Hadapi Musim Kemarau, SAH Dorong Koordinasi Diperkuat Cegah Karhutla di Jambi



Selasa, 11 Agustus 2026 - 18:17:50 WIB



JAMBERITA.COM— Ketua DPD Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi Jambi, Dr. Ir. H. A.R. Sutan Adil Hendra, MM, mengingatkan seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat koordinasi dan kewaspadaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau.

Menurut bapak beasiswa Jambi yang akrab disapa SAH, memasuki periode cuaca kering, ancaman karhutla harus menjadi perhatian bersama. Pencegahan tidak boleh hanya dilakukan ketika api sudah muncul, tetapi harus dimulai dengan pemetaan wilayah rawan, pemantauan kondisi lahan dan kesiapan menghadapi potensi titik api.

"Karhutla tidak bisa ditangani oleh satu pihak saja. Dibutuhkan koordinasi yang kuat antara pemerintah, TNI-Polri, BPBD, dunia usaha, petani dan masyarakat. Semua harus bergerak dalam satu sistem pencegahan dan penanganan yang terkoordinasi," ujar SAH.

Ia menegaskan, sektor pertanian dan perkebunan merupakan salah satu sektor yang sangat rentan terdampak karhutla. Kebakaran dapat merusak tanaman, mengganggu aktivitas produksi, menurunkan kualitas lingkungan dan pada akhirnya mempengaruhi pendapatan petani.

Karena itu, SAH mengajak para petani untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama dalam melakukan pembukaan maupun pembersihan lahan.

"Petani harus menjadi bagian penting dari sistem pencegahan. Jangan membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Kalau ada indikasi api atau asap, segera laporkan agar bisa ditangani sedini mungkin," tegasnya.

SAH juga mendorong penguatan sistem deteksi dini di desa-desa dan kawasan pertanian yang memiliki tingkat kerawanan tinggi. Menurutnya, keberadaan sumber air, peralatan pemadaman awal dan jalur komunikasi yang cepat akan sangat membantu memperkecil risiko meluasnya kebakaran.

Selain itu, ia meminta dunia usaha, khususnya perusahaan perkebunan, ikut bertanggung jawab menjaga wilayah konsesinya dan lingkungan sekitar. Koordinasi dengan pemerintah daerah dan masyarakat harus dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya ketika terjadi kebakaran.

"Jangan menunggu api membesar. Ketika muncul tanda-tanda kebakaran, tindakan cepat harus dilakukan. Kecepatan informasi dan respons di lapangan sangat menentukan," katanya.

SAH menilai dampak karhutla jauh lebih luas daripada sekadar kerusakan lahan. Asap dapat mengganggu kesehatan masyarakat, aktivitas pendidikan, transportasi dan kegiatan ekonomi. Karena itu, pencegahan karhutla juga merupakan bagian dari menjaga kualitas hidup masyarakat.

Dalam konteks pertanian, SAH menekankan bahwa menjaga lingkungan dari karhutla merupakan bagian dari menjaga ketahanan pangan. Lahan produktif harus dilindungi agar petani tetap mampu berproduksi secara berkelanjutan.

"Pertanian membutuhkan lingkungan yang aman dan sumber daya alam yang terjaga. Kalau lahan terbakar, yang dirugikan bukan hanya pemilik lahan, tetapi juga masyarakat dan perekonomian daerah," jelasnya.

SAH berharap seluruh unsur terkait membangun pola koordinasi yang cepat, terpadu dan berkelanjutan selama menghadapi musim kemarau.

"Semangatnya adalah mencegah sebelum terjadi. Dengan koordinasi yang kuat, kewaspadaan masyarakat dan kesiapan seluruh unsur, kita optimistis ancaman karhutla di Jambi dapat ditekan," pungkasnya.(*)





Artikel Rekomendasi