Akhirnya Dinkes Angkat Bicara Soal DBD di Jambi, Satu Diantaranya Meninggal Dunia



Kamis, 19 Desember 2019 - 15:42:47 WIB



Kabid P2P Provinsi Jambi Eva Susanti
Kabid P2P Provinsi Jambi Eva Susanti

JAMBERITA.COM - Akhirnya Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jambi Eva Susanti angkat bicara soal angka kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang mulai menyerang warga.

Ini setelah dikonfirmasi awak media beberapa kali. Sebelumnya, Ia mengaku sedang berada di luar sejak 10 Desember hingga dengan Kamis 19 Desember 2019.

Saat menghubungi jamberita.com, Eva mengatakan berdasarkan database bulan November 2019 kasus DBD itu sebanyak 306 kasus. Yang terjadi di Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar), Kota Jambi dan meninggal dunia satu.

"Antara Tanjabbar dan Kota Jambi hampir sama, (korban) yang meninggal di Kota Jambi," ungkapnya melalui telepon genggamannya, Kamis (19/12/2019).

Lebih lanjut, pihaknya menghimbau kabupaten Tanjabbar dan kota Jambi khususnya agar segera melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), membuang tempat penampungan air dan penguburan barang bekas.

"Tetap menjaga lingkungan yang bersih, harus dilakukan secara continue dan setiap rumah harus memastikan adanya pemantau jentik dan harus dibuang," tuturnya.

Kemudian Eva juga membeberkan cara bagaimana untuk melakukan pencegahan yang efektif untuk membasmi tempat tempat berpotensi sarang nyamuk, sehingga diharapkan masyarakat tidak mudah terserang penyakit DBD.

"Dispenser, pot bunga dan sampah plastik kemudian barang bekas dan kamar mandi, itu potensi sarang nyamuk," terangnya.

Untuk itu kata Eva masyarakat harus mengetahui hal tersebut karena paling penting melakukan pencegahan dini dengan PSN-3M yang dilakukan secara berkualitas.

Ini untuk memastikan semua wadah penampung air yang berpotensi menjadi sarang nyamuk harus segera dibuang.

"Kemudian secara serentak bersama sama, tidak boleh dalam satu waktu itu masyarakat hanya melakukan satu kelurahan saja itu tidak akan efektif, ini harus dilakukan semua warga baik di rumah tangga maupun fasilitas umum," ungkapnya.

Masyarakat juga harus melakukan pencegahan secara berkesinambungan yaitu teratur dan terjadwal tidak boleh hanya dilakukan satu kali saja.

Karena menurut Eva, menatalaksana lingkungan harus dilakukan secara terus menerus tidak mesti ketika musim penghujan saja.

"Kemudian ingat 3M itu, menguras, menutup dan mendaur ulang barang bekas, harus menguras bak mandi jadi itulah yang dinamakan juru pemantau jentik yang ada di rumah tuh, harus dipastikan bahwa ada jangan ada jentik nyamuk," katanya.

Pencegahan dengan 3M itu mencegah jangan sampai nyamuk dewasa melainkan untuk menurunkan populasi nyamuk.

Kedua masyarakat harus menutup tempat penampungan air di musim penghujan.

"Kalau barang barang bekas itu bisa di daur ulang, bisa dibuat kursi atau dibuat meja, dimanfaatkan," tegasnya.

Terpenting juga sebenarnya sekarang masyarakat bisa menggunakan namanya larvitrap/alat-alat perangkap dengan menyediakan tempat nyamuk untuk bertelur, semacam botol yang dipotong menjadi 2 bagian, potongan bagian bawah diisi air untuk menarik nyamuk untuk bertelur.

"Jadi lebih baik lagi air redamannya itu air jerami atau diberikan ragi, karena mengundang nyamuk untuk bertelur disitu," jelasnya.

Sedangkan potongan bagian atas itu diletakkan pada potongan bagian bawah dengan cara terbalik, apabila nyamuk masuk dia akan terperangkap, kemudian dibungkus dengan plastik hitam untuk menarik nyamuk datang bertelur dan biasanya diletakkan disudut-sudut didalam atau diluar rumah.

"Jadi kami juga akan melaksanakan yang namanya penyuluhan kepada sekolah-sekolah (dalam waktu dekat), supaya bisa memanfaatkan pembuatan larvitrap ini, jadi polanya sederhana kemudian murah," pungkasnya.(afm)





Artikel Rekomendasi