Pilwako Jambi 2024, Jebakan Popularitas dan Elektabilitas Bubble



Minggu, 02 Januari 2022 - 16:18:16 WIB



Oleh : Dr. Noviardi Ferzi (1) & Dr. Dedek Kusnadi (2)*

 

 

Populeritas dan Elektabilitas menjadi sebuah indikator penting dalam setiap gelaran pemilu, termasuk menjelang pemilihan Walikota Jambi tahun 2024 nanti. Hari ini para calon yang berkeinginan maju telah mulai merancang bangun populeritas dan elektabillitasnya. 

Pertanyaanya, dengan waktu yang masih lama, kenapa harus membangun populeritas dan elektabilitas dari sekarang ?

Hal ini dikarenakan upaya membangun dua indikator ini tidak bisa instan butuh proses. Ada dinamika dan interaksi timbal balik antara kompetensi, reputasi dan integritas dalam ruang dan waktu yang mesti dipresentasikan kepada publik, karenanya butuh waktu.

Dalam masyarakat, sering diartikan, orang yang populer dianggap mempunyai elektabilitas yang tinggi. Sebaliknya, seorang yang mempunyai elektabilitas tinggi adalah orang yang populer. Memang kedua konstatasi ini ada benarnya. Tapi tidak selalu demikian. Popularitas dan elektabilitas tidak selalu berjalan seiring. Adakalanya berbalikan. 

Lalu, kapan saat populeritas tak linear dengan elektabilitas ? Tulisan ini mencoba menjawabnya. 

Jebakan Populeritas

Hari ini dalam menuju pilwako Jambi boleh saja ada seorang calon yang begitu populer, dikenal dan diketahui jejak rekamnya secara luas dalam masyarakat, namun, harus hati - hati, karena  sesungguhnya ia terjebak dalam populeritasnya sendiri.

Lazimnya populeritas dibentuk dengan memaksimalkan sumber daya demi memperkuat rekatan ingatan publik pada diri mereka. Berbagai metode dan sarana dilakukan, pilihan wajibnya, tentu sosialiasi dengan berbagai pola dan ragam, baik langsung tatap muka, berkunjung ke satu titik ke titik lain, silahturahmi, pola ini bahkan diselingi dengan memberi bantuan sembako untuk menambah daya tarik.

Selain itu dalam rangka membentuk populeritas, sarana media sosial (medsos) juga menjadi keniscayaan tak terbantahkan hari ini. Medsos salah satu instrumen yang paling masif digunakan sebagai perekat ingatan publik akan jagoannya masing-masing. Hal ini dikarenakan media sudah corong informasi pertama bagi masyarakat “community” yang memiliki daya sihir yang mampu merubah paradigma dan cara pandang masyarakat dalam membentuk doktrinasi pada dirinya dan orang lain.

Hari ini setiap kali membuka media sosial  (facebook, instagram, twitter, tik tok dan whatsapp), berbagai  konten promosi dan iklan para paslon dengan ragam caption yang dikemas dengan narasi-narasi terbaik nan kreatif mendominasi beranda para pegiat medsos. Sehingga melalui proses tersebut telah memunculkan tokoh-tokoh populer ke permukaan.

Kepopuleran tersebut serasa membuat klaim kemenangan telah ada dalam genggaman. Baik di internal calon maupun khalayak pendukung. Narasi dan deskripsi optimis dari sekelompok masyarakat di bebagai warung kopi, pangkalan ojek, kelompok diskusi dan tempat lainnya yang didasarkan akan kepopuleran tersebut. 

Namun jangan lupa, proses ini adalah adalah proses politik, sebuah dunia bebas yang penuh dengan teka teki dan strategi. Yang tidak populer bukan berarti diam, bisa jadi yang tidak populer memilih jalan lain ataupun tikungan lain untuk menuju kemenangan sesungguhnya, sebab kemenangan di tingkat populeritas tidak berarti apa-apa jika tumbang di bilik suara. 

Faktanya memang, pemain atau masyarakat yang terlibat di ranah sosialisasi, media massa, media sosial tidak sebanding dengan masyarakat secara utuh, bahkan pemain di media sosial cendrung diasumsikan sebagai masyarakat kelas menengah. Popularitas di media sosial juga bisa menipu dan bahkan bisa menjadi ancaman. Suara masyarakat kelas menengah sama nilanya dengan masyarakat kelas bawah. 

Di Kota Jambi proporsi kelas bawah jumlahnya bisa 60 - 70 persen dari total jumlah suara. Mereka tidak selalu tercluster dalam kelas ekonomi dan sosial, bahkan keberadaan mereka ada tiap kelas ekonomi dan sosial. Mereka ini cenderung sebagai mayoritas diam (silent majority). Mereka menguasai suara mayoritas, hanya saja mereka diam tidak banyak terdengar di ranah sosial, media massa atau medsos, inilah yang disebut dengan jebakan populeritas.

