Oleh: Farah Sari, A. Md*
Dalam peringatan Hari Santri Nasional 2021, dan Peluncuran Logo Baru Masyarakat Ekonomi Syariah atau MES, Presiden Joko Widodo berharap pengembangan ekonomi syariah terus dilakukan. Termasuk di kalangan santri. "Karena itu kita harus mendorong munculnya lebih banyak enterpreneur, wirausahawan dari kalangan santri dan lulusan pondok pesantren. Orientasi santri seharusnya bukan lagi mencari pekerjaan tetapi sudah menciptakan kesempatan kerja bagi banyak orang menebar manfaat seluas-luasnya bagi umat," kata mantan Gubernur DKI itu. (VIVA.co.id, 22/10/21)
Senada dengan Presiden. Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Abdul Halim Iskandar menyatakan, santri berperan besar dalam menggerakkan ekonomi desa. Pesantren menopang pencapaian tujuan SDGs Desa ke-4; Pendidikan Desa Berkualitas, serta tujuan SDGs Desa ke-18: Kelembagaan Desa Dinamis dan Budaya Desa Adaptif.(iNews.id, 22/10/21)
Peran pesantren, ulama dan santri sangat besar dalam melahirkan individu muslim yang beriman dan memiliki pemahaman islam yang utuh. Sehingga pesantren harus fokus dan konsisten pada peran tersebut. Menjadi sarana pendidikan bagi kaum muslim untuk dapat memahami islam. Berjuang sesuai tuntutan syariat, agar islam bisa diterapkan. Termasuk menghapuskan segala bentuk penjajahan. Baik fisik maupun non fisik.
Namun, apa jadinya jika peran pendidikan islam ini digeser menjadi penguatan aspek ekonomi? Tentu berbahaya. Ditengah minimnya muatan tsaqofah islam dalam kurikulum pendidikan saat ini, pesantren menjadi harapan umat. Harapan agar anak-anak yang dididik di sana menjadi individu bertakwa dan menguasai ilmu pengetahuan. Ketinggian ilmu menjadikan mereka semakin dekat dengan Allah Swt. Aktif mengemban dakwah islam yang mulia. Hingga sampai pada perjuangan utama melanjutkan kehidupan islam yang dulu telah dibangun oleh Rasullulah Saw. dilanjutkan Khulafaur Rasyidin dan khalifah setelahnya.
Kalangan Pesantren, Aktor Utama Perubahan
Hari Santri Nasional 2021 jatuh pada tanggal 22 Oktober. Penetapan ini sesuai Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015, sebagai bentuk pengingat seruan resolusi jihad Nahdlatul Ulama (NU).
KH Hasyim Asy'ari menyampaikan yang dimaksud dengan resolusi jihad adalah aksi melawan penjajah hukumnya fardhu 'ain. Melalui semangat resolusi jihad tersebut para laskar ulama-santri mempunyai semangat yang sama dalam mengusir tentara sekutu yang ingin merebut kembali Surabaya. Hal ini ditulis pada situs resmi Universitas Islam Nusantara (Uninus).
Inilah peran penting dan utama ulama dan santri dalam perubahan. Membebaskan negeri dari segala bentuk penjajahan. Mereka lahir dari pembinaan pesantren. Individu-individu muslim yang memiliki keimanan yang kokoh. Pemahaman tsaqofah (ilmu) islam yang utuh. Kepribadian islam yang mantap. Dan keterikatan pada hukum syara' yang kuat.
Keberhasilan mengusir penjajah tidak bisa dilepaskan dari semangat jihad. Berjihad di jalanan Allah Swt. karena dorongan iman. Karena syariat islam memerintahkan membebaskan manusia dari segala bentuk ketundukan pada manusia. Termasuk melepaskan diri dari penjajah. Menjadikan manusia hanya tunduk pada Allah Swt.
Sudah seharusnya, setelah penjajah berhasil di tumpas perjuangan dilanjutkan dengan tetap konsisten berpegang pada syariat islam. Menerapkan islam dalam kehidupan. Karena menerapkan islam adalah kewajiban dan kebutuhan. Manusia akan dihisab atas perbuatannya, apakah terikat dengan aturan Allah atau aturan yang lain. Sehingga wajib terikat dengan syariat.
Disamping itu, penerapan islam adalah kebutuhan bagi manusia yang diciptakan Allah. Karena syariat menjadi solusi tuntas dari semua problem yang dihadapi dalam kehidupan. Siapakah yang lebih tau aturan yang dibutuhkan oleh manusia? Kecuali zat yang menciptakannya. Dialah Allah Swt.
