Sidak, Kehadiran dan Kinerja



Jumat, 06 Mei 2022 - 12:51:55 WIB



Oleh: Amri Ikhsan*)

Akhirilah liburanmu, bersegeralah kembali ke tempat kerjamu. Ada ‘orang tuamu’ yang ingin melihat keberadaanmu. Mereka membawa ‘pena’ untuk mencatat kehadiranmu. Tugasmu adalah menyiapkan diri untuk siap kerja maksimal demi bangsamu.

Inspeksi mendadak (sidak), turun ke bawah (turba), kunjungan kerja (kunker), kunjungan diam-diam atau apapun namanya, memang harus dilakukan apalagi pasca libur panjang, seperti libur Hari Raya Idul Fitri. Ini biasanya dilakukan oleh para pimpinan ke instansi di lingkungannya. Sidak ini dipastikan merupakan bagian dari pembinaan, bukan untuk mencari kesalahan dan tidak memberatkan pihak yang di-sidak. Kegiatan ini akan sangat berguna jika hasilnya ditindak lanjuti oleh para pelaksana dan dikontrol oleh para pimpinannya.

Sangat diharapkan, sidak yang dilakukan tidak hanya memeriksa absensi ASN, tapi juga menelusuri kinerja ASN secara utuh. Tidak hanya merekap untuk mengetahui ASN mana saja yang kedapatan tidak masuk kerja untuk proses pemberian sanksi administrasi yang akan dilakukan setelah masuk kerja usai libur lebaran. Tapi, memberikan informasi yang menguatkan jati diri sebagai abdi negara.

Sidak ini idealnya tidak hanya mencatat nama nama, jam masuk, alasan kalau belum hadir. Tapi, secara profesional harus dilakukan komunikasi dan diskusi yang komprehensif dan bermakna untuk meningkatkan kinerja yang akan datang. Sidak merupakan ‘entry point’ dan ‘mempersilakan’ ASN untuk memulai produktivitas. Sidak bukan ‘panggung’ untuk ‘marah marah’.

Memang ASN memerlukan motivasi yang bersifat intrinsik maupun ekstrinsik dalam bekerja. Secara umum motivasi instrinsik adalah objek atau kejadian yang timbul dari usaha ASN sendiri, dan tidak menuntut keterlibatan orang lain. Sebaliknya motivasi ekstrinsik merupakan usaha dari pihak lain untuk mendorong ASN untuk produktif dalam menjalankan tugasnya. Kinerja tidak dapat timbul dengan sendirinya, di samping adanya usaha dan kemampuan, kinerja juga dipengaruhi oleh faktor lain. Diyakini, sidak adalah salah satu motivasi  ekstrinsik.

Guru adalah ASN yang diberi tugas khusus sebagai jabatan profesional memiliki tanggung jawab utama mendidik, mengajar, membimbing,  mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah (Kemdikbud). Guru dikondisikan pada posisi garda terdepan dan sangat sentral dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Baik dan berkualitas anak bangsa sangat tergntung pada kualitas dan sistim kerja guru.

Agar kinerja guru dapat meningkat, sidak bisa memberi kontribusi maka kegiatan ini mesti ‘diniatkan’ : (1) untuk mengukur kompetensi guru, (2) mendukung pengembangan professional, (3) untuk menjawab pertanyaan, sudah benarkan guru bekerja di kelas; apa yang telah guru lakukan untuk siswa; apa yang telah guru lakukan untuk sekolah. Oleh karenanya, sistem sidak hendaknya memberikan manfaat sebagai umpan balik untuk memenuhi berbagai kebutuhan di kelas (classroom needs). (Ronald T.C. Boyd dan Shukla S., 2008)

Sidak merupakan bagian dari manajemen kinerja (performance management) itu sendiri (Robert Bacal). Kegiatan ini harus berisi sebuah proses dialog yang berkesinambungan dan dilakukan dengan keakraban untuk menumbuhkan kepercayaan diri dan rasa tanggung jawab para aparatur negara. Dan dimaknai bahwa yang ‘tidak hadir’ di satu hari langsung ‘dicap’ tidak berkinerja atau tidak disiplin.

