46 Tahun WALHI



Kamis, 15 Oktober 2026 - 17:42:31 WIB



Oleh: Musri Nauli*

 

 

Empat puluh enam tahun bukan sekadar hitungan waktu. Ia adalah rentang perjalanan yang menyimpan keberanian, luka, persaudaraan, dan pelajaran. 

Dalam usia itu, WALHI—Wahana Lingkungan Hidup Indonesia—tidak hanya ditantang untuk tetap bertahan, tetapi juga menjawab pertanyaan yang lebih mendasar: nilai apa yang hendak diwariskan dan masa depan seperti apa yang ingin diperjuangkan?

Memasuki usia 46 tahun, pijakan itu harus bergerak lebih jauh. Dari pernyataan sikap menjadi agenda kerja. 

Dari penghormatan terhadap kearifan lokal menjadi pembelaan nyata terhadap masyarakat yang menghidupinya.

Sebab, kematangan organisasi tidak cukup diukur dari panjang umurnya. Ia perlu dibuktikan melalui kemampuan memperbarui keberpihakan, mendengarkan kritik, dan memastikan bahwa pengalaman panjang tidak berubah menjadi kenyamanan.

Pada usia 46 tahun, WALHI harus semakin jelas menentukan tempat berdirinya: bersama masyarakat yang mempertahankan ruang hidup, bersama pengetahuan yang disisihkan, dan bersama generasi yang berhak mewarisi bumi yang masih dapat ditinggali.

Perjalanan panjang WALHI patut dirayakan. Namun, perayaan terbaik bukan hanya mengenang apa yang sudah dikerjakan. Perayaan terbaik adalah keberanian menguji kembali apakah cara bekerja hari ini masih menjawab kebutuhan masyarakat.

Apakah suara kampung sungguh-sungguh menentukan agenda organisasi? Apakah masyarakat hadir sebagai pemilik pengetahuan atau hanya sebagai pemberi kesaksian? Apakah keberhasilan perjuangan diukur dari pulihnya ruang hidup atau berhenti pada banyaknya kegiatan dan ramainya pemberitaan?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak dimaksudkan untuk mengecilkan perjalanan WALHI. Justru sebaliknya: pengalaman selama 46 tahun seharusnya menjadi bekal untuk mengajukan ukuran keberhasilan yang lebih dalam.

WALHI perlu terus tumbuh sebagai organisasi yang kuat tanpa menjauh dari rakyat. Profesional tanpa kehilangan kehangatan. Terampil membaca kebijakan tanpa kehilangan kemampuan mendengarkan cerita di beranda rumah masyarakat.

Perbedaan pandangan di dalam organisasi pun harus menjadi sekolah demokrasi. Perdebatan boleh keras, tetapi persaudaraan tidak boleh putus. Pergantian kepemimpinan harus memperbarui tenaga perjuangan, bukan menghapus ingatan dan pengalaman yang telah dibangun bersama.

Pada usia 46 tahun, WALHI perlu membawa pengetahuan semacam itu keluar dari posisi sebagai kutipan pembuka seminar. Ia harus memperoleh tempat dalam penyusunan agenda advokasi, pembacaan konflik, dan perumusan usulan kebijakan.

Namun, menghormati pengetahuan masyarakat tidak berarti membekukan seluruh tradisi sebagai sesuatu yang tidak boleh diperiksa. Penghormatan justru menuntut kesediaan memahami konteksnya, mendokumentasikan praktiknya, dan mendialogkannya secara setara dengan pengetahuan lain.

Yang perlu ditolak bukan ilmu pengetahuan karena berasal dari luar. Yang perlu ditolak adalah kesombongan yang menganggap masyarakat tidak mengetahui apa-apa tentang ruang hidupnya sendiri.

Dengan demikian, pilihan WALHI bukan mempertentangkan pengetahuan lokal dengan sains, melainkan memperjuangkan kedaulatan pengetahuan: masyarakat memiliki hak untuk menjelaskan dunianya, menentukan persoalannya, dan ikut memutuskan jalan keluarnya.

Masyarakat bukan sekadar objek penelitian Mereka harus hadir sebagai penyusun pertanyaan, penafsir pengalaman, sekaligus pemilik hasil pengetahuan yang dikembangkan bersama.

Agar keberpihakan tidak berhenti sebagai semboyan, usia 46 tahun perlu ditandai dengan langkah yang dapat dikerjakan dan dinilai.

Pertama, membangun dokumentasi pengetahuan ekologis berbasis komunitas. WALHI bersama masyarakat perlu merekam nama-nama ruang, sejarah penguasaan wilayah, penanda musim, aturan pemanfaatan, serta perubahan lingkungan yang mereka alami. 

Dokumentasi itu harus kembali kepada masyarakat, dapat digunakan oleh mereka, dan tidak membuka pengetahuan yang dianggap sakral atau rahasia tanpa persetujuan.

Kedua, menjadikan pengetahuan masyarakat sebagai bagian utama pembelaan ruang hidup. Peta partisipatif, sejarah kampung, kesaksian lintas generasi, dan praktik pengelolaan perlu dirangkai dengan bukti ekologis serta argumentasi hukum. 

Dengan cara itu, masyarakat tidak hanya diminta membuktikan bahwa mereka terkena dampak, tetapi juga diakui mempunyai tata kelola dan gagasan mengenai masa depan wilayahnya.

