JAMBERITA.COM - Limbah rumput dan kotoran ternak yang selama ini kerap dipandang sebagai sisa yang tidak bernilai, di tangan mahasiswa Universitas Jambi (UNJA) diolah menjadi bahan baku produk pupuk organik bernilai guna dan ekonomi. Inovasi tersebut dikembangkan melalui TerraGrow, usaha rintisan mahasiswa yang mengusung pupuk organik slow release berbasis limbah rumput dan kotoran ternak untuk mendukung kesuburan tanah secara berkelanjutan.
Gagasan tersebut dituangkan dalam proposal berjudul “TerraGrow: Inovasi Pupuk Organik Slow Release Berbasis Limbah Rumput dan Kotoran Ternak untuk Meningkatkan Kesuburan Tanah secara Berkelanjutan pada Budidaya Kelapa Sawit.” Proposal TerraGrow berhasil memperoleh pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2026 pada kategori Budidaya Tahap Awal.
Setelah memperoleh pendanaan, TerraGrow melanjutkan pengembangan usahanya melalui serangkaian tahapan pembinaan dan evaluasi, mulai dari evaluasi kemajuan usaha hingga Penilaian Kemajuan Pelaksanaan (PKP). Hasil dari tahapan tersebut mengantarkan TerraGrow menjadi salah satu dari lima tim UNJA yang lolos ke KMI Expo XVII 2026.
Pada ajang yang berlangsung di Universitas Jenderal Soedirman tersebut, TerraGrow berhasil meraih Juara Harapan III KMI Awards XVII 2026 kategori Budidaya Tahap Awal. Pencapaian ini menjadi langkah penting bagi tim dalam mengembangkan usaha berbasis pemanfaatan limbah. Lebih dari sekadar penghargaan, TerraGrow menunjukkan upaya mahasiswa dalam mengolah persoalan lingkungan menjadi peluang usaha melalui inovasi produk pupuk organik yang berpotensi mendukung pertanian berkelanjutan.
Gagasan TerraGrow berawal dari Raihan Nabil yang melihat persoalan lingkungan sekaligus peluang pasar dalam pemanfaatan limbah organik. Berangkat dari gagasan tersebut, tim TerraGrow mulai terbentuk pada 2025 melalui pertemuan dan pengalaman bersama dalam kegiatan organisasi. Usaha ini kemudian dikembangkan oleh mahasiswa lintas disiplin, yakni Raihan Nabil (C0B024015) dan Akhdarunnafis Azzaky (C0B024027) dari Program Studi D3 Manajemen Pemasaran, Fakultas Ekonomi dan Bisnis; Riskal Rinaldi (C0C024020) dari Program Studi D3 Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis; serta Azril (D1D024055) dari Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Jambi. Tim ini dibimbing oleh Dr. Ade Perdana Siregar, S.E., M.M.
Keberagaman latar belakang keilmuan menjadi salah satu kekuatan TerraGrow dalam mengembangkan produk dan usahanya. Pengembangan produk membutuhkan pemahaman mengenai budidaya dan lingkungan, sedangkan pengelolaan usaha memerlukan kemampuan di bidang pemasaran, pencatatan keuangan, dan penyusunan model bisnis. Untuk memastikan pembagian tugas berjalan secara terstruktur, tim menerapkan RACI Matrix sebagai acuan dalam menentukan peran dan tanggung jawab setiap anggota. Dengan pembagian tersebut, setiap anggota memiliki fungsi yang saling melengkapi dalam mendukung pengembangan produk dan usaha TerraGrow.
Secara konsep, TerraGrow mengusung pendekatan ekonomi sirkular dengan mengolah bahan organik yang sebelumnya kurang termanfaatkan menjadi produk bernilai guna dan ekonomi. Bahan baku utamanya berupa rumput liar atau gulma serta kotoran kambing yang diolah menjadi pupuk organik slow release berbentuk padat. Proses pengolahan diawali dengan pengomposan melalui fermentasi aerob dan anaerob menggunakan Starbo-AFE, bioaktivator hasil hilirisasi Universitas Jambi. Setelah melalui proses pengolahan, bahan kemudian dicetak menggunakan alat soil block untuk menghasilkan pupuk yang lebih praktis saat diaplikasikan.