Karena ada kecendrungan yang kuat kelompok yang menjalin interaksi dengan calon, biasanya adalah kelompok aktif dan melek secara pilihan dan punya harapan akan peluang seorang calon. Mereka inilah yang berinisiasi melakukan gerakan politik membantu sosialisasi calon. Latar belakang kelompok ini bermacam - macam baik paguyuban, ormas, birokrasi, parpol hingga sel - sel pemerintahan secara diam namun aktif melakukan penggalangan opini dan dukungan di akar rumput.

Kembali ke silent majority adalah sekelompok besar orang atau kelompok yang tidak mengekspresikan pendapat atau pilihan politik mereka secara terbuka. Mereka adalah kelompok pemilih yang sulit dideteksi bahkan melalui survei pemetaan suara sekalipun.

Karena itulah, pentingnya strategi manajemen (management strategic) dalam memformulasikan langkah-langkah politik dalam persaingan yang kompetitif. Strategi yang mampu menginfiltrasi informasi dan opini pada semua kelompok termasuk pada kelompok silent majority. Bagaimana strateginya, tentu harus dimulai kadar kediaman (silent factor) di tiap karakteristik masyarakat.

Beragam analogi kasuistis dalam kontestasi politik yang menunjukkan orang-orang populer terjebak dalam popularitasnya. Mereka terhimpit bahkan tumbang dalam pertarungan politik meskipun popularitasnya melangit jika dibandingkan dengan lawan politiknya.

Gelembung Sabun Elektabilitas

Fenomena Gelembung Sabun (Bubble Elektabilitas) pada keterpilihan merupakan perumpamaan yang mengambarkan rapuh tak berisinya elektabilitas seorang calon dalam pilkada.

Dalam kajian preferensi, elektabilitas sebenarnya adalah bagian fenomena Bandwagon effect, satu kecendrungan untuk mengikuti satu sama lain. Kondisi ini adalah efek ikut-ikutan yang muncul dari sebuah populeritas.  Fenomena ini ditandai dengan adanya kecenderungan seseorang untuk mengikuti apa yang orang lain pakai (pilih) karena jumlah orang yang menggunakan (memilih) hal tersebut semakin banyak.

Artinya, semangkin terbentuk populeritas makin besar pula efek untuk mempengaruhi pemilih lain sebagai keterpilihan calon. Disini elektabilitas sering dikaitkan dengan survei politik, dan memang hanya metode survei yang kredibel dan terukur mampu menyajikan data keterpilihan seorang calon.

Di saat lembaga survei memprediksikan stagnansi dan fluktuasi keterpilihan seorang calon, sesungguhnya mereka mereka mengambarkan potensi elektabilitas hari itu pada saat survei dilakukan.

Pengamatan penulis dalam pilwako kota Jambi 2024 peta elektabilitas cenderung menjadi gelombang sabun yang rentan pecah karena dihadapkan pada situasi yang kurang mendukung lahirnya peta preferensi yang utuh.

Kondisi ini disebabkan beberapa faktor sebagai cateris paribus berlakunya teori elektabilitas calon. Suatu kondisi yang berlaku apabila asumsinya terpenuhi. Nah, disini elektabilitas para calon dalam kajian penulis tidak memenuhi asumsi. 

Terdapat alasan untuk ini, yaitu relatip belum ada hasil survei yang mapan terhadap pilwako kota Jambi, tahun kemarin (Februari 2021) penulis mencoba mengandeng pelaksanaan survei nasional tentang Peta awal Pilpres Pasca Pilkada 2020 untuk mensurvei preferensi masyarakat terhadap Pilwako Jambi.

Hasilnya, seperti yang di duga, nama petahana (Maulana) cukup mencuat dari nama - nama bakal calon lain dalam hal populeritas dan elektabilitas. Namun sayangnya survei ini tidak bisa dijadikan data urut waktu (time series) sebagai syarat utama menyimpulkan sesuatu. Sehingga, ada situasi yang kurang ideal untuk disimpulkan. 

Penulis sendiri berkesimpulan, elektabilitas para bakal calon walikota Jambi hari ini termasuk Maulana masih terkategori elektabilitas Bubble atau Gelembung sabun yang tak berisi dan mudah terpecah. Hipotesanya begini :

Pertama, Belum ada calon lain sebagai pesaing yang pasti, kalaupun ada mereka yang di identifikasi sebagai pesaing belum melakukan apa - apa (selain memasang bilboard) untuk meningkatkan Populeritas dan elektabikitasnya.

Dalam kondisi ini dapat dimaklumi jika di survei Maulana menilmati sendiri kue elektabilitas tersebut secara mutlak. Toh memang calon lain belum bergerak sebagaimana sang Wawako bergerak.

