Rai Agistha, Belajar dari Sunyinya Hutan hingga Melesat dengan IPK 3.99 di Wisuda UNJA ke-124



Selasa, 01 September 2026 - 18:12:51 WIB



Foto : Mahasiswi UNJA.
Foto : Mahasiswi UNJA.

JAMBERITA.COM - Di balik toga biru dan riuk tepuk tangan wisuda ke-124 Universitas Jambi (UNJA), berdiri seorang perempuan muda dengan tatapan mata yang bening. Rai Agistha Erdiana, mahasiswi asal Kecamatan Singkut, Kabupaten Sarolangun, baru saja dikukuhkan sebagai salah satu lulusan terbaik. Angka Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,99 yang diraihnya dalam waktu 3 tahun 10 bulan seolah menjadi ganjaran atas keteguhan hatinya meniti jalan pendidikan yang sempat berliku.

Namun, pencapaian akademik ini hanyalah muara. Aliran kisah yang membawanya ke titik ini berawal dari persimpangan jalan yang penuh dilema. Perjalanan Rai menuju gerbang perguruan tinggi tidak dimulai dengan karpet merah. Keinginan kuatnya untuk mendalami ilmu Geografi lewat jalur SNMPTN dan SBMPTN harus terbentur dinding restu orang tua.

Takut sang putri melangkah terlalu jauh dari kampung halaman, pihak keluarga bahkan sempat menyodorkan pilihan berat: menyusun rencana pernikahan atau mencari jalan kompromi untuk kuliah.

Di detik-detik terakhir pendaftaran SMMPTN Barat, Rai memilih untuk mengalah demi sebuah bakti. Ia menjatuhkan pilihan pada Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). "Keluarga besar belum ada yang mengambil prodi ini, dan orang tua ingin saya kuliah di bidang pendidikan yang ada unsur hukumnya," kenang Rai.

Awalnya, PPKn mungkin terasa seperti ruang yang asing baginya. Namun, semesta kerap menyimpan kejutan manis di balik pintu penderitaan yang kita masuki dengan keikhlasan.

Titik balik perjalanan Rai terjadi ketika ia melangkah keluar dari ruang kelas berpendingin udara dan terjun langsung ke lapangan melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Ia mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik di pemukiman Suku Anak Dalam (SAD) Skaladi selama satu semester, diselingi program Kampus Mengajar di SDN 148 Kota Jambi.

Di bawah rindangnya kanopi hutan Jambi, Rai menyaksikan anak-anak SAD belajar dengan keterbatasan yang memprihatinkan. Namun, di mata anak-anak itu, ia melihat binar semangat yang tak pernah padam.

"Saya merasa insecure sekaligus kagum dengan anak-anak SAD. Di dalam hutan, mereka tidak pernah patah semangat untuk belajar dan mencari tahu tentang negara ini. Hal itu memicu saya untuk segera lulus cumlaude demi kedua orang tua, agar saya bisa lekas mengeksplorasi ilmu lebih banyak untuk membantu anak-anak di luar sana mendapatkan hak pendidikan sesuai Pasal 31 UUD 1945," ungkapnya.

Tatap mata anak-anak pedalaman itu melenyapkan segala rasa keraguan Rai terhadap ilmu yang sedang ditimbanya. PPKn bukan lagi sekadar hafalan pasal atau teori hukum kewarganegaraan; ilmu itu menjelma menjadi alat perjuangan sosial untuk menjamin hak-hak anak bangsa yang terlupakan.

Perjuangan Rai tak berhenti saat kembali dari hutan. Menggunakan metode Research and Development (R&D) untuk skripsinya, ia sempat didera tekanan mental ketika melihat teman-teman seangkatannya mulai melangkah ke panggung wisuda lebih awal.

Di saat keraguan menghampiri, kehangatan keluarga dan bimbingan tanpa lelah dari para dosen pembimbingnya—Muhammad Ichsan, M.Si., Dr. Ridwan Santoso, M.Pd., dan Khusnul Khotimah, M.Pd.—menjadi benteng pertahanannya.

"Orang tua saya tidak pernah menuntut kapan wisuda, mereka hanya selalu menelepon menanyakan kabar dan memberi wejangan. Dukungan dosen pembimbing juga luar biasa, mereka mengajak bimbingan setiap hari dan tidak pernah meninggalkan saya dalam kebingungan," tutur Rai penuh syukur.

Gelar sarjana kini telah dipangkunya, namun cita-cita Rai justru baru saja dimulai. Pasca-kelulusan dari almamater Pinang Masak ini, selain berencana melanjutkan Pendidikan Profesi Guru (PPG) dan studi S2, Rai menyusun sebuah misi sosial yang lahir dari ketulusan hatinya.

Ia berencana membuka tempat bimbingan belajar (bimbel) di kampung halamannya, Singkut. Namun, alih-alih menetapkan tarif komersial, Rai memilih jalur yang berbeda dari kebanyakan orang. "Saya ingin membuka bimbingan belajar untuk masyarakat di lingkungan sekitar saya. Untuk pembayarannya, tidak perlu uang, cukup berupa hasil tani atau hasil kebun mereka," ujarnya.

Mengakhiri pengalamannya, Rai memberikan pesan praktis bagi seluruh mahasiswa yang masih berjuang di perguruan tinggi. Ia mendorong mereka untuk aktif memanfaatkan program kemahasiswaan seperti MBKM, PKM, PMW, hingga Sea Teacher. Selain menambah wawasan dan empati sosial, program-program ini dapat dikonversi ke dalam SKS yang menunjang capaian IPK.

Kisah Rai Agistha Erdiana mengajarkan kita satu hal berharga: bahwa program Merdeka Belajar bukan sekadar angka yang tertera di lembar KHS, melainkan sebuah jembatan untuk menemukan empati dan makna hidup. Dari kesunyian hutan SAD Skaladi hingga raihan IPK 3,99, Rai telah membuktikan bahwa kerendahan hati untuk berbakti pada orang tua dan ketulusan untuk berbagi adalah kunci utama meraih kesuksesan yang hakiki.

Selengkapnya >>> www.unja.ac.id





Artikel Rekomendasi