Pupuk organik slow release TerraGrow dirancang agar dapat bertahan sekitar 30–90 hari di dalam tanah. Karakteristik tersebut memungkinkan nutrisi dilepaskan secara bertahap untuk mendukung penyerapan oleh tanaman. Selain itu, bentuk padat produk dirancang untuk membantu mengurangi risiko kehilangan nutrisi akibat pencucian oleh air hujan maupun penguapan saat kondisi panas.
Selain memanfaatkan limbah organik, TerraGrow juga berupaya menjawab persoalan kepraktisan penggunaan pupuk organik. Jika pupuk organik konvensional dapat membutuhkan penanganan dan pengangkutan dalam jumlah besar, produk TerraGrow dikembangkan dalam bentuk yang lebih praktis sehingga lebih mudah ditangani dan diaplikasikan.
Tanaman kelapa sawit menjadi salah satu fokus awal pengembangan TerraGrow karena kebutuhan pemupukannya relatif tinggi. Di sisi lain, sebagian petani masih menghadapi keterbatasan akses terhadap pupuk bersubsidi. Kondisi tersebut menjadi salah satu persoalan yang melatarbelakangi pengembangan pupuk organik dengan bentuk yang lebih praktis sebagai alternatif pendukung pemupukan.
Pengembangan TerraGrow tidak berhenti pada tahap konsep. Tim melakukan pengujian kandungan produk di UPTD Balai Pengujian dan Sertifikasi Mutu Barang (BPSMB) Provinsi Jambi. Berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan, parameter yang diuji dinyatakan memenuhi standar SNI yang menjadi acuan dalam pengujian tersebut.
Tim juga melakukan uji pertumbuhan pada tanaman berumur pendek, salah satunya sawi, dengan membandingkan penggunaan TerraGrow dan pupuk NPK 16-16-16. Pengujian ini menjadi tahap awal untuk mengamati potensi produk sebelum dikembangkan lebih lanjut.
Pengalaman dalam melakukan pengujian menjadi bekal bagi tim ketika TerraGrow memasuki tahapan kompetisi. Inovasi yang diperkenalkan tidak hanya didasarkan pada gagasan pemanfaatan limbah, tetapi juga disertai proses pengembangan produk dan pengamatan langsung di lapangan.
Pada tahap Penilaian Kemajuan Pelaksanaan (PKP), TerraGrow mengikuti penilaian pada 27 Agustus 2026 dalam kategori Budidaya Tahap Awal. Akhdarunnafis Azzaky selaku ketua tim mempresentasikan perkembangan usaha di hadapan reviewer. Tahap ini menjadi bagian penting dalam perjalanan TerraGrow karena tim perlu menunjukkan perkembangan nyata dari pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW), baik dalam aspek produk, pasar, pengelolaan usaha, maupun kapasitas tim.
Salah satu tantangan yang dihadapi TerraGrow dalam proses pengembangan usaha adalah verifikasi produk. Reviewer mempertanyakan kesiapan produk serta bukti pendukung dari hasil pengembangannya. Masukan tersebut mendorong tim untuk melakukan penyempurnaan dan menghasilkan produk baru sebagai bagian dari upaya memperkuat kualitas serta proses verifikasi produk.
Selain itu, reviewer menyoroti keunggulan TerraGrow dibandingkan produk kompetitor. Tim diminta menjelaskan pembeda produknya, mulai dari penggunaan bahan baku, bentuk produk, konsep slow release, kepraktisan penggunaan, hingga nilai yang ditawarkan kepada konsumen. Evaluasi ini menjadi bahan bagi tim untuk memperkuat kualitas produk sekaligus memperjelas keunggulan dan posisi TerraGrow di pasar.
