Gasing: Permainan Tradisional Yang Kini Sulit Ditemukan



Rabu, 03 November 2021 - 08:27:31 WIB



Oleh: Deni Ardiawan*

 

Tiga, dua, satu, lemparrr...!!!!  Ya, itulah suara anak-anak yang biasanya terdengar saat akan  memulai permainan gansing atau yang dikenal dengan sebutan gasing. Mereka akan saling menarik gasingnya masing-masing sekuat tenaga agar dapat berputar dengan kuat dan bisa menumbangkan gasing lawan-lawannya.

Gasing merupakan sebuah permainan tradisional yang terbuat dari kayu dan tali. Bentuknya seperti payung terbalik, namun tidak memiliki rongga dan berukuran kecil. Bagian atas gasing akan dililiti tali sebagai alat pemutar ketika di tarik. Cara memainkan gasing juga tidak sulit, hanya melilitkan tali pada bagian atas gasing, lalu lemparkan ke tanah dan tarik sekuat tenaga maka gasing akan berputar dengan kencang.

Sore hari adalah waktu yang tepat untuk bermain gasing. Dimana orang-orang akan berkumpul untuk menunjukkan kekuatan gasingnya masing-masing. Gasing biasanya dimainkan oleh dua orang atau lebih. Mereka akan saling mengadu gasingnya untuk menentukan siapa yang terkuat. Gasing terakhir yang berhenti berputar adalah pemenang dari permainan tersebut.

Namun sayang, permainan yang dulu populer di kalangan masyarakat kini keberadaannya sulit untuk ditemukan. Anak-anak masih berkumpul, namun bukan gasing yang mereka bawa, melainkan HP android dengan berbagai merek dan keluaran terbaru sebagai pengganti permainan baru mereka saat ini.

Menurut akbar, salah satu anak yang dulu suka bermain gasing mengungkapkan kini ia tidak lagi pernah bermain gasing. Bukan karena tidak bisa buat, tetapi tidak ada teman untuk diajak bermain. Semuanya sudah mempunyai HP untuk main bareng(mabar) .

"Saya sudah lama tidak bermain gasing karena tidak ada temannya. Sekarang enaknya mabar mobile legends sama teman-teman, lebih seru" ungkap akbar.

Tampak mereka sangat fokus menatap HP nya masing-masing. Kadang mereka meracau berbicara tidak jelas dengan tatapan mata yang tidak lepas dari layar. Terlihat sangat asik, namun terbesit keprihatinan terhadap masa depan kebudayaan Indonesia. Entah apa yang akan terjadi 10 tahun kedepan. Mungkin permainan tradisional sudah benar-benar terlupakan di kalangan masyarakat.  Gasing, kini dirimu mulai tergantikan. (*)

 

Penulis adalah: Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UNIVERSITAS JAMBI*



Artikel Rekomendasi