identitas orang Papua. Berdasarkan hasil penelitian lapangan mengenai ketahanan pangan dan kearifan lokal masyarakat Papua, sagu memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan kehidupan sosial, budaya, ekonomi, hingga ekologi masyarakat adat.
Papua sendiri dikenal sebagai salah satu pusat keragaman sagu terbesar di dunia. Berbagai jenis sagu tumbuh dan dimanfaatkan oleh masyarakat dengan pengetahuan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun
Namun, kondisi tersebut, kini menghadapi ancaman serius akibat semakin masifnya alih fungsi lahan untuk berbagai kepentingan dan perkebunan, seperti di Merauke, Papua Selatan. Kawasan hutan sagu yang sebelumnya membentang luas, kini terus mengalami penyusutan.
Persoalan tersebut tidak bisa dipandang hanya dari aspek lingkungan semata. Bukan hanya tentang hilangnya ketersediaan makanan, tetapi juga hilangnya identitas, pengetahuan lokal, dan sejarah masyarakat Papua. Di balik setiap hamparan hutan sagu terdapat pengetahuan lokal yang berkembang selama berabad-abad. Masyarakat adat memiliki kemampuan mengenali berbagai jenis sagu, memahami karakteristiknya, menentukan waktu panen, hingga mengolahnya menjadi berbagai kebutuhan hidup.
Pengetahuan tersebut tidak tercatat dalam buku-buku akademik, tetapi hidup dalam praktik keseharian masyarakat adat dan diwariskan antargenerasi. Karena itu, ketika hutan sagu hilang, bukan hanya pohonnya yang lenyap, tetapi juga pengetahuan dan nilai budaya yang menyertainya.
Selain sebagai sumber pangan, sagu juga memiliki fungsi sosial dan budaya yang kuat dalam kehidupan masyarakat adat Papua. Pada sejumlah komunitas, termasuk masyarakat Suku Marind di wilayah selatan Papua, sagu menjadi bagian penting dalam berbagai ritual adat, mulai dari penyelesaian konflik, penerimaan tamu, pesta adat, hingga prosesi kematian.
Bagi masyarakat adat, sagu bukan sekadar bahan makanan, melainkan simbol hubungan antara manusia, alam, dan leluhur. Itu berarti, sagu adalah kehidupan dan bagian dari sistem nilai yang hidup dalam masyarakat adat.
Selain ancaman terhadap hutan sagu, perubahan pola konsumsi masyarakat Papua yang semakin bergeser ke beras dan makanan instan menjadi tantangan baru karena generasi muda mulai kehilangan kedekatan dengan pangan lokal yang selama ini menjadi bagian dari identitas budaya Papua.
Jika kondisi tersebut terus berlangsung tanpa upaya pelestarian yang serius, Papua berisiko kehilangan salah satu fondasi penting kebudayaannya.
Perlindungan hutan sagu
Ancaman terhadap keberlanjutan sagu di Papua tidak lagi sekadar persoalan lingkungan, tetapi telah menjadi persoalan identitas, budaya, dan masa depan pangan masyarakat. Untuk menjawab persoalan tersebut, maka perlu langkah bersama dari pemerintah, akademisi, masyarakat adat, dan seluruh pemangku kepentingan.
Karena itu, perlu adanya perlindungan kawasan hutan sagu dari alih fungsi lahan yang tidak terkendali, penguatan pendidikan budaya kepada generasi muda, serta pengakuan terhadap pengetahuan lokal masyarakat adat sebagai bagian dari warisan budaya yang harus dijaga.
Selain itu, sagu perlu ditempatkan kembali sebagai bagian penting dalam kebijakan ketahanan pangan Papua, sehingga tidak terus tergeser oleh pangan yang berasal dari luar daerah. Menjaga sagu bukan hanya menjaga sumber pangan masyarakat, tetapi juga menjaga ekosistem, hak-hak masyarakat adat, pengetahuan tradisional, serta identitas budaya Papua.
Antropolog dari Universitas Cenderawasih Abner Krey mengingatkan bahwa penurunan konsumsi sagu di Papua merupakan persoalan serius yang tidak hanya berkaitan dengan perubahan pola makan, tetapi juga menyangkut keberlanjutan budaya, ekonomi masyarakat adat, dan ketahanan pangan daerah.
Seminar Sagu Papua 2026 yang diselenggarakan oleh satu yayasan bersama Polres Jayapura Kota menjadi ruang diskusi untuk mendorong kembali sagu sebagai pangan strategis masyarakat Papua di tengah perubahan sosial dan tantangan pangan global.
Masyarakat Papua, saat ini semakin mengalami pergeseran pola konsumsi dari pangan lokal berbasis sagu menuju pangan yang bergantung pada beras. Perubahan tersebut terjadi, terutama di wilayah perkotaan, di mana akses terhadap beras jauh lebih mudah dibandingkan dengan sagu.
Ketergantungan terhadap beras membuat Papua semakin rentan terhadap berbagai persoalan, mulai dari distribusi pangan, kenaikan harga, hingga gangguan pasokan akibat faktor ekonomi maupun kondisi geografis.