Setelah PKP, sejumlah pembenahan dilakukan. Dari sisi administrasi dan keuangan, transaksi usaha mulai diarahkan melalui rekening perusahaan PT TerraGrow Agri Indonesia. Dari sisi pemasaran, TerraGrow memperluas penjualan secara daring melalui berbagai kanal, termasuk TikTok Shop. Tim juga meningkatkan kapasitas sumber daya manusia melalui kegiatan Business Development Training serta pelatihan dan sertifikasi BNSP di bidang hortikultura dan tanaman pangan.
Hasil evaluasi PKP membawa TerraGrow menjadi salah satu dari lima tim P2MW UNJA yang lolos ke KMI Expo XVII 2026. TerraGrow tercatat pada kategori Budidaya Tahap Awal bersama AREVITA, Sumber AI, ECOTIC, dan ECOPIL sebagai wakil Universitas Jambi. Kelolosan tersebut mengubah orientasi tim. Jika sebelumnya fokus utama adalah memenuhi indikator dan target program, setelah lolos KMI Expo tim mulai mempersiapkan diri menghadapi penilaian di tingkat nasional. Tidak ada perubahan mendasar pada produk menjelang KMI Expo karena produk telah diselesaikan sebelum tahap PKP. Penyempurnaan desain kemasan dan identitas visual juga telah dilakukan sebelumnya.
Perhatian tim kemudian diarahkan pada penguatan materi pitching. Berdasarkan evaluasi saat PKP, tim menambahkan pembahasan mengenai produk kompetitor serta memperjelas perbedaan TerraGrow dibandingkan produk sejenis. Hingga sebelum KMI Expo, TerraGrow telah memproduksi sekitar 300 kilogram produk. Produk tersebut telah dipasarkan dan digunakan oleh berbagai segmen konsumen, mulai dari petani kelapa sawit di Penyengat Olak dan Muaro Jambi, petani hortikultura, pemilik tanaman hias rumahan, kelompok tani, hingga PT Keindahan Properti Indonesia yang bergerak dalam jasa perawatan taman. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pasar TerraGrow mulai berkembang di luar target awal dan menjangkau kebutuhan budidaya maupun lanskap.
Dosen pembimbing TerraGrow, Dr. Ade Perdana Siregar, S.E., M.M., menekankan bahwa pengembangan kewirausahaan mahasiswa tidak cukup hanya dengan menghasilkan produk. Menurutnya, mahasiswa juga perlu memahami kebutuhan pasar, struktur biaya, strategi harga, kepercayaan konsumen, serta keberlanjutan usaha setelah program pendanaan berakhir.
“TerraGrow tidak cukup hanya menghasilkan pupuk yang baik. Mahasiswa juga harus belajar membaca kebutuhan pasar, menghitung biaya, membangun kepercayaan konsumen, dan memastikan bahwa produk bisa tumbuh menjadi usaha yang berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menilai proses pendampingan juga memberikan perubahan pada kemampuan mahasiswa dalam memahami dan mempertanggungjawabkan keputusan bisnis.
“Sebagai pembimbing, kebahagiaan terbesar adalah melihat mahasiswa berubah. Pada awalnya mereka datang membawa ide. Setelah melalui pendampingan dan evaluasi, mereka mulai mampu berbicara dengan data, memahami pasarnya, dan mempertanggungjawabkan keputusan bisnisnya,” tambahnya.
Perjalanan kompetitif TerraGrow akhirnya mencapai babak akhir di KMI Expo XVII 2026. Dalam pengumuman penghargaan, TerraGrow dinyatakan sebagai Juara Harapan III KMI Awards XVII 2026 kategori Budidaya Tahap Awal. Bagi tim, penghargaan tersebut menjadi validasi bahwa gagasan yang bermula dari persoalan limbah organik dan kebutuhan akan pupuk yang lebih praktis mampu berkembang hingga bersaing di tingkat nasional. Namun, penghargaan tersebut tidak dipandang sebagai titik akhir.