Penjajah fisik memang sudah angkat kaki dari negeri ini. Tapi tidak dengan penjajahan pemikiran. Bangsa ini belum merdeka. Penjajahan (kolonialisme) gaya baru tengah mencengkeram negeri. Pemikiran rusak dan merusak berupa sekulerisme, liberalisme dan lainnya semakin menjauhkan keberkahan Allah atas negeri ini. Karena telah menerapkan aturan yang lahir dari akal manusia. Yang dilandasi hawa nafsu, manfaat dan kepentingan.
Agenda utama para santri hari ini adalah memberangus habis seluruh pemikiran yang bertentangan dengan islam. Agenda santri adalah mengembalikan kehidupan ini dalam dekapan syariat kafah dalam naungan sistem pemerintahan islam. Institusi ini akan menjaga ajaran Islam, kemuliaan dan kehormatan kaum muslimin. Juga mewujudkan kesejahteraan manusia seluruhnya.
Oleh karena itu, tidak benar menjadikan pesantren, ulama dan santri menjadi pihak yang bertanggung jawab menyelamatkan ekonomi yang kian memburuk. Karena memburuknya ekonomi adalah buah penerapan ekonomi kapitalis. Yang seharusnya ditinggalkan dan digantikan dengan sistem ekonomi islam.
Menjamur Pengangguran Buah Penerapan Ekonomi Kapitalis
Masalah lapangan kerja memang merupakan persoalan berat yang sulit Pemerintah selesaikan. Meski pemimpin telah berganti berkali-kali, pengangguran tetap menjadi problem klasik negeri ini.
Kepala BPS Margo Yuwono mengungkapkan, peningkatan tingkat pengangguran terbuka (TPT) terjadi pada penduduk berusia 20-24 tahun dan 25-29 tahun. BPS melaporkan, pengangguran pada usia 20-24 tahun meningkat sebesar 3,36 persen dari 17,66 persen pada Februari 2020 menjadi 14,3 persen pada Februari 2021. Sementara pengangguran usia 25,29 tahun meningkat 2,26 persen poin dari 7,01 persen di Februari 2020 menjadi 9,27 persen di Februari 2021(Kompas.com, 30/8/21).
Jika dikaitkan dengan santri, usia para lulusan pesantren berada pada rentang yang banyak terjadi pengangguran. Permasalahan yang sama juga dihadapi para pemuda lain yang tidak nyantri.
Hakikatnya membuka lapangan kerja bukanlah tugas santri, melainkan tugas Pemerintah. Pemerintah adalah penguasa yang bertugas mengurusi (riayah) urusan rakyatnya, termasuk urusan lapangan kerja.
Rasullulah Saw bersabda: “Pemimpin masyarakat adalah pengurus dan dia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Ketika penguasa gagal menyediakan lapangan kerja untuk rakyat, sehingga banyak pengangguran, yang harus dilakukan adalah evaluasi diri. Bukan menyuruh rakyat (santri) untuk membuka lapangan kerja. Kemudian pemerintah berlepas tangan terhadap pengurusan rakyat. Bahkan berharap ekonomi membaik karena rakyat bergerak di sektor ekonomi real. Karena sektor ekonomi real inilah yang mampu menyelamatkan perekonomian sebuah negara.
Bahkan Rasulullah Saw. mendoakan keburukan bagi pemimpin yang menyusahkan rakyatnya, “Ya Allah, siapa yang mengemban tugas mengurusi umatku kemudian dia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia. Siapa yang mengemban tugas mengurusi umatku dan memudahkan mereka, maka mudahkanlah dia.” (HR Muslim)
Demikianlah kesempurnaan ajaran Islam. Akan memberikan kebaikan pada umat manusia. Saat islam diterapkan secara total oleh negara. Islam akan mampu menyelesaikan pengangguran. Dengan prinsip pemimpin adalah pihak yang bertanggung jawab menyediakan lapangan pekerjaan.
Sedangkan peran ulama dan santri tidak akan bergeser sedikitpun. Menguatkan keimanan, menguatkan pemahaman islam, memastikan penerapan sistem islam, melahirkan individu berilmu pengetahuan dan mengembangkan risalah islam yang mulia.(*)
Penulis adalah: Aktivis Dakwah Islam*
Resmi Dilantik Jadi Direktur RSUD Raden Mattaher, drg Iwan Pangkas Utang RS dari Rp122 M, Jadi 58 M
