Apresiasi Tata Kelola Haji Indonesia, SAH Dorong Pemberdayaan Petugas Muda yang Responsif



Kamis, 03 September 2026 - 19:11:10 WIB



JAMBERITA.COM– Ketua DPD Partai Gerindra Provinsi Jambi, Dr.Ir. HAR Sutan Adil Hendra, MM, yang juga penasehat Penasehat Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Provinsi Jambi mendorong agar berbagai apresiasi terhadap perbaikan tata kelola penyelenggaraan ibadah haji menjadi momentum untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia, terutama melalui pemberdayaan petugas haji muda yang memiliki kemampuan responsif dan adaptif.

Menurut Sutan Adil Hendra atau yang akrab disapa SAH, tata kelola haji yang baik tidak cukup hanya dibangun melalui sistem, regulasi dan fasilitas pelayanan. Faktor manusia yang berada langsung di tengah jemaah menjadi salah satu kunci utama keberhasilan penyelenggaraan ibadah haji.

“Apresiasi terhadap tata kelola haji tentu patut kita berikan. Tetapi apresiasi tersebut harus menjadi energi untuk melakukan perbaikan berkelanjutan, termasuk memperkuat kualitas dan regenerasi petugas haji,” ujar SAH.

Ia mengatakan, karakteristik jemaah haji yang semakin beragam membutuhkan petugas yang mampu memahami persoalan secara cepat sekaligus memberikan solusi yang tepat. Dalam konteks tersebut, keberadaan petugas muda dinilai memiliki potensi besar untuk memperkuat pelayanan.

Petugas muda, kata SAH, relatif memiliki kemampuan lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Kemampuan tersebut dapat dimanfaatkan untuk mempercepat penyampaian informasi, koordinasi antarpelayanan, pemantauan kondisi jemaah serta penanganan berbagai persoalan di lapangan.

“Petugas muda harus diberi ruang untuk berkontribusi. Mereka memiliki energi, kemampuan teknologi dan pola komunikasi yang lebih dekat dengan perkembangan zaman. Ini merupakan modal penting untuk membangun pelayanan haji yang semakin responsif,” katanya.

Namun SAH mengingatkan, pemberdayaan petugas muda tidak berarti mengesampingkan pengalaman para petugas senior. Justru, menurutnya, regenerasi harus dibangun melalui kolaborasi antara pengalaman dan inovasi.

Petugas senior memiliki pengalaman menghadapi berbagai dinamika pelayanan jemaah, sementara petugas muda dapat memperkuat aspek inovasi dan pemanfaatan teknologi. Perpaduan keduanya dinilai dapat menciptakan sistem pelayanan yang lebih efektif.

“Pengalaman jangan ditinggalkan, tetapi inovasi juga jangan ditolak. Petugas senior memiliki pengalaman lapangan, sedangkan generasi muda membawa semangat, inovasi dan kemampuan teknologi. Keduanya harus dipadukan,” tegasnya.

SAH juga menekankan pentingnya perubahan paradigma dalam melihat tugas petugas haji. Menurutnya, petugas haji bukan sekadar menjalankan tugas administratif, tetapi memiliki tanggung jawab besar dalam memberikan pelayanan langsung kepada masyarakat.

Karena itu, proses seleksi dan pembinaan petugas haji perlu memperhatikan sejumlah aspek, mulai dari kompetensi, integritas, kemampuan komunikasi, kesiapan fisik dan mental, hingga kemampuan mengambil keputusan dalam situasi tertentu.

“Petugas haji harus memiliki mental melayani. Ketika jemaah menghadapi persoalan, petugas harus hadir dan memberikan solusi. Jangan sampai jemaah merasa sendirian ketika membutuhkan bantuan,” jelasnya.

Menurut SAH, pelayanan yang humanis juga tidak kalah penting. Jemaah haji terdiri dari masyarakat dengan latar belakang usia, pendidikan, kemampuan fisik dan pemahaman teknologi yang berbeda-beda. Kondisi tersebut membutuhkan petugas yang mampu berkomunikasi secara sabar dan mudah dipahami.

SAH juga mendorong agar transformasi digital dalam penyelenggaraan haji terus diperkuat. Namun digitalisasi, menurutnya, harus ditempatkan sebagai alat untuk meningkatkan kualitas pelayanan, bukan menggantikan sentuhan manusia.

Teknologi dapat digunakan untuk mempercepat arus informasi, pendataan, koordinasi, pemantauan dan mengomunikasikan informasi kepada jamaah. Sementara petugas tetap menjadi unsur penting dalam memberikan pendampingan secara langsung.

“Digitalisasi harus membuat pelayanan semakin mudah, bukan semakin rumit. Teknologi harus membantu petugas dan jamaah, sementara pendekatan kemanusiaan tetap menjadi fondasi,” ujarnya.

Ia berharap ke depan tersedia pola pelatihan petugas haji yang berkelanjutan, termasuk mentoring, pelatihan teknologi, krisis manajemen, komunikasi publik dan pelayanan kepada jemaah lanjut usia maupun jemaah yang memerlukan perhatian khusus.

Lebih jauh lagi, SAH menilai regenerasi petugas haji harus dipandang sebagai investasi jangka panjang dalam membangun sistem penyelenggaraan haji yang semakin profesional.

Menurutnya, petugas muda yang mendapatkan pengalaman sejak dini akan menjadi sumber daya manusia strategis untuk menghentikan pelayanan haji di masa mendatang.

“Regenerasi tidak boleh dilakukan secara tiba-tiba. Harus disiapkan sejak sekarang melalui pendidikan, pelatihan, pendampingan dan pengalaman lapangan,” katanya.

SAH juga mengajak seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan haji untuk menjadikan setiap evaluasi sebagai bahan perbaikan. Keberhasilan pelayanan harus terus dipertahankan, sementara kekurangan harus diperbaiki secara terbuka dan sistematis.

“Yang paling penting adalah bagaimana setiap musim haji memberikan pembelajaran baru. Kalau ada yang sudah baik kita pertahankan, kalau masih ada kekurangan kita perbaiki,” tuturnya.

SAH optimis dengan penguatan tata kelola, pemanfaatan teknologi, peningkatan kompetensi dan pemberdayaan petugas muda, pelayanan haji Indonesia dapat terus berkembang menjadi lebih profesional, cepat, humanis dan responsif.

“Jemaah datang untuk beribadah. Tugas kita adalah memastikan mereka mendapatkan pelayanan terbaik sehingga dapat menjalankan ibadah dengan aman, nyaman dan khusyuk. Di situlah sesungguhnya ukuran keberhasilan tata kelola haji,” tutupnya.(*)





Artikel Rekomendasi