“Waktu nama TerraGrow dipanggil, kami bahagia banget karena akhirnya bisa naik ke panggung nasional dan membawa nama Universitas Jambi. Tapi di sisi lain, kami juga langsung berpikir bahwa masih banyak yang harus kami perbaiki. Kami melihat lagi kesalahan dan kekurangan selama prosesnya. Jadi, pencapaian ini bukan titik akhir. Justru kami semakin semangat karena kami nggak mau TerraGrow berhenti sampai di sini,” ungkapnya.
Salah satu faktor yang dinilai membantu perjalanan TerraGrow menuju penghargaan adalah keberanian tim mengalokasikan biaya pemasaran untuk melakukan uji demplot pada tanaman sawi. Pengujian dilakukan sejak tahap pembibitan hingga pemanenan sehingga tim memiliki pengalaman dan data hasil pengamatan yang dapat disampaikan dalam kompetisi.
Bagi TerraGrow, keberhasilan di P2MW dan KMI Expo tidak boleh berhenti pada penghargaan. Tantangan berikutnya adalah memastikan produk mampu terus diproduksi, mendapatkan konsumen, memperluas pasar, dan membangun model usaha yang bertahan dalam jangka panjang.
Saat ini, TerraGrow telah memiliki badan usaha berbentuk PT Perorangan, yaitu PT TerraGrow Agri Indonesia. Produk yang diproduksi dan dipasarkan adalah pupuk organik slow release. Dari sisi legalitas produk, tim juga sedang menjalankan proses pengurusan izin edar sebagai bagian dari upaya memenuhi persyaratan untuk memperluas pemasaran.
Arah pengembangan TerraGrow ke depan mulai difokuskan pada sektor perkebunan. Untuk 2027, perusahaan menargetkan perusahaan perkebunan kelapa sawit sebagai salah satu pasar utama. Dalam membangun pasar, TerraGrow juga mengembangkan jaringan kemitraan dengan Kelompok Tani Jaya Makmur, komunitas Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Jambi, mitra toko pertanian, mitra koperasi, serta mitra penyedia bahan baku. Jaringan tersebut diharapkan dapat mendukung pengembangan rantai pasok, pemasaran, sekaligus memperluas peluang penggunaan produk di lapangan.
Untuk tahap berikutnya, TerraGrow menargetkan produksi sebesar 600 kilogram pada Semester I. Target tersebut menjadi salah satu ukuran bagi tim untuk menjaga konsistensi produksi sekaligus meningkatkan penjualan. Di saat yang sama, tim akan terus memperkuat produk, legalitas, pemasaran, dan kemitraan agar TerraGrow tidak berhenti sebagai produk hasil program kewirausahaan mahasiswa.
Perjalanan TerraGrow menunjukkan bahwa kewirausahaan mahasiswa dapat berangkat dari persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari yaitu limbah yang belum termanfaatkan secara optimal dan kebutuhan akan solusi budidaya yang lebih berkelanjutan. Persoalan tersebut kemudian diubah menjadi gagasan, gagasan dituangkan menjadi proposal, proposal dikembangkan menjadi produk, produk diuji dan dipasarkan, hingga akhirnya dibawa ke panggung kewirausahaan nasional.
Selengkapnya : www.unja.ac.id
Dugaan Pengeroyokan di SMA Titian Teras Berakhir Damai, Orang Tua Pelaku Tanggung Biaya Pengobatan
Kukuhkan Tiga Guru Besar UNJA,Prof Helmi: Jadikan Kepakaran & Pemanfaatan AI untuk Kemajuan Akademik
Kanwil Kemenkum Jambi Kawal Ranperda Rencana Pembangunan Industri Kota Jambi 2025–2045

