JAMBERITA.COM – Indonesia kini resmi memasuki fase transisi menuju musim kemarau yang diprediksi akan semakin intens. Fenomena penguatan El Nino yang disertai potensi Indian Ocean Dipole (IOD) positif diperkirakan bakal menjadi pengendali utama kondisi cuaca dan iklim di tanah air hingga akhir tahun 2026.
Berdasarkan data terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) indeks Nino 3.4 saat ini telah mencapai +1,61°C dengan status El Nino Advisory (NOAA). Ada peluang sekitar 63 persen fenomena ini akan berkembang menjadi Very Strong El Nino pada periode November 2026 hingga Januari 2027.
Sementara itu, faktor IOD saat ini masih berada di fase netral-negatif dengan nilai Dasarian II Juni sebesar -0,298. Namun, IOD diprediksi berpotensi menguat menuju fase positif pada Agustus hingga Desember 2026.
Ketua Tim Data dan Informasi BMKG Provinsi Jambi, Jaya Sinaga Martuah, memperingatkan dampak serius jika kedua fenomena ini terjadi bersamaan.
"Jika El Nino kuat terjadi bersamaan dengan IOD positif, curah hujan di Indonesia dapat berkurang secara jauh lebih signifikan," ujar Jaya pada Rabu (24/6/2026).
Meski mulai memasuki musim kemarau, Jaya menjelaskan bahwa saat ini wilayah Jambi dan sekitarnya masih sering diselingi hujan karena sifatnya yang merupakan kemarau basah. Saat ini, curah hujan kategori menengah tercatat masih sekitar 51 persen.
Sekitar 36 persen wilayah Indonesia juga masih mengalami sifat hujan normal hingga di atas normal. Kondisi ini dipicu oleh beberapa faktor dinamika atmosfer, antara lain dipengaruhi Madden Julian Oscillation (MJO), gelombang ekuator dan suhu muka laut sekitar Indonesia yang masih hangat.
"Ada beberapa faktor pengendali cuaca yang mendukung terjadinya hujan seperti daerah tekanan rendah di barat Sumatera, suhu muka laut masih hangat, ada pertemuan dan belokan angin. Inilah yang buat awal musim kemarau ada hujan," terang Jaya.
BMKG memprakirakan kemarau pada akhir Juni-Juli bersifat risiko sedang, yakni kemarau mulai berkembang, dan hujan masih sporadis. Kemudian pada Agustus resiko tinggi, sebab kemarau mulai meluas, hujanpun mulai jarang. Lalu September risiko sangat tinggi, dimana kemarau kuat, defisit hujan meningkat.
"Untuk Oktober risiko sangat tinggi, inilah puncak kemarau nasional. Sedangkan di November risiko tinggi, awal musim hujan terlambat dan tidak merata," tutur Jaya.
Pada tahap awal, wilayah yang paling rentan terdampak penguatan kemarau ini meliputi Jawa, Bali, NTB, NTT, Lampung, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, dan sebagian Sulawesi Selatan. Risiko ini diprediksi akan meluas ke sebagian besar wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Maluku pada periode Agustus sampai Oktober.
BMKG juga meminta masyarakat dan pemerintah daerah untuk mewaspadai sejumlah dampak berupa kekeringan Meteorologis: Meluasnya peringatan dini kekeringan di berbagai daerah.
Krisis Air bersih: Penurunan drastis debit air sungai dan waduk. Serta Karhutla: Meningkatnya titik panas (hotspot) dan risiko kebakaran hutan, terutama di lahan gambut Sumatera dan Kalimantan. Sedangkan pada sektor Pertanian: Gangguan produksi pangan akibat musim tanam kedua yang berpotensi terkendala pasokan air irigasi.
Menghadapi ancaman kemarau yang cukup kuat tahun ini, Jaya menegaskan pentingnya langkah mitigasi dan kesiapsiagaan sejak dini.
"Kami merekomendasikan penguatan pemantauan cuaca dan sistem peringatan dini. Selain itu, perlu disiapkan strategi pengelolaan sumber daya air yang matang, peningkatan kesiapsiagaan karhutla, serta penyesuaian kalender tanam sebagai langkah adaptasi bagi para petani," pungkasnya. (tts)
Jambi Memasuki Transisi Kemarau, Agustus Hingga Oktober 2026 Diperkirakan Menjadi Risiko Tinggi
Heboh! Terdakwa Dirtek dan Manajer ULP PDAM Tirta Mayang Diduga Jadi Tumbal?
Al Haris Tinjau SAMSAT Tebo: Tekankan Pelayanan Nyaman, Inovasi Pajak, dan Integritas Petugas
Hadiri FGD Kampung Batik Ulu Gedong, Kanwil Kemenkum Jambi Dorong Pelindungan KI Batik Lokal
Tiga Kabupaten, Tujuh Rancangan Regulasi Dibahas dalam Rapat Harmonisasi Kanwil Kemenkum Jambi
Jambi Memasuki Transisi Kemarau, Agustus Hingga Oktober 2026 Diperkirakan Menjadi Risiko Tinggi