Sidak harus mendorong, memotivasi dan membuat guru untuk lebih berprestasi dan berkinerja. Orang yang ditugaskan untuk bersidak harus memahami bahwa seseorang akan bekerja keras dan lebih baik apabila 1) merasa bahwa mereka diperlukan dan dipercaya, 2) mereka diberi kebebasan untuk berkreasi dan berinovasi dalam bekerja, 3) mereka mengetahui bahwa mereka memiliki kesempatan berkembang sesuai kemampuan mereka, dan 5) mereka diperlakukan secara hormat dalam menjalankan tugas.

Agar sidak berhasil sesuai dengan tujuan, maka sidak itu harus valid, men-sidak apa yang harus di-sidak. Sidak juga harus relevan, mensidak hal hal yang sesuai tugas dan fungsi guru. Hasil sidak mestinya memiliki akseptabilitas tinggi, bisa diterima dalam hubungannya dengan keberhasilan dari pelaksanaan pembelajaran.Petugas sidak juga memperhatikan reliabilitas, hasilnya dapat dipercaya (konsisten dan stabil), yang dipengaruhi oleh waktu dan frekuensi penilaian. (Wayne F. Cascio)

Jangan sampai, yang dikerja berbeda dengan yang disidak. Tugas utama guru itu, misalnya, mengajar, mendidik, membimbing, melatih, tapi yang disidak ‘laporan’ dan pertanggungjawaban guru sebagai panitia ujian. Diharapkan, sidak itu berefek berkelanjutan, kedisiplinan,  misalnya,  jangan terjadi guru benar benar rajin dan disiplin ‘hanya’ selama ‘petugas’ sidak berada di sekolah/madrasah.

Kemudian, sidak itu berpengaruh pada ‘reward dan punishment’, yang rajin dan disiplin mendapat ‘promosi’ sedang yang tidak disiplin mendapat degradasi. Dan, sidak itu harus dilakukan oleh ‘dokter spesialis’ bukan dokter umum. Kalau yang disidak itu guru, maka ‘tukang sidak’ adalah orang ahli dalam bidang keguruan, memahami manajemen pembelajaran dan menguasai seluk beluk pendidikan.

Disepakati, sidak tentu memiliki banyak manfaat, sebagai referensi untuk pengambilan keputusan penting dan strategis. Sidak bisa sebagai sarana preventif, pencegah timbulnya penyimpangan dalam menjalankan tugas. Dan bisa juga sebagai media represif, usaha mencapai ketaat-azasan dan kedisiplinan menjalankan setiap aktifitas agar memiliki kepastian hukum dan menetapkan perbaikan jika terdapat penyimpangan. (Billows)

Sidak bukan sebuah laporan bahwa ‘seseorang’ sudah bekerja, bukan juga ajang bertemunya ‘atasan dan bawahan’ atau relasi antara ‘si lemah dan si kuat, apalagi, membuat kesimpulan bahwa ‘yang tidak hadir’ pasti tidak disiplin dan harus dihukum, tapi sidak itu harus ‘menguatkan’ pihak yang terlibat, membuat semua pihak berlomba lomba untuk produktif dalam bekerja.

Keberhasilan sebuah sidak bukan terletak pada ‘sangarnya’ petugas saat berkunjung, tapi terletak pada keteladanan pimpinan selama bekerja, pemimpin itu mencontohkan kedisiplinan, misalnya. Dia sendiri yang mencontohkan sikap disiplin. Sidak bukan membuat contoh kedisiplinan, atau mencontoh contohkan sikap disiplin apalagi ‘membaca’ aturan aturan disiplin.

Masih dalam suasana Lebaran, mohon maaf lahir dan bathin. Mari kita mulai bekerja!

*) Penulis adalah Pendidik di Madrasah

 

 





Artikel Rekomendasi