Ketiga, mempertemukan pembelaan dengan pemulihan. Menolak perusakan tetap penting. Namun, perjuangan perlu diteruskan dengan pertanyaan: bagaimana sumber air dipulihkan, bagaimana lahan kembali menopang kehidupan, dan bagaimana masyarakat dapat menjalankan penghidupan tanpa kehilangan kendali atas wilayahnya?

Keempat, memperkuat regenerasi. Usia organisasi yang bertambah harus berjalan bersama lahirnya pemimpin-pemimpin baru. Anak muda perlu memperoleh ruang untuk belajar sekaligus memimpin. Perempuan, masyarakat adat, petani, nelayan, dan kelompok yang selama ini kurang didengar harus memiliki pengaruh nyata dalam pengambilan keputusan, bukan sekadar hadir memenuhi daftar peserta.

Kelima, memperluas persekutuan tanpa mengaburkan keberpihakan. WALHI perlu membuka ruang kerja bersama dengan peneliti, pendidik, seniman, jurnalis, dan komunitas teknologi. Ukurannya tetap jelas: apakah kerja sama itu memperkuat masyarakat atau justru mengambil alih suara mereka?

Keenam, menilai perjuangan dari perubahan yang dirasakan masyarakat. Bukan hanya berapa kegiatan dilaksanakan, melainkan apakah ancaman berkurang, hak semakin terlindungi, lingkungan membaik, dan kemampuan masyarakat menentukan masa depannya semakin kuat.

Agenda-agenda itu tidak harus diselesaikan sekaligus. Namun, semuanya membutuhkan arah yang tegas, pembagian tanggung jawab, dan kesediaan mengevaluasi diri.

Saya memimpikan WALHI yang kantornya tidak terasa jauh dari kampung. Tempat orang datang bukan hanya ketika menghadapi penggusuran atau pencemaran, tetapi juga ketika ingin membicarakan bagaimana menjaga mata air, menanam kembali, dan mewariskan pengetahuan kepada anak-anak.

Saya memimpikan WALHI yang mampu mempertemukan seorang tetua kampung dengan peneliti dalam kedudukan setara. Yang memberi ruang kepada perempuan untuk menjelaskan perubahan air dan pangan dari pengalaman kesehariannya. 

Yang mendengarkan anak muda bukan semata sebagai penerus, melainkan sebagai pemikir dan pelaku perjuangan hari ini.

Saya memimpikan WALHI yang tajam mengkritik, tetapi juga tekun membangun. Berani mengatakan tidak terhadap perusakan, sekaligus mampu menunjukkan kehidupan seperti apa yang layak diperjuangkan sebagai gantinya.

Harapan itu bukan tentang menjadikan WALHI organisasi yang mengetahui segala hal. Justru sebaliknya. WALHI perlu semakin matang untuk mengakui batas pengetahuannya sendiri, lalu belajar bersama mereka yang hidup dan bertahan di wilayah perjuangan.

Kekuatan organisasi tidak selalu tampak dari seberapa keras ia berbicara. Kadang-kadang, kekuatan itu terlihat dari kesediaannya memberi ruang agar orang lain dapat berbicara dengan suaranya sendiri.

Menawarkan Nilai dari Panjangnya Perjalanan

Empat puluh enam tahun seharusnya memberi WALHI lebih dari sekadar pengalaman menghadapi konflik. Rentang itu perlu diolah menjadi nilai yang dapat ditawarkan kepada kehidupan bersama.

Dari panjangnya perjuangan, tumbuh keteguhan: tidak mudah meninggalkan masyarakat ketika perhatian publik beralih.

Dari perjumpaan dengan masyarakat, tumbuh kerendahan hati: tidak menganggap bahasa organisasi selalu lebih penting daripada bahasa kampung.

Dari pengalaman menghadapi perusakan, tumbuh tanggung jawab: kemenangan tidak berhenti pada keputusan, tetapi harus menyentuh pemulihan kehidupan.

Dan dari seluruh perjalanan itu, tumbuh solidaritas: kesadaran bahwa mempertahankan sebuah sungai, hutan, atau kampung merupakan bagian dari menjaga masa depan bersama.

Nilai-nilai itulah yang patut berkibar bersama nama WALHI. Bukan nilai yang hanya tertulis dalam dokumen, melainkan yang dapat dikenali dari cara bekerja, cara mengambil keputusan, dan cara memperlakukan sesama.

Selamat ulang tahun ke-46, WALHI.

Semoga usia ini tidak membuat langkah menjadi lamban, tetapi semakin terarah. Tidak membuat organisasi merasa paling tahu, tetapi semakin tekun belajar. 

Tidak membuat pengalaman menjadi kebanggaan yang menutup telinga, tetapi menjadi kebijaksanaan yang membuka ruang.

Tetaplah berkibar bersama mereka yang mempertahankan tanah, air, hutan, pesisir, dan martabat kehidupannya. Jadilah penghubung antara ingatan leluhur dan keberanian generasi baru, antara pengetahuan masyarakat dan keputusan publik, antara pembelaan hari ini dan harapan masa depan.

Bawalah keteguhan, kerendahan hati, persaudaraan, keadilan, dan tanggung jawab sebagai nilai yang ditempa oleh perjalanan 46 tahun.

Sebab, panji yang layak terus berkibar bukan hanya panji yang sanggup bertahan diterpa angin. Ia adalah panji yang tetap menunjukkan arah—dan tidak meninggalkan mereka yang berjalan bersamanya.(*)



Artikel Rekomendasi