Papua memiliki karakter wilayah yang berbeda dengan daerah lain di Indonesia. Banyak kampung dan komunitas adat yang masih bergantung pada sumber pangan dari alam. Dalam konteks tersebut, sagu memiliki nilai strategis karena mampu tumbuh secara alami dan telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat selama ratusan tahun.
Papua dikenal sebagai salah satu wilayah dengan ekosistem sagu terbesar di dunia dan bagi masyarakat adat, hutan sagu bukan hanya kawasan produksi pangan, tetapi juga ruang hidup yang memiliki nilai budaya, ekonomi, dan sosial.
Kerusakan ekosistem sagu dapat berdampak langsung terhadap masyarakat yang selama ini menggantungkan hidup dari proses pengolahan sagu, mulai dari penebangan pohon, pengolahan pati, hingga perdagangan hasil olahan.
Kondisi pangan dunia saat ini menunjukkan pentingnya kembali memperkuat pangan lokal. Ketergantungan terhadap satu jenis pangan, seperti beras, dapat menjadi risiko apabila terjadi gangguan distribusi maupun perubahan ekonomi, termasuk cuaca.
Karena itu, Papua perlu membangun konsep ketahanan pangan yang tidak hanya berbicara tentang ketersediaan makanan, tetapi juga mempertahankan sumber pangan yang sesuai dengan kondisi alam dan budaya masyarakat setempat. Pilihan paling tepat dan realistis adalah sagu.
Karena itu, ketahanan pangan Papua tidak bisa hanya diukur dari banyaknya beras yang masuk. Kita harus melihat apakah masyarakat masih memiliki akses terhadap pangan yang berasal dari lingkungan mereka sendiri.
Langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan sagu ialah memperluas akses masyarakat terhadap pangan lokal berbasis sagu, terutama di wilayah perkotaan, mendorong pengembangan industri kecil dan UMKM berbahan baku sagu agar memiliki nilai ekonomi lebih tinggi, memasukkan sagu sebagai bagian penting dalam kebijakan ketahanan pangan daerah, melakukan perlindungan dan rehabilitasi kawasan hutan sagu serta mengubah paradigma pembangunan pangan yang selama ini lebih berorientasi pada beras.
Melalui upaya-upaya tersebut diharapkan sagu tidak hanya dipandang sebagai makanan tradisional, tetapi sebagai sumber pangan masa depan Papua yang memiliki potensi ekonomi besar.
Festival sagu
Sejak 2023 hingga kini, Festival Colo Sagu eksis di Jayapura. Gerakan ini, selain menjadi upaya untuk mewujudkan ketahanan pangan, kearifan lokal, dan pelestarian lingkungan hidup, juga merupakan upaya melanjutkan perjuangan para pegiat sagu yang selama ini konsisten menjaga dan melestarikan pangan lokal khas Papua.
Kapolresta Jayapura Kota, sekaligus Founder Colo Sagu Kombes Pol Fredrickus W. A. Maclarimboen mengatakan festival itu dapat menjadi momentum membangun kesadaran bersama untuk melestarikan hutan sagu, sekaligus mendorong lahirnya regulasi yang mendukung pengembangan sagu sebagai sumber pangan dan ekonomi masyarakat.
Festival tersebut diharapkan dapat menjadi gerakan bersama seluruh elemen masyarakat untuk menjaga warisan leluhur Papua demi keberlanjutan generasi mendatang.
Kepedulian masyarakat Papua dalam mengembangkan potensi ekonomi sagu yang melimpah ini perlu terus kita dorong brrsama. Sagu memang menjadi identitas budaya dan kebanggaan masyarakat di Bumi Cenderawasih, namun masih perlu diperbanyak upaya yang menjadikan bahan pangan itu sebagai sumber usaha bernilai ekonomi.
Dari data yang diperoleh, luas kawasan hutan sagu di Papua dari sebelumnya mencapai satu juta hektare, kini menyusut menjadi sekitar 700 ribu hektare. Melalui festival ini, diharapkan dapat membangkitkan kembali semangat mempertahankan kearifan lokal dan ketahanan pangan berbasis sagu di Papua.
Oleh Ardiles Leloltery
Editor : Masuki M Astro
Semarak PKD 2026 Merangin : Menjemput Tuah, Merawat Marwah Adat di Taman Mini Melayu Jambi
Optimalkan Capaian IRH 2026, Kanwil Kemenkum Jambi Koordinasi Validasi Sanggah
Kemenkum - Kumham Imipas Perluas Akses Keadilan dan Perkuat Layanan Bantuan Hukum
Menkomdigi tegaskan LKBN ANTARA jadi garda terdepan jaga fakta & integritas informasi di era digital
Kepala Bakom RI dorong penguatan peran ANTARA di era digital
Semarak PKD 2026 Merangin : Menjemput Tuah, Merawat Marwah Adat di Taman Mini Melayu Jambi

