JAMBERITA.COM - Pekik perlawanan terhadap ketidakadilan yang menimpa Suku Anak Dalam (SAD) menggema di ruang pertunjukan Gedung RRI Jambi, Sabtu (27/6/2026). Dalam momentum Festival Raden Hamzah bertajuk "Rimba yang Bersuara", tokoh perempuan Jambi sekaligus istri mendiang mantan Gubernur Jambi Zulkifli Nurdin, Ratu Munawaroh, menyuarakan kritik tajam atas marginalisasi yang dialami oleh masyarakat adat.
Ratu Munawaroh, yang saat ini juga menduduki posisi strategis di DPD PDI Perjuangan Provinsi Jambi, menegaskan bahwa perjuangan membela Suku Anak Dalam bukan sekadar masalah humanisme, melainkan utang sejarah dan ekologis yang harus dilunasi oleh negara.
Bagi masyarakat Jambi, nama Raden Hamzah adalah simbol keberanian melawan kolonialisme Belanda. Namun, yang jarang disadari oleh generasi hari ini adalah adanya ikatan emosional dan militer yang luar biasa antara Raden Hamzah dengan Suku Anak Dalam di masa lalu. Masyarakat rimba bukan penonton sejarah; mereka adalah garda terdepan yang ikut angkat senjata demi mempertahankan tanah leluhur.
Atas dasar rekam jejak yang heroik tersebut, Ratu Munawaroh secara resmi memberikan dukungan penuh agar Raden Hamzah diusulkan sebagai Pahlawan Nasional. Dukungan nyata ini dibuktikan dengan pembubuhan tanda tangan resmi di sela-sela acara festival.
"Perjuangan Raden Hamzah dan Suku Anak Dalam adalah fakta sejarah yang luar biasa. Sudah sepatutnya seluruh masyarakat Jambi dan Indonesia tahu bahwa rimba ini pernah bersuara melawan penjajah. Kami mendukung penuh pengusulan beliau sebagai Pahlawan Nasional," ujar Ratu Munawaroh dengan nada takzim.
Namun, di balik romantisme sejarah tersebut, Ratu Munawaroh memotret realitas kelam yang hari ini dihadapi oleh saudara-saudara SAD. Ruang hidup mereka kian menyusut. Tanah-tanah adat yang telah dijaga turun-temurun kini terpinggirkan, bahkan diduga kuat dirampas secara sepihak oleh kepentingan oligarki.
Lebih ironis lagi, ketika masyarakat adat mencoba memperjuangkan hak fundamental mereka secara hukum maupun fisik, mereka kerap kali "dikalahkan" oleh sistem.
"Berdasarkan beberapa laporan jurnalis yang saya baca, konflik lahan ini bahkan telah menelan korban jiwa. Ini adalah ketidakadilan yang sangat nyata dan tidak boleh dibiarkan! Di sinilah fungsi, peran, dan kehadiran pemerintah sangat diuji," tegas politisi perempuan PDI Perjuangan tersebut.
Ratu Munawaroh juga menantang stigma negatif publik yang sering menganggap Suku Anak Dalam sebagai kelompok masyarakat yang "terbelakang" hanya karena tidak menempuh pendidikan formal atau kuliah di luar negeri.
Menurutnya, peradaban dan nilai berkebudayaan tidak bisa diukur dari selembar ijazah, melainkan dari bagaimana sebuah komunitas mampu menjaga keberlanjutan ekosistem demi masa depan bumi.
Adapun kelebihan Eksklusif SAD yang kerap diabaikan, yaitu Arsitek Ekosistem. Mereka dinilai memiliki pemahaman mendalam tentang tanda-tanda alam dan cara menjaga hutan agar tetap berkelanjutan.
Farmakologi Tradisional, SAD menguasai pengetahuan mutakhir tentang tanaman obat (herbal) langsung dari dalam rimba yang belum tentu dimiliki masyarakat modern.
Selanjutnya kata Ratu, yaitu Hukum Adat Ekologis, SAD memiliki prinsip hidup yang membatasi keserakahan guna menjaga keseimbangan alam. ?"Jika ada yang punya mindset bahwa SAD itu terbelakang, Anda salah besar! Mereka sesungguhnya sangat maju dalam bidang yang mereka miliki. Mereka tahu cara merawat bumi agar tidak murka," tuturnya.
Kritik Ratu Munawaroh bukan tanpa alasan. Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda beberapa wilayah Jambi termasuk bencana sumatera beberapa waktu lalu, dinilainya sebagai dampak langsung dari keserakahan manusia yang merusak alam sebuah konsekuensi yang sebetulnya sudah lama diperingatkan oleh Suku Anak Dalam.
Ia mendesak agar pemerintah dalam hal ini pengambil kebijakan segera mengevaluasi kebijakan agraria dan menghentikan eksploitasi hutan atas nama pembangunan yang serampangan. "Kembalikan tanah hak adat mereka! Kembalikan hutan mereka! Jangan lagi ada proyek-proyek pembangunan di kawasan tersebut yang berjalan tanpa adanya feasibility study (studi kelayakan) yang jelas dan berpihak pada lingkungan," tuntut Ratu.
Melalui Festival Raden Hamzah "Rimba yang Bersuara" ini, Ratu Munawaroh berharap seluruh elemen masyarakat, khususnya pemangku kebijakan, dapat membuka mata. Menyelamatkan Suku Anak Dalam dan hutan Jambi bukan lagi sebuah pilihan, melainkan kewajiban mutlak demi mencegah kehancuran ekologis yang lebih besar di masa depan.(afm)
Ratu Munawaroh : Kembalikan Hak Atas Tanah Suku Anak Dalam, Hentikan Keserakahan Oligarki!
SAH Tegaskan Komitmen Dukung Percepatan Hilirisasi Pertanian Nasional
IW Soroti Jalan Nasional di Jambi : Jangan Biarkan Jadi Beban Ekonomi Daerah
Tausiyah untuk Kader, SAH Ingatkan Pentingnya Menjaga Kepercayaan Masyarakat
MBG Gerakkan Ekonomi Daerah, SAH Ingatkan Dampak Besar Jika Dihentikan
Pemprov Jambi Suport Pejuang Lokal, Raden Hamzah Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional

