Oleh: IM Trisawa*
Editor: Ali Surahman
Raden Mattaher atau Mattahir merupakan salah satu pahlawan dari Jambi yang saat ini sedang diproses untuk diusulkan menjadi pahlawan nasional. Di Jambi, sejarah tentang sosok yang dikenal sebagai Singo Kumpeh ini sudah banyak diungkap, diperbincangkan, dikupas, dan dipopulerkan baik dalam bentuk tulisan, fragmen pementasan, maupun film dokumenter.
Dari berbagai sudut pandang sejarah, kajian, dan upaya untuk memperkenalkan pahlawan yang tidak hanya berbasis lokal, menunjukkan bahwa sinyalemen kuat ke arah pengangkatannya sebagai pahlawan nasional sangatlah terbuka lebar.
Dengan demikian, upaya untuk memperkenalkan sosok pahlawan dari Jambi ini ke masyarakat Indonesia yang lebih luas sangat perlu dan mendesak. Misalnya dengan memasukkan biografinya ke dalam buku sejarah, atau melalui media lain yang dipersyaratkan. Jangan berhenti pada tataran wacana saja, tetapi perlu implementasi nyata yaitu ditindaklanjuti secara lebih komprehensif dari pihak terkait, terutama oleh pemerintah daerah Provinsi Jambi.
Tidak ditunda-tunda, karena faktanya sudah menunjukkan rentang waktu yang sangat panjang jika dihitung dari gugurnya sang pahlawan yaitu tahun 1907, sudah 112 tahun. Meskipun pada era 1960, 1980, 2014 pernah dicoba diusulkan, namun selalu gagal1,2). Menurut Junaidi T. Noor (sejarawan dan budayawan Jambi) sebagaimana dilaporkan oleh Syarif Abdullah3) diharapkan pengusulan Raden Mattaher menjadi pahlawan nasional akan tuntas pada tahun 2019 ini. Oleh karena itu, kelengkapan persyaratan dan kajiannya perlu dilengkapi dan dilakukan secara serius dan tuntas juga.
Tulisan ini tidak akan membahas sisi perjuangan Raden Mattaher sebagai salah satu aktor pejuang gigih yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah Kesultanan Jambi. Demikian juga tidak membahas seputar upaya untuk mengupas ke arah pengangkatannya sebagai pahlawan nasional. Penulis hanya akan mengupas dari sisi lain, yang akan menjadi
1) Baitri, J.H. (2014). HBA Ajukan Raden Mattaher Sebagai Pahlawan Nasional. https://jambi.tribunnews.com/2014/05/06 [1 September 2019]
2) Dicky (2019). Silsilah Raden Mattaher Ada Dua Versi. https://www.jambiday.com/2019/ [1 September 2019]
3) Syarif Abdullah (2019). Sejarawan Dorong Muaro Jambi Peduli Jejak Sejarah Raden Mattaher. https://www.antaranews.com/berita/821152 [1 September 2019]
Informasi penting untuk basis data sang pahlawan. Sisi mana menjadi krusial ketika dikaitkan dengan sifat humanis beliau sebagai seorang bapak yang memiliki keluarga.
Sisi humanis dan jiwa patriotik beliau dapat menjadi teladan, tidak hanya bagi keluarga atau keturunannya yang ada tetapi juga untuk masyarakat umumnya. Laksana cahaya matahari yang berpendar memancarkan kebaikan, kemajuan, dan kemaslahatan umat.
Akan menjadi relevan ketika membahas susur galur (silsilah keturunan) dari salah satu pahlawan Jambi ini dilihat dari upaya pengayaan informasi. Pengayaan informasi yang pada gilirannya diharapkan akan menjadi gambaran utuh tentang sosok sang pahlawan.
Raden Mattaher, sebagaimana diungkap dari beberapa tulisan3,4), memiiki keluarga atau keturunan. Namun demikian, informasi keturunan lebih lanjut yang ada saat ini sangat terbatas. Keterbatasan tersebut mungkin disebabkan oleh investigasi atau pengungkapan sosok keluarga Raden Mattaher tidak ditelusuri lebih lanjut. Di sisi lain, juga karena keturunan-keturunan yang ada sekarang tidak semuanya menunjukkan jati dirinya ke permukaan sebagai sebuah bagian dari trah Raden Mattaher.
Terus terang, tulisan ini lahir karena dirangsang oleh tulisan saudara Ali Surakhman tentang "Mengupas Sosok Pangeran Ratu Raden Mattaher" sebagai artikel yang terbit di media on line jamberita.com yang ditayangkan pada tanggal 5 April 2019. Sebagai trigger terhadap tulisan saya ini, terutama saat sdr Ali mengupas tentang keturunan dari Raden Hamzah (salah satu anak Raden Mattaher) sebagai berikut:
"Raden Hamzah mempunyai dua istri. Dari istri pertama ada anak 4, meninggal. Kemudian Raden Hamzah menikah lagi dengan perempuan Malaysia, janda anak satu. Untuk itu diperlukan studi lebih dalam siapa keturunan Raden Mattaher yang ada sekarang ?"
Kalimat terakhir yang saya beri bold itulah sebagai trigger saya menulis. Meskipun, sesungguhnya saya sudah lama memendam hasrat untuk mengungkap keturunan Raden Mattaher yang ada sekarang. Dari Raden Hamzah, saat ini juga ada keturunanya yang masih hidup dan tinggal di Jambi, di antaranya adalah Ratu Mas Nurhayati, Ratu Mas
3) A.W. Swastiwi dan D. Arman (2017). Radden Mattaher: Pejuang Rakyat Jambi Melawan
Kolonial. https://kebudayaan.kemdikbud.go.id [5 September 2019]
4) Facruddin Saudagar. 2012. Perjuangan Raden Mat Tahir Dalam Menentang Kolonialisme di
Jambi. melangun.wordpress.com/2012/07/17/perjuangan-raden-mat-tahir-dalam-
menentang-kolonialisme-di-jambi/. [7 September 2019]
Zaitun, dan Raden Hasyim, serta Ratu Mas Aminah sebagaimana screenshot dokumen yang terpampang dalam film dokumenter Raden Mattaher (Gambar 1). Namun demikian, saya akan mengungkap keturunan Raden Mattaher dari anaknya yang lain, yaitu Raden Soelen (Raden Kusen) yang merupakan adik dari Raden Hamzah.

Gambar 1. Screenshot dokumen dari film dokumenter Perjuangan Raden Mattaher yang diproduksi oleh BPNB KEPRI. Isi dokumen tentang keturunan dari anak-anak Raden Mattaher.
Kenapa penulis berani merespon rangsangan tulisan Ali Surahman? dan kenapa mengungkap keturunan Raden Mattaher dari anaknya yang lain yaitu Raden Soelen? Karena sejatinya penulis secara tidak langsung menjadi bagian dari keluarga trah Raden Soelen. Istri penulis adalah cucu dari Raden Soelen. Oleh karenanya, penulis mengetahui siapa cucu, cicit, dan keturunan berikutnya dari Raden Mattaher melalui garis keturunan Raden Soelen.
Dari beberapa referensi dan catatan tersurat pada film dokumenter, Raden Mattaher dikaruniai beberapa orang anak dengan versi yang berbeda beda, baik jumlah maupun urutan dari nomor anak. Mengacu pada tulisan Fachrudin Saudagar (2012) dan Swastiwi dan Arman (2019) anak dari Raden Mattaher adalah sebagai berikut :
Raden Buruk tinggal di Rambatan Temasam
Raden Mataji atau Raden Hamzah tinggal di Jambi
Raden Soelen atau Raden Kusen tinggal di Bogor
Raden Zainal Abidin
Ratu Mas Lijah
Berbagai tulisan menceritakan bahwa anak-anak Raden Mattaher sebagian ada yang diungsikan ke Malaysia atau dititipkan ke kerabatnya, ketika Belanda diketahui akan mengepung tempat kediaman Raden Mattaher dan menangkapnya. Raden Mattaher memilih gugur kesatria melawan Belanda daripada menjadi tawanan, meskipun saat itu masyarakat di sekitar siap mengungsikan sang pejuang ke Malaysia. Selepas Raden Mattaher wafat, anak kedua dan ketiga yaitu Raden Hamzah dan Raden Soelen yang kala itu masih balita (sekitar umur 4 dan 3 tahun) diasuh oleh pejabat Belanda. Setelah beberapa kali berganti pengasuh, akhrnya kedua anak tersebut kemudian sampai ke Batavia mengikuti perpindahan dari pejabat Belanda.
Berdasarkan riwayat, pada perjalanan hidup selanjutnya Raden Hamzah kembali ke Jambi, sedangkan Raden Soelen menetap di Bogor. Pemuda Raden Soelen kemudian tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah seperti Raden Mattaher, bapaknya (Gambar 2). Raden Soelen selanjutnya menikah dengan seorang gadis bernama Rohami yang merupakan gadis campuran jawa-sunda (Gambar 3). Dari pernikahannya, pasangan tersebut dikarunia 8 orang anak yang terdiri dari 5 anak perempuan dan 3 anak laki-laki (Gambar 4). Nama anak-anak tersebut sebagaimana yang tertera dalam Screenshoot dokumen pada film dokumenter Perjuangan Raden Mattaher (lihat Gambar 1) yaitu :

Gambar 2. Raden Soelen (Raden Kusen) saat masih muda, gagah dan berwibawa

Gambar 3. Pasangan Raden Soelen (Raden Kusen) dan Rohami

Gambar 4. Anak-anak dari pasangan Raden Soelen dan Rohami. Dari kiri ke kanan : Ratu Mas Martha, Ratu Mas Mariam, Raden Pietje, Ratu Mas Rohma (dipangku), Raden Sulaeman, Ratu Mas Naomi, dan Ratu Mas Elizabeth. Raden Usman belum lahir.
Karier bekerja Raden Soelen sampai masa pensiun adalah di Bagian Laboratorium dari salah satu lembaga riset yang ada di Kebun Raya Bogor. Bersama dengan sang istri, Raden Soelen bahu membahu membesarkan kedelapan anaknya. Namun takdir menentukan istri Raden Soelen, yaitu Rohami wafat pada 29 Juli 1943, sementara Raden Soelen sendiri wafat pada 29 Maret 1977 pada usia 73 tahun. Makam Raden Soelen berdampingan dengan makam istrinya di tempat pemakaman umum (TPU) Blender, Bogor (Gambar 5 dan 6).
Semasa masih hidup, Raden Hamzah beberapa kali mengunjungi adiknya Raden Soelen di Bogor. Keakraban kedua anak Raden Mattaher ini menjadi sepenggal kisah yang tidak pernah terlupakan oleh anak dan cucu Raden Soelen. Keakraban Raden Hamzah dan Raden Soelen sebagai anak dari seorang pejuang yang merasa senasib sepenanggungan, mulai diasuh oleh Belanda sampai mengarungi bahtera hidup selanjutnya sebagai anak yaitim piatu dengan perjuangan yang tidak mudah. Namun dibalik itu semua, tumbuh rasa persaudaraan dan semangat untuk senantiasa menggelorakan rasa persatuan, persaudaraan, dan dimensi perjuangan agar hidup lebih berguna dan bermanfaat bagi masyarakat. Suatu warisan karakter yang layak untuk terus diimplementasikan oleh keturunan-keturunan beliau.
Kini, dari kedelapan anak Raden Soelen, tinggal tiga orang anak perempuan yang masih hidup dan sudah berusia lanjut. Semuanya tinggal di Bogor (Gambar 7). Namun demikian, dari kedelapan anak Raden Soelen, total saat ini sudah berkembang menjadi kurang lebih 101 orang keturunan dari Raden Soelen. Suatu jumlah yang akan terus berkembang dan menjadi populasi yang besar jika digabungkan dengan keturunan dari anak-anak lain Raden Mattaher. Membentuk suatu komunitas keturunan Raden Mattaher yang dapat berkiprah dan berkolaborasi dalam membangun peradaban kehidupan yang lebih baik, baik di Jambi maupun di daerah-daerah lain di Indonesia. Paling tidak, kobaran semangat yang digelorakan oleh Raden Mattaher menjadi titisan dalam membentuk watak yang baik bagi keturunannya di keluarga dan masyarakat. Jika itu sudah diihtiarkan, segala daya upaya pada akhirnya harus bermula juga pada doa kepada yang maha kuasa. Seperti kata mutiara melayu Jambi "Negeri aman padi menjadi, air jernih ikannyo jinak, rumput mudo kerbaunyo gemuk, turun ke sungai cenetik keno, naik ke darat perangkap berisi'. Artinya, berdoa serta mengharap kebahagiaan dan keselamatan negeri.

Gambar 5. Makam Raden Soelen dan Rohami Soelen di Tempat Pemakaman Umum Blender, Bogor. Dua wanita yang ada di gambar adalah cucu dari Raden Soelen.

Gambar 6. Nisan Raden Soelen dan istrinya

Gambar 7. Anak dari Raden Soelen, dari kiri ke kanan : Ratu Mas Martha (kerudung, 87 tahun), Ratu Mas Elizabeth (tengah, 85 tahun), dan Ratu Mas Rohma (81 tahun)
Penulis sudah tiga kali berkunjung ke Jambi, dan baru pada kesempatan ketiga yaitu pada tanggal 30 Agustus 2019, penulis berkesempatan berziarah ke makam Raden Mattaher di Jambi dan bertemu dengan perawat makam Pak Ramli yang juga meminta penulis mengisi buku tamu/kunjungan (Gambar 8 dan 9).

Gambar 8. Penulis berdoa di makam Raden Mattaher

Gambar 9. Penulis bersama bapak Ramli, perawat makam.(*)
Sumber : I.M. Trisawa keturunan Rd. Mattaher
10 Obat Herbal yang Ampuh untuk Diabetes, Ada Pare dan Ketumbar
Kisah Organisasi Pemuda Ujung Barat Jambi Candradimuka IPPOS (Bag 2)
Sumpah Pemuda: Zaman Boleh Berubah, Perjuangan Boleh berbeda, Tapi Semangat Jangan Kendor
Korem 042/Gapu Gelar Sholat Idul Adha 1447 H di Lapangan Tenis Indoor Makorem


