JAMBERITA.COM– Hiruk-pikuk Piala Dunia 2026 tidak hanya menghadirkan persaingan sengit di lapangan hijau, tetapi juga memicu perputaran ekonomi bernilai ratusan triliun rupiah. Salah satu sektor yang menikmati lonjakan terbesar adalah industri jersey sepak bola yang kini telah berkembang menjadi bagian dari industri fesyen global. Menariknya, jersey yang paling laris selama turnamen justru bukan berasal dari tim juara, melainkan Meksiko. Fenomena ini dinilai mencerminkan perubahan perilaku konsumen, di mana nilai sebuah produk semakin ditentukan oleh kekuatan identitas, budaya, dan cerita yang dibangun di baliknya.
Pengamat ekonomi Noviardi Ferzi menilai fenomena penjualan jersey pada Piala Dunia 2026 menunjukkan bahwa ekonomi modern tidak lagi semata-mata ditentukan oleh kualitas produk atau prestasi di lapangan, tetapi semakin dipengaruhi oleh kekuatan cerita, identitas budaya, dan kedekatan emosional dengan konsumen.
Menurut Noviardi, industri jersey sepak bola telah berkembang menjadi salah satu bisnis olahraga terbesar di dunia. Nilai pasar jersey sepak bola global pada 2026 diperkirakan mencapai sekitar Rp141 triliun dengan pertumbuhan yang melampaui banyak sektor barang konsumsi lainnya. Keikutsertaan 48 negara dalam Piala Dunia 2026 juga mendorong permintaan jersey resmi hingga puluhan juta unit sepanjang turnamen.
"Jersey hari ini bukan lagi sekadar atribut pendukung tim, tetapi telah bertransformasi menjadi produk gaya hidup. Konsumen membeli bukan hanya karena ingin mendukung tim favoritnya, tetapi juga karena desain, identitas budaya, dan nilai emosional yang melekat pada produk tersebut," ujar Noviardi.
Ia menjelaskan, tren penggunaan jersey sebagai bagian dari fesyen sehari-hari menjadi salah satu pendorong utama meningkatnya permintaan. Fenomena tersebut memperlihatkan bagaimana strategi pemasaran berbasis budaya dan gaya hidup mampu menciptakan nilai ekonomi yang jauh lebih besar dibandingkan sekadar mengandalkan hasil pertandingan.
Noviardi mencontohkan keberhasilan jersey Meksiko yang menjadi salah satu produk paling diminati selama Piala Dunia 2026, meskipun tim nasionalnya telah tersingkir pada babak 16 besar. Menurutnya, hal itu membuktikan bahwa keberhasilan komersial tidak selalu berjalan seiring dengan prestasi olahraga.
"Ini menjadi pelajaran penting bagi dunia usaha. Konsumen saat ini membeli makna, cerita, dan identitas yang terkandung dalam sebuah produk. Karena itu, kemenangan di pasar tidak selalu ditentukan oleh siapa yang menjadi juara di lapangan," katanya.
Ia juga menyoroti persaingan ketat antara produsen perlengkapan olahraga dunia yang berlomba membangun loyalitas merek melalui inovasi desain, kampanye pemasaran, serta kolaborasi dengan budaya populer. Di sisi lain, industri ini masih menghadapi tantangan besar berupa peredaran jersey palsu yang menggerus pendapatan produsen resmi hingga miliaran dolar setiap tahunnya.
Bagi Noviardi, fenomena tersebut memberikan pelajaran yang relevan bagi pelaku usaha di Indonesia, termasuk UMKM. Produk lokal, menurutnya, tidak cukup hanya mengandalkan kualitas, tetapi juga harus mampu membangun narasi, identitas, dan pengalaman yang membuat konsumen merasa memiliki kedekatan emosional.
"Era ekonomi kreatif menempatkan storytelling sebagai salah satu aset paling berharga. Produk yang mampu menghadirkan cerita, budaya, dan kebanggaan identitas akan memiliki daya saing yang lebih kuat, bahkan ketika harus bersaing dengan merek-merek besar," tuturnya.
Ia menambahkan, pengalaman Piala Dunia 2026 membuktikan bahwa nilai ekonomi sebuah produk tidak selalu ditentukan oleh kemenangan atau kekalahan, melainkan oleh kemampuan membangun makna di benak konsumen. "Pada akhirnya, yang paling laris bukan selalu yang paling hebat di lapangan, tetapi yang paling berhasil membangun hubungan emosional dengan pasar," pungkasnya.(*)
Menguji Rasionalitas di Balik Penempatan Kepala Sekolah di Kabupaten Merangin
Mengelola Sampah di Kota Jambi: Saatnya Beralih dari Angkut-Buang ke Kelola dan Kurangi
Kasiter Korem 042/Gapu Tinjau Pembangunan Jembatan di Sarolangun