Hari ini cukup banyak nama yang beredar untuk mengantikan Sy Fasha sebagai wali kota Jambi. Biar jangan luput, kita absen saja nama-nama yang populer terlepas dari patron politik apapun. Pertama, tentu saja Wakil Wali Kota petahana, Dr. dr. Maulana, MKM, beliau dikenal sebagai sosok yang dekat dan terbuka dengan siapa saja. Ibarat durian, Ia cukup harum, berbobot dalam banyak hal. Meski masih perlu pembuktian, dokter Maulana harus diakui memiliki berat dan ukuran yang besar untuk diperhitungkan. Apalagi kedekatan dan keharmonisan beliau dengan sang Wali Kota Fasha merupakan nilai lebih Maulana hari ini.
 
Pilwako nanti sikap politik Fasha akan berpengaruh. Terlepas dari perbedaa persepsi akan gaya komunikasinya sebagai wali kota, namun kesimpulan umum Fasha dinilai cukup sukses memimpin Kota Jambi. Meski ada penilaian minor, tapi masih sebatas masalah personal jauh dari masalah kinerja. Artinya, Walikota saat ini di mata masyarakat tetap menjadi bintang yang menjadi rujukan. Kemana dukungannya akan memberi nilai yang positif yang kuat.
 
Lalu, ada juga nama anggota DPD RI Sum Indra. Dalam skala yang terbatas, mantan Wawako Jambi ini sebenarnya telah mulai bergerak, setidaknya ada beberapa bilboard dan baleho yang Ia sebar sebagai treatment populeritasnya di masyarakat. Sum Indra sendiri merupakan bagian tersisa dari trah politik "Keluarga Nurdin" yang begitu kuat setengah dekade lalu. Tapi dengan dukungan yang masih terpelihara di kota, Sum Indra merupakan figur yang cukup besar dan harum bagi pemilih.
 
Selain dua nama ini, ada nama Rocky Candra, seorang politisi milenial yang cukup punya nama. Saat ini, Ia merupakan Wakil Ketua DPRD Provinsi dari Partai Gerindra. Namanya populer di kalangan masyarakat. Jika boleh diumpamakan, Rocky jenis durian yang fresh karena baru jatuh dari dahannya.
 
Selain Rocky, ada juga nama Samiun Siregar yang begitu menghentak dengan bilboard tersebar di penjuru kota. Cerita Samiun menjadi meyakinkan akan kesuksesannya menjadikan empat orang putra-putrinya sebagai anggota DPRD Kota Jambi. Artinya, secara "permainan" Samiun Siregar sangat menguasai bagaimana itu sebuah election. Terlepas Pilkada dan Pemilu dinamikanya beda, namun tetap ada persamaan yang membuat kita percaya, Samiun Siregar punya kemampuan mengeliat dalam Pilwako nanti.

Lalu ada juga nama orang dekat GubernurJambi hari ini, Hasan Mabruri, seorang tokoh muda Jambi yang memiliki talenta sosial dan jaringan yang kuat. Ia memiliki back up politik yang besar hari ini. Bohok, biasa ia disapa, anak muda NU yang bersinar saat ini, menjadi Ketua Harian DPD PAN Kota Jambi, namanya cukup diperhitungkan.
 
Jika ingin dirunut lagi, banyak nama lain yang punya nama untuk maju di Pilwako. Baik yang memang telah ditokohkan atau juga baru sekedar menokohkan. Dari banyak nama ini bisa kita mulai dari Abdullah Sani sang Wagub, Kemas Faried Al Farely, M. Nasir, Yunsak El Hacon, Joni Ismed, Fatri Suandri, Asad Isma, Yuliana Fasha, M Zayadi, H. Suparyono dan nama-nama lain yang mungkin belum terpikirkan oleh orang saat ini.  

Ke dua, Status Sebagai bagian Petahana hari ini ibarat pisau bermata dua bagi Maulana, karena, hampir tak bisa dipastikan apakah elektabilitas yang terbangun bisa digunakan Maulana sampai hari pemilihan, karena pengalaman empiris membuktikan, tuah keberhasilan hanya milik sang kepala daerah, tidak menular kepada sang Wakil. Artinya boleh saja, hari ini ada panggung, jaringan dan otoritas yang dimiliki, tapi belum tentu bisa di konversi menjadi elektabilitas.

Kini nampaknya voters behavior di Jambi mengalami pergeseran. Hal ini terlihat dari indikasi stagnasi elektabilitas dan angka golput serta pemilih yang cenderung meningkat. Sebuah Gelembung Sabun yang harus dijawab dengan strategi, bukan hanya rasa percaya diri yang berlebih. Salam.(*)

 

 


Penulis adalah: 1. Peneliti Politik LKPR dan 2. Dosen Ilmu Politik UIN STS Jambi*



Artikel Rekomendasi